(Kisah Rohani) Hawa Dan Taqwa

Di kampung INSANI, ada 2 orang saudara kembar yang masing-masing saling berseteru. Tetapi anehnya mereka itu satu sama lain juga saling membutuhkan. Pada suatu pagi yang cerah, terjadilah perdebatan keduanya untuk memperebutkan sepotong hati.

Inilah perdebatan mereka :

“untuk saat ini, sepotong hati itu biar aku santap dulu, ya? Dan jatahmu nanti kalau hari menjelang senja.” kata Hawa.

“Tidak bisa begitu. Bagiku makan hati itu adalah suatu keharusan. Karena tanpa memakan itu, hidupku tidak ada nilainya.” Jawab Taqwa.

“Walaaah, kamu itu lho kalau ngomong kok tidak bisa dipercaya.” olok Hawa.

“Kenapa kamu kok bisa menuduhku demikian?” tanya Taqwa.

“Ya, kamu kan pernah menasihati aku bahwa mengalah itu bakal luhur pada akhirnya. Nah, sekarang buktikan itu kepadaku.” kata Hawa melehke.

“Memang benar apa yang aku katakan, tapi masalah menu sepotong hati ini tidak ada hubungannya dengan nasihatku.” bantah Taqwa.

“Atau begini saja, kamu aku beri gantinya yaitu jantung, atau yang lainnya atau seluruhnya untukmu dan aku cukup mengambil hatinya saja.” bujuk Hawa pada Taqwa.

“Tidak mau, sekali hati ya tetap hati. Kamu saja yang lain-lainnya dan silahkan ambil semua.” balas Taqwa.

“Ya sudah, perdebatan tentang hati sebaiknya kita hentikan saja dan kita ganti dengan cara lain bagaimana?” usul Hawa.

“Maksudmu ?” Tanya Taqwa belum paham.

“Maksudku begini, kamu kan punya pengikut, demikian juga aku. Bagaimana kalau pengikutmu dan pengikutku kita adu, kemudian siapa yang menang nanti itulah yang berhak memiliki sepotong hati itu. Kira-kira bagaimana?” jelas Hawa.

“Siapa saja pengikutmu, biar aku tahu.” Tanya Taqwa.

“Pengikutku lebih banyak dibanding pengikutmu. Tapi akan ku sebut sebagian saja biar adil. Nanti yang akan aku adu adalah : 1. Shu’udhon 2. Ghilin 3. Takkabur 4. Kufur 5. Bakhil. Jadi aku cukup mengambil 5 jago itu saja dan siapa pengikutmu yang akan kamu tandingkan dengan pengikutku ?” Tanya Hawa memastikan.

“Jagoku yang aku suruh tanding cukup satu saja yaitu si Ikhlas.” Jawab Taqwa

“Lho, kok cuma satu, kan masih ada pengikutmu yang lain seperti Sabar, Pasrah, Jujur dll.” Tanya Hawa heran.

“Cukup satu itu saja yang aku tandingkan dengan pengikutmu.” Jawab Taqwa penuh percaya diri.

“Wah, sombong banget kamu Taqwa. Tapi baiklah, nanti kalau jagomu sampai kalah dikeroyok 5 orang jagoku, kamu jangan menyesal lho?” kata Hawa mengingatkan.

‘Tidak, aku yakin si Ikhlas mampu mengalahkan 5 orang jagomu.” kata Taqwa penuh percaya diri.

Akhirnya kedua orang itu mengadu jagonya masing-masing. Tetapi ketika acara mengadu jago itu akan dimulai, Hawa seperti kurang sreg, kemudian berkata :

“Sebentar, supaya adil kita perlu wasit, Taqwa. Terus enaknya kita menunjuk siapa ya agar bisa menjadi wasit yang tidak memihak salah satu dari kita ?” kata Hawa.

“Oh iya, memang kita harus memakai wasit. Bagaimana kalau kita tunjuk 3 orang wasit?” ganti Taqwa yang usul.

“Kok banyak sekali, tho? Tapi tidak apalah, yang penting perebutan sepotong hati ini nanti akan bisa berlangsung adil. Terus siapa saja yang menurutmu pantas dijadikan wasit?” kata Hawa.

Mendapat pertanyan Hawa seperti itu, Taqwa tidak segera menjawab. Dalam benaknya berpikir, siapa kira-kira yang pantas untuk dijadikan wasit. Setelah terpikirkan orang yang dipandang tepat untuk dijadikan wasit, kemudian Taqwa berkata :

“aku menunjuk Pak Firdaus untuk dijadikan wasit. Dan kamu menunjuk siapa ?” tanya Taqwa tentang wasitnya hawa.

“Aku memilih ehm.. siapa ya enaknya? Ehm.. oh iya, aku pilih Pak Jahim untuk ikut jadi wasit.” usul Hawa.

“terus yang satunya lagi siapa ya?” tanya Taqwa agak bingung.

“Iya.. ya.., terus siapa wasit yang ketiga ?” kata Hawa juga penasaran.

“Nanti biar Pak Firdaus dan Pak Jahim saja yang memilih, adil kan?” usul Taqwa.

“Aku setuju sekali. Kalau begitu sekarang kamu mencari Pak Firdaus dan aku akan mencari Pak Jahim.” berkata demikian Hawa sambil melangkah pergi mencari orang yang dimaksud.

Setelah beberapa saat kemudian Taqwa sudah kembali ke tempat semula dengan diikuti oleh orang yang dijadikan wasit yaitu Pak Firdaus. Sesuai dengan penampilan yang dimiliki Taqwa yaitu berpenampilan lembut, ramah dan wajahanya cerah menyejukkan siapa saja yang memandang. Dan Pak Firdaus lebih dari yang dimiliki Taqwa.

“Jadi sesuai penjelasanmu tadi aku kamu tunjuk jadi wasit petandingan antara jagomu dan jagonya Hawa, begitu?’ tanya Pak Firdaus pada Taqwa.

“Betul Pak.” jawab taqwa. “Terus yang jagonya menang nanti berhak menyantap sepotong hati?” tanya Pak Firdaus lagi.

“Betul.’ jawab Taqwa disertai anggukan kepala.

Belum begitu lama pembicaraan Taqwa dan Pak Firdaus, mereka kedatangan Hawa dan Pak Jahim yang juga dijadikan wasit.

“Maaf saya terlambat, habis mencari Pak Jahim susahanya bukan main, Taqwa.” kata Hawa yang merasa tidak enak hati.

“Habis geng-geng di daerah sini membutuhkan pembinaan dan pengawasanku, jadi ya harap maklum. Orang seperti diriku ini menjadi idola hampir seluruh manusia sejagad.” tutur Pak Jahim dengan angkuh menimpali perkataan  Hawa.

Memang  Pak Jahim ini sudah terkenal dan ditakuti oleh, baik golongan putih maupun golongan hitam. Siapa yang tidak kenal Pak Jahim, orangnya kejam tidak kenal rasa belas kasihan tanpa pandang bulu laki-laki, perempuan, tua, muda, miskin, kaya, orang tua dan anak-anak remaja semuanya akan dibantai kalau ketanggor denganya.

“Ya, kami maklum dengan kesibukan Pak Jahim.” sahut Taqwa dan Pak Firdaus bersamaan.

“Lho, ini ada dik Firdaus tho?” teriak Pak Jahim seperti kaget.

Hal itu bisa dimengerti karena walaupun Pak Jahim itu sakti mandraguna, tetapi kalau bertemu Pak Firdaus seperti tidak punya daya apa-apa. Makanya begitu tahu ada Pak Firdaus, Pak Jahim kaget dan sungkan. Padahal tadi sudah menyombongkan diri. Pak Jahim yang punya wajah seram dan sangar serta ditakuti setiap manusia di daerahanya, khususnya golongan bandit itu, seperti tidak punya nyali ketika berhadapan dengan Pak Firdaus. Jangankan dengan Pak Firdaus, sedangkan dengan Taqwa saja dia segan. Makanya para bandit berusaha mendekat dengan Pak Jahim agar menjadi bagian kehidupan Pak Jahim. Kembali kepada pertemuan Pak Jahim dengan Pak Firdaus.

Begitu Pak Jahim tahu ada Pak Firdaus maka dia langsung berubah ramah.

“Dik Firdaus juga diminta jadi wasit tho?’ tanya Pak Jahim ramah.

“Iya kang, apa boleh buat, apalagi anak seperti si Taqwa ini kan tipe anak yang aku suka. Kalau untuk kepentingan si Taqwa ini, apapun yang dia inginkan akan aku penuhi, kang.” kata Pak Firdaus kepada Pak Jahim.

“Ya sama tho, ini saya juga diminta Hawa untuk jadi wasit kok dik, katanya si Hawa sama si Taqwa itu mau mengadu jagonya masing-masing untuk memperebutkan sepotong hati .. kwk…kwk..kwk.” kata Pak Jahim sambil tertawa ngekek.

“Memang betul kang, tapi katanya wasitnya 3 orang, terus yang satunya siapa?” kata Pak Firdaus.

‘Lho, iya.. ya. mana wasit yang satunya? Heh.. wa..Hawa, mana wasit yang satunya?” teriak Pak Jahim pada Hawa menanyakan wasit yang ketiga.

“tadi atas mufakat saya dan Taqwa telah sepakat bahwa untuk wasit yang ke 3 kami serahkan kepada Pak Jahim dan Pak Firdaus yang memilih.” jawab Hawa.

“Oh, baiklah kalau begitu. terus kira-kira kamu menunjuk siapa dik Firdaus?” tanya Pak Jahim minta pendapat Pak Firdaus.

‘kalau saya usul, kita menunjuk orang yang kenal dan ada kepentingan dengan kita kira-kira bagaimana, kang ?” usul Pak Firdaus.

“Saya setuju-sutuju saja apa yang dik Firdaus usulkan, terus kira-kira siapa yang pantas jadi wasit yang ketiga itu ya, dik?’ kata Pak Jahim yang berubah lembut.

Padahal Pak Jahim itu biasanya berangasan tetapi berhadapan dengan Pak Firdaus yang ramah, mau tidak mau dia terbawa lembut. Memang sebenarnya Pak Jahim itu juga ada sifat baiknya. Walau dia terkenal kejam dan tidak  kenal rasa belas kasihan, tapi kalau orang tersebut tidak ada benturan dengannya, Pak Jahim juga tidak mau menganggu, sifat kejamnya itu hanya untuk orang-orang yang bermasalah dengannya. Bahkan kini dia berhadapan dengan Taqwa yang didampingi Pak Firdaus, Pak Jahim ternyata juga bisa ramah. Setelah Pak Firdaus dan Pak Jahim mengingat-ingat siapa kira-kira yang pantas dijadikan wasit yang ke 3, akhirnya Pak Firdaus ingat akan nama seseorang :

“Oh iya kang, bagaimana kalau kita menunjuk Pak Ridho sebagai wasit ketiga?” usul Pak Firdaus.

“Pak Ridho? Oh.. ya.. ya saya setuju Pak Ridho dijadikan wasit juga.” sahut Pak Jahim.

Akhirnya Pak Firdaus dan Pak Jahim pergi mencari orang yang bernama Pak Ridho.  Setelah orang yang dicari dapat ditemukan, kemudian orang tersebut yakni Pak Ridho yang bersedia juga untuk dijadikan wasit, diajak bergabung dengan yang lainnya. Singkat cerita para wasit sudah berunding untuk membagi tugas masing-masing wasit. Pak Firdaus punya tugas menilai jagonya Taqwa, Pak Jahim punya tugas menilai jagonya Hawa dan Pak Ridho punya tugas menilai jagonya keduanya yakni jagonya Taqwa dan jagonya Hawa.

“Ini tadi para wasit sudah bermusyawarah dan sudah punya tugas masing-masing. Sekarang kelanjutannya bagaimana dan rencana akan mengambil tempat dimana untuk mengadu jago itu nanti, Taqwa ?” tanya Pak Firdaus kepada Taqwa.

“Dari kesepakatan saya dengan Hawa, rencana kami mengadu jago kami masing-masing di lapangan ALAM PADANG saja jelas Taqwa.

“Baiklah jika begitu, saya, Pak Jahim dan Pak Ridho akan menunggu kalian di sana.” kata Pak Firdaus yang kemudian bergerak menuju tempat yang dimaksd dengan diikuti 2 wasit lainnya yaitu Pak Jahim dan Pak Ridho. setelah para wasit pergi,

Taqwa lalu menggembleng jagonya yang bernama Ikhlas dengan cara diberi pengarahan dan petunjuk bagaimana dalam menghadapi 5 orang lawan tanding dari jagonya Hawa. demikian juga dari pihak Hawa juga menggembleng 5 orang jagonya agar dalam pertandingan nanti bisa menang.

“Hai.. para jagoku semua, kalian jangan menganggap enteng dalam menghadapi jagonya si Taqwa yang cuma 1 itu. Walau kalian berlima boleh jadi akan bisa ditaklukkan oleh jagonya si Taqwa. Kalian harus bisa mengalahkannya, sebab jika sampai kalian kalah, hilang sudah kesempatanku untuk menyantap sepotong hati, bisa dimengerti?” kata Hawa berapi-api  untuk menyemangati para jagonya.

“Mengerti tuanku.” jawab mereka serempak.

“Bagus.” sahut Hawa puas. Setelah Taqwa dan hawa selesai memberi arahan pada jagonya masing-masing kemudian bersama-sama menuju ke lapangan Alam Padang.

Di sana 3 orang wasit yang dipilih tadi sudah menunggu kedatangan mereka. Kemudian wasit yang bernama Pak Jahim membuka suara :

“Hawa, kamu dan para jagomu silahkan menempati kursi di deretan sebelah kiri.” kata Pak Jahim mengarahkan.

“Untuk kursi deretan sebelah kanan, untuk kamu dan jagomu, Taqwa.” kata Pak Firdaus menyambung kata-kata Pak Jahim.

Setelah masing-masing menempati posisinya, kemudian ada suara lembut penuh wibawa:

“Para hadirin yang berkumpul di lapangan Alam Padang sini, saya rasa tidak perlu diterangkan lagi mengapa kita semua berkumpul disini. Intinya adalah siapa yang menang dalam pertandingan nanti, maka orang yang memiliki jago yang menang berhak untuk menyantap sepotong hati ini.” berkata demikian Pak Ridho sambil mengangkat bokor kencono yang berisikan sepotong hati.

Kemudian Pak Ridho melanjuntukan sambutannya :

“Saya rasa semua sudah paham, dan selanjutanya kami persilahkan jago yang akan bertanding untuk segera menuju ke arena dan nanti begitu gong ini saya pukul, pertandingan bisa dimulai.” tutur Pak Ridho.

Setelah arahan dari Pak Ridho selesai, kemudian Ikhlas jagonya Taqwa itu maju ke tengah arena. Ikhlas ini sudah terkenal sakti mandraguna. Orangnya kalem, jujur, rendah hati dan penuh daya pesona. Di tengah arena Ikhlas berdiri penuh sigap, seakan telah siap menghadapi setiap terjangan lawan. Kemudian disusul 1 orang  jagonya hawa yang bernama Su’udhon maju ke tengah arena dan langsung berhadapan dengan Ikhlas yang lebih dulu tiba. tampak di tengah arena 2 orang jago yang siap menyerang satu sama lain, hanya tinggal menunggu bunyi gong sebagai tanda pertandingan bisa dimulai.

Tidak begitu lama ke 2 jago yang siap bertarung itu berhadapan kemudian terdengar bunyi gong yang dipukul, tidak menyia-nyiakan kesempatan Su’udhon yang memang licik, langsung menyerang Ikhlas dengan jurus “muka kecut”. Jurus ini tidak bisa dianggap remeh, orang yang punya mental lemah akan ambruk terkena jurus muka kecut ini. Tapi dengan tenang Ikhlas  menghadapi jurus yang dikeluarkan oleh Su’udhon hanya dengan menghirup nafas panjang dan merapal  “Subhanalloh…” serangan itu dapat dihindari. Penasaran Su’udhon karena serangan pertama yang biasanya ampuh ini, ternyata cukup dihadapi hanya dengan senyum oleh lawan. kemudian tidak mau memberi kesempatan lawan untuk balas menyerang, Su’udhon mengirim serangan susulan dengan mengeluarkan jurus “lidah ular”. Jurus ini benar-benar berbahaya, sekelompok orang bisa saling berantem jika terkena jurus ini. Pernah satu keluarga saling bertikai dihantam dengan jurus lidah ular ini. Dan kini jurus tersebut dihantamkan kepada Ikhlas. Tapi lagi-lagi Ikhlas hanya menata bathin dan merapal Subhanalloh, dan masih tetap lolos dari serangan maut pukulan Su’udhon. Memang Ikhlas sudah banyak makan garam menghadapi lawan dengan jurus-jurus aliran hitam, sehingga mudah untuk mengatasi setiap serangan lawan.

Dulu, ketika awal-awal mula dia belajar ilmu, memang pernah terjungkal terkena pukulan “muka kecut”  itu ketika tanding melawan Su’udhon. Tapi dengan ilmu yang dimiliki saat ini, jurus macam itu tidak ada pengaruhanya apa-apa. Penasaran dengan 2 serangan yang gagal melumpuhkan lawan kemudian Su’udhon mengeluarkan serangan mautnya yang ke 3 yaitu dengan jurus yang namanya “Lesan sembilu”. Jurus lesan sembilu ini benar-banar jurus maut yang mematikan lawan, karena serangan diarahkan ke ulu hati. Untungnya Ikhlas dapat membaca apa yang akan dilakukan oleh lawannya, dan “wuuut” lagi-lagi Ikhlas dapat menghindari serangan lawan dan karena ini serangan maut yang benar-banar menggunakan tenaga penuh, akhirnya Su’udhon jatuh dan tidak bisa bangun lagi dengan keadaan Ikhlas berdiri tegak disebelahanya sebagai tanda kemenangan ada dipihak Ikhlas. Hawa terkejut begitu tahu jagonya dengan mudah dikalahkan lawan yang tidak banyak mengeluarkan tenaga  dan tanpa sadar dari mulutanya keluar decak kagum :

“chk… chk.. chk..  hebat.. hebat.. hebat..” sambil geleng2 kepala tanda tidak percaya dengan apa yang dilihat.

“Bagaimana Hawa, jagomu yang pertama telah gugur lawan jagonya Taqwa, apa engkau mengaku kalah atau masih ingin melanjutkan?” tanya Pak Jahim yang diikuti dengan persetujuan wasit lainnya.

“Masih Pak, kan saya masih punya 4 orang jago yang blm bertanding. Hai.. Ghilin, majulah. Tundukkanlah lawanmu untukku.” teriak Hawa kepada Ghilin jago ke 2 nya.

“Baik tuanku.” jawab jago yang dipanggil yang kemudian melesat ke tengah arena pertandingan tepat di hadapan Ikhlas yang telah siap menghadapi segala kemungkinan.

Kedua jago yang sudah ber hadap2an itu hanya tinggal menunggu bunyi gon untuk saling serang. Dengan tajam mata Ghilin menatap ke arah seluruh tubuh Ikhlas seakan ingin menelan tubuh Ikhlas bulat2. Tidak lama kemudian bunyi gong berbunyi dan “ciaaaaat!!!” terdengar teriakan Ghilin dibarengi dengan gerakan tubuhnya yang melesat dengan posisi kaki di depan mengarah ke jantung lawan. Peristiwa yang terjadi ini membuat para penonton yang berpihak kepada ikhlas banyak yang miris dan memejamkan mata karena tidak tega melihat jago yang diunggulkan bakal tewas seketika. Ini bisa dimaklumi karena serangan yang dilancarkan oleh Ghilin adalah gabungan dari berbagai jurus yang masing2 jurus mempunyai daya serang yang mematikan. Adapun jurus2 yang digabungkan tersebut diantaranya adalah : jurus munafik, jurus, licik, jurus  sengol dan jurus2 golongan hitam lainnya.

Bagaimana para pendukung Ikhlas tidak miris mengingat tatkala ghilin sudah melesat dengan tendangan kakinya yang mengarah ke jantung, Ikhlas seperti terlena sehingga dipastikan akan tewas. Demikian juga dalam benak ghilin, dia merasa di atas angin dan yaqin lawannya bakal tewas. maka dia keluarkan tenaga sepenuhnya. Padahal sebenarnya yang terjadi bukan demikian. Ketika Ghilin menggabungkan berbagai jurus itu, sebenarnya sudah dibaca oleh Ikhlas. Maka waktu Ghilin dalam proses penggabungan jurus, Ikhlas juga merapal ajian TABARRI. Ajian ini adalah suatu ajian yang mana dimata musuh, lawan tampak lemah, padahal sebenarnya dengan ajian TABBARI itu kekuatan menjadi berlipat ganda. Jadi dapat dimaklumi kalau ada penonton yang miris dan juga Ghilin mengira Ikhlas sedang lengah.

Memang ikhlas sengaja membiarkan dadanya menerima tendangan maut kaki Ghilin sehingga membiarkan dirinya terhantam tendangan kaki Ghilin. Tapi ketika kaki ghilin sudah menyentuh dada Ikhlas pas tepat di jantung, Ikhlas cuma merapal LAA HAULA WALAA QUWWATA ILAA BILLAH dan apa yang terjadi ? Tidak Ikhlas yang jatuh tersungkur akan tetap malah Ghilin yang tewas seketika. Peristiwa tsb membuat para penonton sontak kaget karena hampir tidak percaya dengan pandangan matanya. Harusnya yang tewas itu Ikhlas, ttp ini kok yang menendang?  Lebih2 si Hawa si pemilik jago yang tewas tsb, lebih kaget lagi. Dalam hatinya berkata :

“Benar2 sakti jago milik si Taqwa ini. Pantas dia penuh percaya diri walau jago yang ditandingkan cuma 1 orang.”

Melihat jagonya Hawa tewas kemudian P. Ridho bertanya kepada Hawa :

“Bagaimana Hawa, apa kamu masih ingin melanjutkan pertandingan atau mengaku kalah dan menyerahkan sepotong hati ini kepada Taqwa?” bertanya demikian sambil menunjukkan bokor kencono yang berisi hati yang diperebutkan itu.

“Tidak pak, saya blm menyerah. Saya akan menyuruh 3 jago saya yang tersisa untuk maju bareng  mengeroyok jagonya Taqwa.” jelas Hawa.

“Lho, apa nanti Taqwa tidak protes, karena jagomu main kroyok?” tandas P. Ridho.

“Tidak, karena ini sudah kita sepakati bersama pada awal2 sebelum pertandingan.” kata Hawa meyakinkan.

“Baiklah jika begitu, terserah kamu saja.” kata P. Ridho pasrah.

Kemudian Hawa menghampiri  jagonya yang sudah siap untuk menjalankan tugas, dan dia melihat jagonya yang tinggal 3 orang itu sedang saling berunding.

“Hai para jagoku, apa kalian masih punya nyali untuk melawan si Ikhlas yang telah membunuh ke 2 orang temanmu itu?” tanya Hawa kepada mereka.

“Bagi kami tidak kenal kata takut, Tuan.” Sahut mereka serempak.

“Bagus, jika begitu kalian maju bersama melawan Ikhlas. Bunuhlah dia dan menangkan pertandingan untukku.” kata Hawa sambil memberi semangat.

“Siaaap tuanku.” jawab mereka bersemangat ingin menyenangkan hati tuannya yang sedih kehilangan 2 orang jagonya. Mereka ber 3 yaitu : Takkabur, Kufur dan Bakhil merupakan jago sakti. Dalam petualangannya banyak lawan2 yang dijatuhkan melawan kesaktian mereka.

Sedangkan satu dari mereka saja sudah sulit dikalahkan. Apalagi skrg mereka maju bersama dan akan mengeroyok Ikhlas yang seorang diri. Supaya jelas mari kita lihat satu persatu dari ketiga jago milik Hawa itu. Misalnya tentang ajian2 yang dimiliki. Takkabur punya ajian Greget Ati. Siapa saja orang yang kena ajian greget ati milik Takkabur ini bakal merasakan sendal mayang.  Mata jadi ber kunang2, napas sesak dan hati mrongkol, yang pada akhirnya akan tewas. Selain jurus itu, Takkabur juga masih punya jurus andalan lain yaitu jurus yang namanya Ngremehke. Jurus ini kalau dihantamkan orang yang tingkatan ilmunya masih rendah, maka dia akan terjungkal dan akan menjadi orang blo’on. Selain juga jurus2 lain yang banyak dimiliki oleh Takkabur. kemudian jagonya Hawa yang bernama Kufur, ini tingkatannya lbh tinggi bila dibandingkan dengan kedua temannya yang telah tewas dan dibanding Takkabur. Kufur ini punya jurus maut yang orang lain tidak tahu. Bagi orang awam  sepertinya dia tidak punya jurus apa2, tapi kalau sampai dia  ngecakke  ilmunya, org2 sekecamatan bakal kena dampaknya. Itulah kehebatan jurusnya kufur. Jadi hanya org2 yang berilmu tinggi saja yang bs membaca bahwa kufur adalah punya ilmu yang tinggi dan membahayakan lawannya. Dan jagonya yang ke 5 yaitu yang bernama BAKHIL. Bakhil ini  punya jurus maut yang namanya tegelan. Jurus tegelan ini kalau dihantamkan lawan, makanya lawannya akan merasa nggrantes. Makanya Bakhil ini dikenal dengan sebutan Raja Tega. Knp disebut demikian ? Karena dia tidak kenal ampun dan tidak punya rasa belas kasihan sama sekali. Sifatnya hampir sama dengan P. Jahim, cuma bedanya P. Jahim hanya kejam kepada org2 yang berurusan dgnya. Tapi kalau Bakhil, entah orang itu ada kepentingan dgnya ataupun tidak, dia tidak ambil peduli.

Skrg kita kembali ke arena pertandingan dimana Ikhlas masih berdiri tegar tidak bergeming sedikitpun, menunggu lawan berikutnya. Dan ke 3 jago hawa stlh mendpt perintah dari tuannya yaitu Hawa, maka ketiganya langsung melesat ke tengah arena mengepung Ikhlas. Ketiganya menatap tajab ke arah Ikhlas penuh dendam karena 2 orang temannya telah tewas di tangan orang yang sedang ada di hadapannya. Dalam hati masing2 pada berpikir :

“Ilmu apa yang dimiliki oleh Ikhlas ini? Tadi ke 2 rekannya dengan mudah dirobohkan dalam tempo yang begitu singkat. kalau ditilik bentuknya sih seperti manusia yang lemah, tapi kok punya kesaktian yang sulit dijajagi.” demikian pikir ketiga jagoannya Hawa itu.

Setelah saling ber hadap2 an agak bbrp saat gong blm juga ditabuh sampai terdengar suara :

“Wahai Ikhlas, kamu hanya seorang diri sedangkan lawanmu ada 3 orang, bgmnkah keputusanmu, apa mau protes apa tetap ingin lanjut?” ternyata suara dari P. Ridho yang ingin menegakkan keadilan.

“Saya ingin tetap maju, tuan. Tapi entah tuan Taqwa, apakah akan mengambil keputusan lain?” sahut Ikhlas.

“Oh.. begitu. Baiklah saya akan tanya ke tuanmu. Hai.. Taqwa,  jagomu cuma seorang diri, sedangkan jagonya lawanmu ada 3 orang dan akan maju bareng mengeroyok jagomu, kira2 bagaimana, apa akan protes  atau akan kau lanjutkan?” tanya P. Ridho setelah menanyai Ikhlas.

‘Tetap saya lanjutkan pak, karena itu sudah komitmen saya sedari awal.” jawab Taqwa mantap.

“Baiklah, kalau begitu saya sudah bertindak adil. Dan untuk jago2 yang akan bertanding, dipersilahkan mempersiapkan diri. dan jangan terburu menyerang sebelum aku tabuh gong ini. Maka suasana kembeli hening namun penuh ketegangan, karena yang ramai adalah suara jantung yang berdegup dari para penonton yang mendukung jagonya masing2. Setelah dirasa tepat, P. Ridho mulai memukul gong sebagai tanda pertandingan sudah bs dimulai. Blm lg bunyi gong itu berhenti, ke 3 jago milik Hawa yang memendam dendam itu langsung menyerang menggunakan kesempatan lengahnya lawan.

Dasar memang 3 jago itu punya sifat licik maka para penonton yang mendukung Ikhlas pada khawatir dan ngeri melihat peristiwa itu. Karena mereka pikir si Ikhlas akan tewas dihantam jurus2 maut ke 3 jago itu yang dimuka telah kita sebutkan. Dan bagi penonton yang mendukung ke 3 jago itu keadaan yang dilihatnya nampak menyenangkan. Karena mereka pikir Ikhlas pasti sedang lengah dan bakal tewas terkena serangan maut jago yang didukung itu. Memang tidak salah dugaan mereka, krn ketika lawan Ikhlas itu menggunakan jurus pamungkas dan mengarah ke tempat2 yang mematikan.

Serangan Takkabur mengarah ke ulu hati, serangan kufur mengarah ke otak, sdgkan serangan Bakhil ditujukan ke jantung lawan. Tapi bagi mata umum Ikhlas tampak lengah dan tak berdaya menghadapi ke 3 lawannya. Padahal dia sedang merapal ajian Ksatria Sumarah. Ajian ini adalah ajian tingkat tinggi yang tidak semua orang mampu menguasai. Jika sampai ajian ini dirapal berarti keadaan sudah mendesak dan sangat gawat yang artinya lawan tanding sdh mengancam kematiannya.

Mulut Ikhlas kumat kamit tangan bersedakep dan dr bibir keluar suara lirih : HASBUNALLOH WANI’MAL WAKIL NI’MAL MAULA WANNI’MAN NASIIR. “Wuuuut!!” desir dari angin yang ditimbulkan dr tendangan maut Kufur yang mengarah ke otak dpt dihindari oleh Ikhlas dan pd saat tubuh Kufur sdh dekat dg Ikhlas, hny dg sentuhan tangan yang disertai rapalan ajian Sujud Syukur, maka tubuh Kufur yang kekar itu hancur ber keping2. Dan pd saat yang bersamaan teriakan penonton terdengar membahana, riuh krn penuh takjub, ada yang miris, ada yang kaget krn tidak percaya dg apa yang barusan disaksikan dan macam2 perasaan lainnya.

Kalau hanya diceritaan org pasti tidak percaya, tp ini menyaksikan sendiri. Kita tidak bs menyalahkan mereka, bgmn tidak kagum dan takjub, org Ikhlas yang dikira bakal tewas terkena serangan maut itu ternyata, ternyata yang kelihatan lengah kok justru balik menyerang dan cukup hanya dg sentuhan tangan kmd tubuh lawan hancur ber keping2. Kembali kpd seerangan maut dr jagonya Hawa, kalau tadi Kufur serangannya mengarah ke otak, dan Bakhil mengarah ke jantung. Pd saat Ikhlas meraba tuguh Kufur yang kmd hancur itu, sebetulnya dia juga sekaligus menggeser tubuh ke kiri shg tendangan Bakhil yang mengarak ke jantung bs dihindari dan lolos dari serangan lawan. Tapi Ikhlas tidak bs menghindari serangan dari Takkabur yang mengarah ke ulu hati. Mk hny dg sedikit merendahkan tubuhnya serangan lawan yang mengarah ke ulu hati itu melenceng dan mengenai pundak Ikhlas yang membuat Ikhlas agak terguncang sedikit. Melihat temannya tewas dan serangan yang dilancarkan tidak mampu menjatuhkan lawan, kmd 2 jago lawan Ikhlas itu saling mendekat dan ber bisik2 spt ada yang akan direncanakan. Kesempatan itu tidak di sia2kan oleh Ikhlas utk menyembuhkan pundaknya yang  terluka terkena serangan maut itu. Mk dg menarik nafas panjang dg merapal ajian Raja Istighfar, luka yang dirasakan tlh sembuh seketika. Dan pd saat yang bersamaan pula Takkabur dan bakhil yang saling berbisik itu ternyata merencanakan penggabungan jurus yang dimiliki menjadi satu jurus gabungan yang namanya Jurus hasud. Jurus hasud ini benar2 sangat berbahaya. Dpt dikatakan jebih tajam dr pedang dan lebih runcing drpd mata tombak. Jurus gabungan ini mengeluarkan hawa racun yang gatalnya melebihi bulu ulat yang paling gatalpun. Kita tidak dpt membayangkan apbl jurus ini sampai mengenai Ikhlas, entah apa yang akan terjadi. Kalau sampai jurus hasud di gunakan oleh pemiliknya, mk si pemilik jurus tsb tentu menghadapi lawan yang sangat tangguh.

Biasanya org yang terkena pukulan jurus hasud ini akan langsung terjungkal dg kondisi mengenaskan. Tapi bukan Ikhlas namanya kalau sampai keder menghadapi jurus yang akan dihantamkan ke arah dirinya, yang mana jurus tsb merupakan jurus gabungan dr kedua lawan yang sdg dihadapi. Stlh dia berhasil menyembuhkan luka pada pundaknya, kmd dia perhatikan kedua lawannya sdg merencanakan sesuatu yang dia tlh tahu bhw lawannya pasti sdg mempersiapkan taktik serangan mautnya. Dia lihat kedua lawannya menatap tajam ke arah dirinya. Bakhil menatap mata lawannya disertai daya sihir yang akan membuat lawannya menjadi lumpuh tidak berdaya. Jika sdh lumpuh terkena sihir tentu akan mudah dihantam dg pukulan lainnya. Sdgkan Takkabur mengincar ubun2 lawan.

“Wah.. gawat !!!”  kata2 bernada cemas keluar dr mulut salah seorang penonton.

“Kenapa kok gawat ?” tny org yang duduk disebelahnya.

“Ikhlas bakal kena pengaruh ilmu sihirnya Bakhil.” jwb org pertama.

“Kalau terkena itu, gawatnya dimana ?” tny org kedua lagi.

“Jelas dia bakal tewas tho ! Krn bgt kena daya sihir,

Ikhlas akan lupa jati dirinya dan seakan menjadi akan kecil yang bodoh. Kalau sdh dmk tinggal dihantam dg pukulan lainnya. Jelas akan tewas. Kecuali..” kata2 org pertanma itu tidak diteruskan.

“Kecuali apa ?” tny org kedua penasaran.

“Kecuali Ikhlas sdh punya ajian Tauhid Rubbubiyyah dan ajian Tauhid Ubbudiyyah.” jwb org pertama.

“Itu ajian apaan, sih ?” msh desak org kedua.

“Whuuuaaaah, kamu ini tanya kok brondongan, malah jd biro kunsultasi aku nanti, gara2 ngladeni pertanyaanmu.” bentak org pertama jengkel.

“Alaaaah… kadar ditanya gitu sj kok sewot.. wot.. wot…. wot.” balas org kedua juga jengkel.

Kembali ke arena, nampak Ikhlas sdg ber siap2 menghadapi serangan lawan dg lambaran ilmu2 yang dimiliki. Stlh agak lama menatap mata Ikhlas Bakhil berpikir bhw Ikhlas tentu sdh tercengkeram daya sihir yang digunakan, kmd memberi aba2 kpd temannya utk menyerang ubun2 lawan dan Bakhil akan menyapu ke seluruh titik2 rawan pada tubuh lawan. Benar2 dahsyat serangan yang dilancarkan oleh kedua jago Hawa kali ini, kalau sampai Ikhlas terlena sedikit sj mk pasti akan tewas.

Hawa panas yang ditimbulkan dari gabungan kedua jurus maut itu dpt dirasakan oleh yang berilmu, apalagi  kalau penontonnya polosan sj tidak punya lambaran ilmu apapun. Mendpt serangan yang mematikan itu, Ikhlas mengeluarkan tasbihnya yang akan digunakan utk menangkis serangan yang mengarah ke ubun2nya, dan “Prak!!!” terdengar spt suara spt bathok pecah. Benar memang, ternyata sungguh luar biasa, bgt tasbihnya digunakan utk menangkis serangan yang mengarah ke ubun2nya, mk tasbih tidak hnya mampu menangkis sj bahkan mampu menyerang dan tepat mengenai bathok kepalanya Takkabur yang seketika itu juga Takkabur tewas dlm kondisi bathok kepala pecah.

“Hebat.. hebat.. hebat.. sungguh hebat jago si Taqwa ini. Empat org anak buahku sdh dibikin tewas. Dan kini tinggal 1 org yang melawan. Mampukah dia ?” bisik Hawa dlm hati.

Kecemasan Hawa terhadap jagonya yang bernama Bakhil yang kini menghadapi Ikhlas seorang diri, tidak hny dialami Hawa, akan ttp juga penonon2 lain yang mendukung jagonya Hawa. Sekarang marilah kita tengok keadaan Bakhil yang sdg berhadapan dg Ikhlas. Bgt Bakhil tahu temannya tewas dg kepala remuk hny dg sekali pukul oleh lawannya, mk dia kaget dan grogi shg serangannya menjadi tak terarah. Dan krn tidak terarah itulah mk serangannya meleset dan menghantam punggung lawan. Namun dmk, walaupun melenceng dan hny menghantam punggung yang sdh dilindungi oleh Taqwa, itu sdh cukup membuat Taqwa mengeluarkan darah segar dr mulutnya. Hantaman yang diterima Ikhlas itu adlh jurus maut yang mematikan dan seandainya tepat mengenai titik lemah tubuh Ikhlas, mungkin Ikhlas juga akan tewas seketika itu juga. Tapi kelihatannya Allah msh berkehendak lain, terbukti secara akal pikir Ikhlas tidak akan mampu menghindari serangan maut dr tokoh aliran hitam itu.

Kembali kpd Bakhil yang semula grogi kini tlh berubah senang krn tahu pukulannya tlh mengenai lawan, walaupun tidak tepat sasaran. Namun dia yaqin lawannya pasti tewas. Blm sempat Bakhil melihat kondisi Ikhlas yang sdh terkena pukulannya, dia merasakan panas dan gatal yang luar biasa di dlm tubuhnya. Krn prosesnya bgt cepat, blm sempat dia mengaduh kesakitan, tahu2 tubuhnya meledak dan hancur ber keping2, tewaslah Bakhil jago terakhir milik Hawa itu yang disusul suara riuh dari para penonton yang mendukung Ikhlas krn dpt dipastikan kemenangan ada dipihak Ikhlas. Apa sebenarnya yang dialami oleh Bakhil ? Peristiwa itu terjadi krn ketika dia (Bakhil) memukul Ikhlas dg  ajian pamungkasnya itu menggunakan tenaga sepenuhnya. Akan tetapi krn Ikhlas juga tidak mau mati sia2, mk dia dg ajian yang dimiliki dg merapal

“YAA HAQQU YAA MUBIN” serangan dr Bakhil yang menggunakan tenaga penuh itu balik menghantam pemiliknya.

Krn pukulan itu mengandung hawa panas dan gatal, mk Bakhil juga merasakan tubuhnya panas dan gatal yang akhirnya tewas itu. Itulah hebatnya Ikhlas dg macam2 ilmu dan ajian yang dipunyai utk menghadapi lawan dr golongan hitam yang  mempunyai ilmu yang aneh2 juga. Stlh 5 org jago Hawa itu tewas, otomatis pertandingan selesai.

Kmd P. Ridho memukul gong sebagai tanda pertandingan tlh usai. Sehabis memukul gong kmd P. Ridho berpidato :

“Para penonton semua, kalian tlh melihat sendiri bhw pertandingan berlangsung secara adil, walaupun antara lawan yang satu dg yang lain berlangsung tidak imbang. Dan kalian semua juga tlh melihat hasilnya. Oleh sebab itu benda yang ada di dlm bokor kencana yang berisi sepotong hati ini akan sy serahkan kpd org yang jagonya menang yaitu “Taqwa”.

Si Taqwa ini bs memenangkan pertandingan di medan laga dg mengandalkan jagonya yi “Ikhlas”.

Gara2 Ikhlaslah Taqwa ini menang dlm pertandingan di lapangan Alam Padang ini.” Kata2 P. Ridho diucapkan dg ber api2 stlh berhenti sesaat sambil mengambil bokor kencono yang berisi sepotong hati itu, kmd P. Ridho melanjutkan pidatonya :

“Para hadlirin semua, sblmnya sy serahkan hadiah yang diperebutkan ini, sy perlu menanyai Hawa dulu. Apakah dia sdh menerima kekalahan jagonya atau belum.” berkata dmk P. Ridho sambil menoleh ke arah tempat duduk Hawa.

Tapi yang ditoleh sdh tidak ada ditempatnya, krn Hawa sendiri sdh duduk disamping Taqwa. Krn bgt jagonya Hawa dibinasakan oleh Ikhlas, dia sadar bahwa Taqwa bena2 org yang pantas jadi gurunya. Sebab terbukti dia mampu menggembleng Ikhlas hingga sesakti itu. Dan bgt P. Ridho tahu ternyt Hawa duduk disamping Taqwa dan menyalami Taqwa, maka rencana utk menanyai Hawa tidak jd dilanjutkan. Kmd memanggil Taqwa utk menerima penyerahan sepotong hati. Demikian kita cerita Taqwa dan Hawa, mudah2 an bisa kita serap inti ceritnya. Dan bagi yang ingin  protes dan ingin mengomentari ceita ini, dipersilahkan.

T A M A T.

Comments

comments

Tinggalkan Balasan