(Kisah Rohani) Anak Durhaka Bagian : 1

neraka-001

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka kedu “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua Telah mendidik Aku waktu kecil”. ( Al Isroo’ / 23 sd 24 )

Seandainya Tuhan tidak melindungi semua orang tua di seluruh muka bumi ini dari kedurhakaan anak-anaknya, entahlah kita tidak bisa membayangkan apa jadinya nasib para orang tua. Tentu banyak orang tua yang ditelantarkan oleh anak-anaknya karena orang tua pasti akan mengalami penuaan sehingga tubuhnya lemah tanpa daya. Tentu anak-anaknyalah yang menjadi tumpuan untuk merawat dirinya. Itulah sebabnya Allah memerintahkan manusia jangan menyembah selain Dia.

Dan juga memberi perintah kepada seluruh anak-anak manusia agar berbuat baik kepada ibu dan bapaknya dan sekali-sekali jangan sampai bilang “ah” terhadap kedua orang tuanya. Perlindungan Allah terhadap seluruh orang tua di muka bumi tanpa terkecuali. Entah orang tua tersebut taat atau tidak taat terhadap Tuhannya. Namun demikian tidak semua orang tua mengalami nasib mujur yaitu mendapat perlakuan baik dari anak-anaknya. Karena sering kita melihat, mendengar ada orang tua yang terlantar hidupnya karena telah disia-sia oleh anak yang dulu ia rawat ia besarkan dengan penuh kasih sayang. Betapa sedihnya orang tua yang mengalami nasib demikian.

Tidak hanya itu, bahkan ada orang tua yang mengalami nasib dari ulah keji anak kandungnya sendiri dalam bentuk penyiksaan physic bahkan sampai ke pembunuhan. Seperti halnya dalam kisah berikut yang kami beri judul ANAK DURHAKA yang mana di dalamnya mengisahkan betapa seorang ibu harus tewas dengan cara yang menyedihkan ditangan anak kandungnya sendiri. Bagaimana kisah selengkapnya ? Ikutilah kisahnya.

Di suatu tempat yang jauh dari pusat kota, hiduplah suatu keluarga yang harmonis dimana hubungan para anggauta keluarga antara satu dengan yang lainnya saling menyayangi. Pasangan suami isteri yang dikarunia 4 orang anak yang patuh dan bhakti kepada orang tuanya. Resi Jamadagni yang kebetulan sebagai kepala keluarga dan sekaligus seorang ayah dan suami yang sholeh. Ia sangat rajin beribadah, sehingga sebagian besar hidupnya diabdikan untuk puja semedi ( bertafaqur ) untuk lebih mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta Jagad ini. Itulah sebabnya ia dikenal sebagai orang sakti yang linuwih karena mendapatkan anugerah ilmu dari Gustinya.

Sayangnya kesholehan sang resi tersebut tidak diimbangi oleh isterinya yang cantik yang suka bersolek mempercantik diri. Ulah sang isteri ini sangat berbeda jauh dengan suaminya yang ahli beribadah, bagaikan bumi dan langit. Sang isteri yang bernama Dewi Renuka selain suka bersolek tapi juga suka pergi plesiran dan bergaul dengan orang-orang yang mempunyai kesukaan yang sama bagaikan orang bebas yang tidak terikat oleh kewajiban-kewajiban sebagai ibu rumah tangga yang cinta kepada keluarganya. Beruntungnya Dewi Renuka yang suka plesiran tersebut tidak mendapat halangan dari suami dan 4 orang puteranya. Dewi Renuka yang bersuamikan Resi Jamadagni memang dikarunia 4 orang anak dan dari 4 orang anak-anaknya tersebut kebetulan anak yang paling bungsulah yang paling disayang oleh ayah dan ibunya. Mungkin karena kebetulan lahir paling bungsu dan secara kebetulan wajahnya tampan dan juga setiya tuhu pada ke dua orang tuanya. Dewi Renuka walaupun suka plesiran dan hura-hura diluaran namun tidak pernah sedikitput melalaikan kasih sayangnya sebagai seorang ibu terhadap anak-anaknya. Khususnya terhadap putera bungsunya yang bernama Rama Bargawa. Apa yang dilakukan Dewi Renuka mungkin karena menghilangkan rasa jenuhnya atau karena sebab lain yang jelas perilaku Dewi Renuka tidak bisa mengimbangi perilaku sang suami yang sholeh dan taat pada paugeraning urip ( tatanan hidup ). Kian hari kelakuan Dewi Renuka tidak bertambah baik tetapi justru malah kian menjadi-jadi saja. Yang semula kalau keluar rumah hanya sekedar mencari hiburan untuk menghilangkan kejenuhan di rumah dengan hanya sekedar bertemu dengan teman-teman bermainnya semasa kecil dan itupun sebatas pada teman-teman wanitanya saja. Kemudian meningkat tidak hanya sebatas dengan teman-teman wanitanya saja tetapi juga teman-teman prianya yang pernah ia kenal semasa masih gadis. Dan itupun sebatas pada sekedar reuni mengenang masa-masa ketika belum terikat sebagai isteri orang yang penuh dengan larangan-larangan yang ditabukan. Disaat bertemu dengan teman-teman pria dan teman wanita masa-masa muda itulah Dewi Renuka merasa menemukan kehidupan baru. Rasa sepi dihati dan kejenuhan yang selalu menggeluti dirinya seakan sirna berubah menjadi suasana yang menggembirakan. Seakan kerinduan akan masa-masa penuh kebebasan telah datang. Ibarat rasa haus yang sudah menduri ditenggorokan hilang karena mendapatkan minuman segar dari telaga sejuk. Hal itu dapat dimaklumi. Karena sejak Dewi Renuka dipersunting oleh Resi Jamadagni, maka sejak saat itu pula ia kehilangan masa-lajangnya dan sekaligus kehilangan kebebasannya. Betapa tidak, ia yang biasanya leluasa bermain, berkumpul serta bertamasya dengan teman-teman sejawat baik teman pria maupun wanita kemudian berubah menjadi seorang isteri yang dibatasi oleh ethika yang melarang dirinya berbuat seenaknya. Awal mula dalam memasuki jenjang rumah tangga bersama Resi Jamadagni, ia merasa tidak kesulitan merubah kebiasaannya yang suka hidup bebas penuh dengan hura-hura bersama teman-temannya menjadi seorang isteri yang terikat dan terbatas segala geraknya. Karena dengan suaminya itu ia merasa mendapatkan kebahagiaan lahir batin sebagai ganti kesenangan dan kebebasan yang ia peroleh manakala bersama dengan teman-temannya. Selain suaminya itu tampan juga sholeh dan dikenal sebagai pemuda yang tidak pernah berbuat macam-macam sebagaimana layaknya pemuda-pemuda pada umumnya. Tidaklah berlebihan jika dapat dikatakan bahwa Dewi Renuka sangatlah beruntung diperisteri oleh Resi Jamadagni. Kenapa demikian ? Karena banyak gadis-gadis yang berharap dapat kepilih menjadi pasangan hidup Resi Jamadagni. Selaian sudah mapan hidupnya karena sudah memiliki pekerjaan bagus , Resi Jamadagni juga tampan dan tekun beribadah. Gadis mana yang tidak tertarik dengan pemuda tampan, cerdas, pendiam, sudah mapan hidupnya ditambah lagi tekun beribadah. Itulah sebabnya Dewi Renuka merasa beruntung dapat menyisihkan banyak gadis yang berlomba agar dipilih oleh Resi Jamadagni. Awal-awal perkawinannya ia lalui bersama suami tercintanya penuh dengan keharmonisan dan kebahagiaan. Selain sang suami penuh pengertian juga setia. Apapun yang ia minta pasti dipenuhinya. Ia dibimbing dengan sabar tentang pendidikan ruhani yang baik. Yang membuat ia bangga adalah suaminya itu tidak hanya memberikan nasihat-nasihat saja dalam kehidupan beragama tetapi juga memberikan contoh-contoh nyata dengan bentuk perilaku. Terlebih lagi waktu itu belum memiliki momongan, sehingga hari-hari dihabiskan dengan bermesra-mesraan bersama sang suami. Untuk apa mencari kesenangan atau hiburan keluar rumah kalau di rumah sudah ia dapatkan. Untuk apa memikirkan ketampanan, kesuksesan hidup pria lain kalau dirumah sudah ia dapatkan suami yang memiliki hal-hal seperti itu. Di dalam hubungan sebadan pun ia terpenuhi dari suaminya. Singkatnya saja Dewi Renuka waktu itu bagaikan hidup di dalam surga yang hanya ia tinggali berdua dengan suaminya Resi Jamadagni bagaikan Adam dan Hawa. Tetapi segala sesuatu itu pasti ada batasnya. Ada awal tentu ada akhir. Hari berganti minggu dan minggu pun berganti bulan dan bulan pun merangkak hingga berganti tahun. Setelah hari-hari dilalui Dewi Renuka dengan suami yang sangat mencintainya akhirnya lahirlan putera yang pertama kemudian disusul dengan kelahiran putera berikutnya hingga putera bungsu yang bernama Rama Bargawa. Walau akhirnya ada kesibukan yang bertambah dengan adanya anak-anak yang membutuhkan perhatian dan kasih sayang orang tuanya khususnya belaian kasih seorang ibu sehingga berkuranglah perhatian Dewi Renuka kepada sang suami, namun itu tidak mengurangi rasa cinta dari Resi Jamadagni terhadap isterinya. Justru Resi Jamadgni semakin bertambah-tambah cintanya terhadap isterinya . Karena dari isteri yang ia cintai telah melahirkan buah hati yaitu anak-anak yang tampan. Pun dalam kebiasaan puja semedi ( bertafakur ) terhadap Gustinya makin khusyuk saja sebagai rasa bersyukur atas segala nikmat yang telah ia dapatkan. Hari-hari dilaluiJamadagni dengan sering menyepi diri menghindari gemerlapannya dunia yang sering membuat seorang titah lupa. Yach.. luppa terhadap Gustinya. Karena biasanya manusia itu jika sudaah tenggelam dalam kenikmatan maka ia lupa bahwa nikmat dunia itu hanya sementara, semu dan fatamorgana. Karena saking asyiknya bergelimang dilautan nikmat dunia banyak manusia yang tenggelam di dalamnya sehingga tidak lagi mampu berenang ketepian kesadaran. Sadar betapa suatu saat manusia itu akan mati. Alangkah sengsaranya manusia di alam kelanggengan kelak jika saat hidup di dunia waktunya dihabiskan untuk bersenang-senang memburu waktu mengejar nafsu. Sehingga sdh tidak waktu lagi untuk berpikir bagaimana nanti nasibnya setelah mati. Bagaimana mau berbuat kebajikan untuk akheratnya sedangkan memikirkan akheratnya saja tidak pernah. Untuklah mengapa Resi Jamadagni tidak mau terlena agar tidak terpeleset jauh ke jurang kenikmatan yang hanya fatamorgana. Bagi Resi Jamadagni, Isteri dan anak-anak adalah amanah dan sekaligus sumber fitnah. Akan menjadi amanah kalau suami mampu mengelola rumah tangga dengan baik. Yakni, seorang suami harus mampu memfungsikan diri sebagai suami bagi isterinya dan sebagai ayah bagi anak-anaknya. Karena ada juga seorang suami tetapi tidak bisa memfungsikan dirinya sebagai suami tetapi sebagai tuan atau bos rumah tangga. Isteri dianggap sebagai pajangan atau asesoris dalam kehidupan berumah tangga dan bahkan dianggap sebagai pemuas nafsu suami atau sarana penerus keturunan. Demikian juga sebagai seorang ayah dari anak-anaknya terkadang ada yang tidak bisa memfungsikan dirinya sebagai seorang ayah. Karena anak dianggap sebagai modal masa depan untuk harta atau marganya. Ayah yang demikian biasanya anak dianggap investasi masa depan. Anak-anaknya dituntut untuk menjadi orang yang berpangkat, atau sukses kehidupannya dimasa depannya. Untuk itu banyak sang ayah yang tidak pelit untuk mengeluarkan beaya banyak untuk menyekolahkan anak-anaknya agar dikehidupannya kelak menjadi orang yang sukses. Jika seorang kepala keluarga mampu memfungsikan diri sebagai seorang suami bagi isterinya dan sebagai ayah bagi anak-anaknya, maka isteri dan anak akan menjadikan rohmat bagi keluarganya. Sebaliknya, jika seorang kepala keluarga tidak mampu memfungsikan dirinya sebagai suami bagi isteri dan ayah bagi anak-anaknya, maka isteri dan anak-anak yangdimilikinya akan mendatangkan fitnah bagi dirinya. Hal ini juga berlaku untuk isteri adan anak-anak. Seorang wanita harus dapat memfungsikan dirinya sebagai isteri bagi suami dan ibu bagi anak-anaknya. Pun demukian pula sebagai anak. Harus mampu memfungsikan dirinya sebagai seorang anak yang harus berbakti kepada kedua orang tuanya. Jika masing-masing elemen rumah tangga seperti ayah sebagai kepala keluarga, isteri dan anak-anak mampu memfungsikan dirinya masing-masing maka dapat dipastikan akan menjadi keluarga yang sakinah , mawa’dah dan warohmah. Dan sebaliknya jika tidak mampu memfungsikan dirinya masing-masing maka akan menjadi keluarga yang penuh dengan petaka. Sebab yang namanya keluarga harus ada satu kesatuan dari elemen-elemen yang ada di dalamnya atau dalam arti katalain tidak terpisahkan satu sama lain dengan keperluannya sendiri-sendiri. Kembali kepada Dewi Renuka, yang kian hari kehidupannya sudah mulai terpeleset ke dalam dunia angan. Dewi Renuka yang dulu setya tuhu kepada suami kini telah berubah menjadi seorang isteri yang tidak peduli lagi dengan tatanan kehidupan sebagai seorang ibu rumah tangga. Dia sudah mulai bermain api dengan pria lain yang dianggap mampu membuat dirinya yang sedang haus kasih sayang dan perhatian dari laki-laki. Dulu dia merasa bangga terhadap suaminya yang tampan dan rajin beribadah. Tetapi sekarang ia merasakan bahwa tampan dan rajin beribadah saja tidak cukup. Tetapi juga butuh perhatian dan kasih sayang dari pasangan hidupnya. Hal ini dapat dimaklumi. Karena saking genturnya puja semedi ( bertafakur ) sehingga waktu yang dimiliki oleh Resi Jamadagni untuk keluarganya banyak berkurang. Bagi Resi Jamadagni, apa yang dilakukan itu demi keluarganya agar anak-anak kelak menjadi anak yang baik dengan do’a-do’a yang selalu ia panjatkan kepada Dzat Yang Maha Kuasa. Dalam pikiran Jamadagni, semakin tua usia manusia dan semakin tinggi ilmu yang dimilikinya, maka hubbud dun-yaa ( kecintaan terhadap dunia ) harus semakin dikurangi. Maka tidak heran jika Resi Jamadagni dianggap berubah sikap oleh Dewi Renuka. Bagi Dewi Renuka perubahan sikap suaminya itu dianggap sudah tidak perhatian lagi kepada dirinya. Apa artinya suami tampan dan tekun beribadah jika tidak memahami apa yang dibutuhkan olehnya yakni kasih saying dan perhatian. Dia berharap suaminya kembali seperti dulu yang selalu memadu kasih dan penuh perhatian kepada dirinya. Bukannya waktu dihabiskan hanya untuk puja semedi saja. Inilah kesalahan Resi Jamadagni yang kebanyakan juga dialami oleh para suami di dunia. Harusnya Resi Jamadagni mampu waktu membagi waktu untuk keluarga dan juga untuk Gustinya. Jika Dewi Renuka bias mengimbangi ketekunan suaminya dalam beribadah, tidaklah masalah. Tetapi Dewi Renuka tidak mampu mengimbangi dan malah melangkah jauh menyimpang dari kesetiaan. Hari itu Dewi Renuka pamit kepada suami dan anak-anaknya bahwa ia terpaksa menginap dirumah teman wanitanya yang katanya ada hajadyang membutuhkan bantuannya. Dan anak-anaknya pun mengerti. Kepada anak-anaknya ia berpesan agar jika ayahnya nanti bertanya tentang dirinya agar menyampaikan seperti yang ia katakan. Karena Resi Jamadagni jika sudah asyik dalam puja semedi maka tidak bias diganggu sehingga ia tidak ada kesempatan untuk meminta idzinnya. Akhirnya malam itu Dewi Renuka benar-benar tidak pulang ke rumah karena membantu temannya yang lagi punya hajat seperti yang ia ceritakan kepada anak-anaknya. Tetapi benarkah Dewi Renuka menginap di rumah temannya karena ikut membantu temannya yang lagi punya hajat ? Ternyata tidak. Justru malam itu Dewi Renuka menghabiskan waktunya bersama pria lain yang telah membuat dirinya mabuk kepayang. Malam itu Dewi Renuka benar-benar nekat menghianati suami yang sangat mencintai dirinya, Dewi Renuka juga menghianati kepercayaan dari anak-anaknya yang meyakini bahwa ibunya adalah seorang isteri dan ibu yang mereka banggakan. Selain itu Dewi Renuka juga telah merobek harkat hidupnya sendiri hanya demi setetes nikmat yang ingin ia dapatkan. Malam itu Dewi Renuka benar-benar telah lupa daratan. Ibarat orang yang sedang kehausan dipadang gersang kemudian mendapatkan seteguk air penghilang dahaga. Terlebih lagi airtersebut adalah anggur yang mahal dan berkwalitas. Pun demikian yang sedang menjadi pengobat dahaga Dewi Renuka adalah seorang pria yang bukan sembarang pria. Selingkuhan Dewi Renuka tersebut adalah seorang pejabat pemerintahan atau pejabat Negara. Tidak hanya pejabat bahkan pria tersebut adalah pemimpin Negara. Utulah mengapa Dewi Renuka sampai nekat melanggar pertimbangan nalarnya sendiri. Menurutnya, pria selingkuhannya ini setimpal dengan hukuman yang ia terima jika ketahuan keluarganya yakni suami dan anak-anaknya. Mungkin mereka akan marah dan mengusir dirinya karena merasa dipermalukan atas perbuatannya. Siapakah sebenarnya pria selingkuhan Dewi Renuka? Dan bagaimana Dewi Renuka yang tinggal dipelosok desa sampai kenal dengan pemimpin Negara dimana ia tinggal ? Pria selingkuhan Dewi Renuka tersebut adalah seorang pria sekaligus seorang raja yang tampan yang bernama Prabu Citrarata.  Ketampanan Prabu Citrarata sudah terkenal   diseluruh negeri. Bahkan di desa-desa dan dipelosok negeri dimana Prabu Citrarata banyak wanita yang kagum akan ketampanan raja tersebut. Saking kagumnya para wanita kepada raja tersebut, sampai-sampai hanya sekedar mimpi menjadi kekasih raja tersebut pun sudah merasa puas. Apalagi kalau benar-benar menjadi kekasih dan dapat memadu kekasih dengannya, Oh..alangkah bahagianya hati ini. Begitulah kira-kira khayalan para wanita dinegeri dimana Prabu Citrarata memerintah. Dan diantara sekian wanita yang hanya bisa berkhayal menjadi kekasih Raja negeri itu tidaklah demikian untuk Dewi Renuka. Dia justru malah bias memadu kasih bersama raja tampan tersebut. Seperti malam itu dimana dia telah membohongi suami dan anak-anaknya dengan beralasan membantu teman dekatnya yang lagi punya gawe. Padahal cerita sebenarnya Dewi Renuka sedang melakukan kencan dengan raja yang bernama Citrarata di suatu tempat yang telah disepakati bersama. Dasar Raja Citrarata memang pejabat pemerintah yang suka bermain dengan wanita, maka ketika ada seorang wanita yang tergila-gila dengannya maka bagai gayung bersambut. Selain Dewi Renuka adalah seorang wanita yang cantik juga bukan wanita biasa. Citrarata tahu bahwa Dewi Renuka adalah isteri dari seorang pertapa yang sangat disegani dan terkenal dengan kesaktiannya. Jadi menurut Raja Citrarata Dewi Renuka adalah pasangan selingkuh yang setimpal dengan kedudukannya sebagai raja. Bagi raja itu Dewi Renuka dianggap wanita hebat yang cantik yang sedang kesepian karena sang suami telah menghabiskan waktunya untuk puja semedi ( bertafakur ). Lantas bagaimana ceritanya sehingga Dewi Renuka sampai bias melakukan kencan dengan raja tersebut ? Peristiwa itu diawali ketika sang raja melakukan peninjauan ke wilayah pemerintahannya yang kebetulan berada di daerah Dewi Renuka tinggal. Karena yang melakukan peninjauan adalah pimpinan negeri maka tidak heran diadakan penyambutan besar-besaran dengan perjamuan yang mewah dari rakyat yang dikunjunginya. Penyambutan yang berbentuk tari-tarian, kemudian hidangan-hidangan yang lezat untuk raja dan para punggawa kerajaan tentu melibatkan kiprah dari panitia hati penyambutan. Nah, pada saat itulahDewi Renuka yang kebetulan juga termsuk team panitia penyambutan yang kemudian kenal dengan Raja Citrarata. Memang sengaja Dewi Renuka melibatkan diri menjadi anggauta panitia karena ingin tahu kebenaran tentang ketampanan raja Citrarata. Dan setelah ia membuktikan diri ketemu dengan raja tersebut, maka terkesimalah hati Dewi Renuka kepada raja tersebut. Jerat-jerat asmara pun mulai terajut di dalam hatinya. Jatuh hatilah Dewi Renuka kepada tamu yangia sambut tersebut. Nampaknya jerat asmara yang sedang dirasakan oleh Dewi Renuka juga di rasakan oleh Citrarata sang penguasa negeri. Ketika bertemu pandang dengan Dewi Renuka saat menyambut kedatangan dirinya, dia mengagumi kecantikan Dewi Renuka sehingga timbul rasa ingin tahu lebih lanjut siapakah sebenarnya wanita tersebut. Bagi Citrarata hal itu sangatlah mudah karena sebagai penguasa ia tentu memiliki kekuasan untuk menyuruh telik sandi ( kalau sekarang badan intelejen ) agar menyelidiki wanita yang telah memikat hatinya. Dari laporan telik sandi itulah maka Citrarata tahu bahwa wanita yang telah membuat dirinya terhanyut dalam sungai syahwat itu bernama Dewi Renuka dan juga isteri seorang pertapa sakti. Sebagai pemimpin negara yang memiliki kekuasaan mutlak tidaklah sulit bagi Citrarata untuk mendapatkan wanita yang ia inginkan walaupun wanita tersebuttelah bersuami. Singkat cerita akhirnya dengan skenario dari badan intelejennya (telik sandinya), Citrarata dapat berkomunikasi dan berkenalan dengan Dewi Renuka. Dari perkenalan itulah kemudian dilanjut dengan yang semula hanya sebatas surat menyurat karena jaman dulu belum ada hp sehingga tidak bias sms. Dari surat menyurat itu mereka saling mencurahkan isi hati masing-masing dengan rayuan-rayuan yang membahana tentunya. Mereka telah lupa bahwa masing-masing telah dibatasi oleh paugeraning urip ( moral ethika ). Jika nafsu telah menjajah manusia, maka akal sehat sebagai penerjemah lakuning urip ( pedoman hidup ) sudah tidak berfungsi.

Karena tidak berfungsinya akal oleh sebab tertutup oleh nafsu itulah maka sampai Dewi Renuka rela menerjang pagar beton mahligai rumah tangga sehingga pada malam dimana Dewi Renuka pamit kepada anak-anaknya untuk menginap di rumah teman ternyata digunakan untuk berkencan. Malam itu pasangan yang bukan suami isteri telah bertemu dan saling mencurahkan rindu memadu hasrat. Dewi Renuka bagaikan burung yang lepas dari sangkar sehingga terbang bebas untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Bagi Citrarata dalam berkencan dengan Dewi Renuka tidaklah sesuatu yang asing. Karena raja tampan itu sudah terbiasa melakukan selingkuh dengan banyak wanita. Tetapi bagi Dewi Renuka perselingkuhan yang ia lakukan pada malam itu adalah perselingkuhan yang baru pertama kali ia lakukan. Awalnya ia penuh dengan perasaan takut untuk melakukan hubungan dengan pasangan yang bukan suaminya itu. Tetapi karena rasa kesepian dan haus akan belaian tangan laki-laki lah sehingga mampu mengusir rasa takut dan jengah. Ditambah lagi pasangan selingkuh yang tampan dan pejabat tinggi malah semakin menguatkan tekad Dewi Renuka.
Pendek kata malam itu Dewi Renuka benar-benar mendapatkan kepuasan yang tiada tara dari Citrarata. Semalaman waktunya mereka gunakan untuk memadu kasih menyingkirkan risih demi hasrat yang ingin diraih. Dalam benak Dewi Renuka merasa nyaman dan tidak khawatir akan dicari anak-anak karena tidak pulang ke rumah karena ia telah ijin kepada mereka dengan alasan tidur di rumah teman wanitanya.
Tetapi benarkah apa yang diperkirakan oleh Dewi Renuka bahwa dirinya tidak diketahui oleh keluarganya ? Ternyata perkiraan Dewi Renuka salah. Karena diam-diam anak bungsu Dewi Renuka yang bernama Rama Bargawa mengawasi dan mengikuti kepergian ibunya. Rama Bargawa curiga ibunya telah berbuat yang tidak benar sehingga menghianati kesetiaan ayahnya. Selain itu akhir-akhir ini ibunya kurang begitu perhatian kepada dirinya. Dulu hampir tiap hari Rama Bargawa tidak pernah sejenak pun lepas dari perhatian ibu yang ia cintai itu. Karena saking cintanya sang ibu kepada dirinya sebagai anak bungsu. Tetapi akhir-akhir ini ibunya itumenunjukkan perilaku yang berbeda. Sering melamun dan menyendiri. Karena melihat perubahan sikap dari ibunya itulah maka Rama Bargawa berusaha menyelidiki apa yang menjadi penyebabnya. Maka ketika ibunya minta ijin untuk tidak pulang ke rumah pada malam itu, diam-diam Rama Bargawa mengikuti kepergian sang ibu dengan tanpa diketahuioleh ibunya. Setelah tahu dengan mata kepala sendiri bahwa ibunya telah berselingkuh dengan seorang pria yang tidak lain adalah seorang raja yang bernama Citrarata yang sudah ia ketahui sebaga raja yang terkenal ketampanannya dan tukang selingkuh. Ingin rasanya saat itu Rama Bargawa memenggal kepala Citrarata begitu tahu telah menyelingkuhi ibunya. Terhadap ibunya Rama Bargawa timbul rasa kecewa yang sangat besar sehingga tumbuh kebencian yangmembara. Kalau tidak mengingat betapa ia sangat mencintai ibunya maka sepasang laki-laki dan perempuan yang selingkuh tersebut dihabisi nyawa keduanya.
“Oh…dewa…dewa, sungguh tiada aku sangka ibu yang aku pundi-pundi, ibu yang aku cintai dan ibu yang aku anggap sebagai panutan para isteri-isteri di dunia ini ternyata tega melakukan perbuatan yang sangat hina.” Sambat-sambat hati Rama Bargawa kepada Dewa.

Dengan hati hancur penuh dengan kekecewaan Rama Bargawa akhirnya pergi meninggalkan tempat dimana ibunya berselingkuh. Tubuhnya terasa limbung seakan kakinya sulit untuk melangkah. Walau dengan langkah gontai akhirnya ia sampai di rumah dengan masih memendam rasa penuh campur aduk antara fakta dan harapan. Antara marah, benci dan cinta kepada ibu yang telah melahirkannya. Harapannya ibunya sangat setia kepada ayahnya tetapi fakta membuktikan bahwa ibunya telah berkhianat. Ia benci dan sangat benci melihat fakta ternyata ibunya telah mengecewakannya. Terutama telah mengecewakan kepercayaan ayahnya. Tapi, ia juga sangat mencintai ibunya. Berbagai macam pikiran berkecamuk menjadi satu antara akankah ia melaporkan perbuatan ibunya itu kepada ayahnya. Dan jika nanti ia melaporkan perbuatan sang ibu kepada ayahnya entah hukuman apa yang akan dilakukan ayahnya terhadap wanita yang telah melahirkan dirinya. Namun jika tidak ia sampaikan perbuatan ibunya itu kepada ayahnya ini sama artinya ia telah membiarkan penghianatan.
“Duh..Gusti, apa yang musti hamba lakukan atas kejadian ini. Kenapa hambamu ini harus menanggung derita yang sangat berat hamba sandang. Oh…dewa..dewa, jika harus mati sekarang pun hamba rela daripada harus menanggung derita seperti ini.” Rintih Rama Bargawa.
Disaat merintih itu karena tidak kuat menahan beban yang ada dalam hatiny maka tiba-tiba :
“Brak !” suara meja yang pecah karena dipukul oleh Rama Bargawa untuk melampiaskan kekesalannya.
“Oh…ibu…ibu, wanita yang aku agul-agulkan, wanita yang aku puja dan aku pundi-pundi, entah setan apa yang telah menghinggapi dirimu sehingga tega berbut senista itu. Oh…hmmmm….. Entah hukuman apa yang akan ditimpakan kepadamu oleh ramanda nanti sesndainya mengetaahui perbuatan ibu yang telah merobek kesetian dalam berumah tangga.” Keluh Rama Bargawa pebuh dengan amarah.
Setelah bisa melampiaskan kekesalannya dengan memukul meja hingga pecah, maka kemarahan Rama bargawa agak sedikit mereda.
Akhirnya ia memutuskan bahwa cukup dia saja yang tahu akan perbuatan ibunya. Api dendam dan kekecewaan hati Rama Bargawa untuk saat ini masih dapat diredam dengan penuh pertimbangan untuk melindungi ibunya. Walau pun ia sadar bahwa sebenarnya perbuatan tersebut adalah salah.
Akhirnya malam itu Rama Bargawa bersikap seperti tidak pernah terjadi apa-apa sampai akhirnya ibunya pulang ke rumah pada pagi harinya.
Setiba di rumah Dewi Renuka bertindak seperti biasa yaitu menyapa anak-anaknya seolah tidak merasa salah. Untuk saudara-saudara Rama Bargawa yang tidak tahu peristiwa yang menyangkut perbuatan ibunya, mereka menyambut kedatangan ibunya dengan penuh suka cita. Tidak dengan Rama bargawa. Ia justru pergi menjauh agar tidak bertemu dengan ibu yang selama ini ia agung-agungkan. Dengan sebuah alasan ia meninggalkan rumah sehingga tidak bertemu ibunya. Rama Bargawa sengaja pergi ke suatu tempat untuk menyendiri menenangkan hati. Ia merasa muak melihat tingkah ibunya yang seolah tidak pernah merasa dosa.
Untuk sesaat Dewi Renuka merasa aman karena ternyata anak-anaknya tidak mencurigai dirinya. Terbukti dengan antusias anak-anak menyambut kedatangannya. Kalau toh Rama Bargawa tidak menemui dirinya karena memang sedang ada keperluan piker Dewi Renuka.
Kenikamatan perselingkuhan yang ia rasakan masih membekas di hati. Jika tidak takut dan tidak sungkan dengan keluarganya ingin rasanya ia melanjutkan berkasih mesra dengan Citrarata pria selingkuhannya itu.
Oh…iblis, tertawa girang setelah berhasil menjerumuskan Dewi Renuka kedalam dunia perselingkuhan Setelah merasa nikmatnya berselingkuh tentu Dewi Renuka akan berusaha mengulangi perbuatannya. Dan tugas iblis pun menjadi ringan. Karena padaperselingkuhan berikutnya tidak perlu lagi membujuk titah yang sudah berhasil ia jerumuskan. Dan iblispun tertawa lebar “
“Ha…ha…ha…ha…manusia…oh manusia, besok dirimu bakal menemaniku di api neraka. Kalauaku di dalam neraka sih biasa-biasa saja karena aku terbuat dari api. Sedangkan kamu hai Dewi Renuka! Tentu akan mengalami siksaan yang menyakitkan karena dirimu tidak tercipta dari api,,hahahahaha!” iblis tertawa penuh kemenangan.
Disaatsang Iblis tertawa penuh kemenangan, Dewi Renuka sedang penuh kesenangan. Kenikamatan yang ia dapat masih melekat sehingga sulit untuk dilupakan. Semangat hidup seakan tumbuh lagi.
“Dewi…Dewi, tahukah kau bahwa apa yang kau rasakan itu sebetulnya racun berbisa yang bakal menghancurkan kehidupanmu.” Ejek pohon angsana yang tumbuh di depan rumah yang sudah barang tentu tidak mungkin bisa didengar oleh Dewi Renuka.
Tidak hanya pohon angsana saja yang mengejek Dewi Renuka, tetapi burung sikatan pun ikutan mencemooh apa yang telah diperbuat oleh Dewi Renuka.
“Heh…Dewi Renuka, ternyata kecantikan yang kau miliki tidak mampu menjadi penyempurna kesetiaan terhadap suamimu. Alangkah naifnya dirimu, hanya demi menuruti hasrat mengejar nikmat dirimu tega mengorbankan harkat dan martabat.”
Yang diledek oleh pohon angsana dan burung sikatan tidak bergeming dari kesibukannya sebagai ibu rumah tangga yang setia. Dewi Renuka sedang sibuk menyelesaikan pekerjaan rutinnya sebagaimana biasa ia lakukan. Kali ini beda dengaan hari-hari sebelumnya. Sebab kalau hari-hari sebelumnya Dewi Renuka penuh dengan wajah murung tetapi kali ini wajahnya berubah ceria. Dan ada nyanyian yang keluar dari bibirnya yang mungil. Jika diperhatikan nyanyian lirih yang didendangkan Dewi Renuka adalah gending-gending cinta. Itu tidak mengherankan karena saat ini Dewi Renuka memang sedang dilanda jalinan asmara. Yang semalam telah dirajut bersama dengan pasangan selingkuhnya. Bertahun-tahun posisi suami yang bertengger di dalam hatinya sekarang telah diambil alih oleh pria lain yaitu Prabu Citrarata. Ternyata yang bisa terjadi kudeta tidak hanya di pemerintahan saja tetapi juga hati. Yach.. hati manusia pun bisa terkudeta.

Bersambung ke Anak Durhaka Bag 2

Comments

comments

Tinggalkan Balasan