(Kisah Rohani) Jangan Kau Cemari Iman Dengan Hal Yang Batal

Sekembali dari Gunung Merapi yang saat ini masih menunjukkan keperkasaannya, Sadar putra dari Pak Syukur, langsung menemui ayahnya.
“Apa oleh-olehmu yang kau bawa dari perjalananmu ketika mengirimkan sumbangan untuk para korban Merapi, Nang ?” tanya P. Syukur ketika tahu bahwa anaknya telah kembali.
“Capek, Pak.” Jawab Sadar singkat.
“Kalau itu jawabanmu tidak perlu bapak tanyakan.” Balas P. Syukur.
“Habis yang bapak maksud dengan oleh-oleh itu apa? Orang di sana lagi ribet mengurusi keselamatan jiwanya masing-masing. Jadi ya tidak ada orang yang berjualan.” Kata Sadar belum nyambung dengan apa yang dimaksudkan P. Syukur.
“Wooow..lha ..da..lah..dasar bocah dedel. Yang bapak maksud dengan oleh-oleh ya berita tentang keadaan orang-orang yang tertimpa bencana. Apakah sudah tertangani dengan baik oleh sukarelawan. Seperti bagaimana kesehatannya, bagaimana tentang makanannya dsb. Bukan maksud bapak meminta oleh-oleh jajanan, Nang.” Jelas P. Syukur.
“Oh saya kira bapak meminta oleh-oleh jajanan atau souvenir.” Sahut Sadar lega.
“Memangnya bapakmu ini apa ? Orang oleh-oleh yang bapak maksud itu ya berita tentang keadaan saudara saudari kita yang lagi terkena musibah letusan Gunung Merapi.” Tegas P. Syukur.
“Saya sangat kasihan pak, melihat keadaan mereka di sana. Bersyukurlah ada para relawan dari berbagai unsure. Saling bahu membahu memberikan pertolongan dan bantuan. Ada bantuan medis, bantuan pangan, bantuan selimut dsb.” Tutur Sadar dengan nada sedih seakan ikut merasakan nasib dari orang-orang yang lagi mengalami musibah letusan Merapi.
“Manusia itu tidak mampu menolak apa yang dikehendaki oleh Allah Ta’ala. Dan Allah sendiri telah menciptakan undang-undang alam ( sunatullah ) bahwa yang namanya gunung berapi itu suatu saat akan meletus dan manusia harusnya paham akan hal itu sehingga menghormati undang-undang alam tersebut.”Jelas P. Syukur.
“Terus, bagaimana caranya menghormati undang-undang alam tersebut, Pak ?” Tanya Sadar
“Ya haru paham bahwa yang namanya gunung apalagi gunung tersebut masih aktif pasti se waktu-waktu bakal meletus dan harus menghindar dari dampak yang ditimbulkan oleh sang gunung tersebut dengan pindah ke tempat yang lebih aman agar tidak terkena bencana akibat letusan gunung tersebut, Nang. Bukan kok malah mengandalkan kepercayaan dari juru kunci gunung yang terkadang menyesatkan.” Jawab P. Syukur.
“ Ya..ya..ya betul itu , Pak. Terkadang malah ada isu-isu yang meresahkan yang isinya mengatakan bahwa Ratu Kidul lagi marah lah, atau si penunggu merapi marah karena tidak dikasih sesaji serta isu-isu lainnya. Hanya saja yang membuat saya heran, kenapa kok banyak yang percaya ya, Pak.” Kata Sadar membenarkan bapaknya.
“Itulah tanda orang yang tidak mempunya iman sehingga dengan mudahnya diombang-ambingkan oleh cerita-cerita yang menyesatkan atau mengarah ke syirik. Coba saja kalau ketauhidan manusia itu kokoh maka hal-hal yang berbau syirik atau kemusyrikan tidak akan membuat manusia itu resah atau takut. Maka dari itu dirimu harus memperkuat keyaqinanmu terhadap Sang Maha Pencipta jagad raya ini bahwa tidak akan ada daya dan upaya tanpa seidzinNya. Penting untuk kamu ketahui bahwa gerak hidup manusia itu ditentukan oleh gerak jiwanya dan arah hidup manusia itu ditentukan oleh keyaqinan yang sudah menjiwa dalam diri manusia itu sendiri. Jika keyaqinan sudah menyatu dengan jiwa manusia sedangkan apa yang diyakini itu bertentangan dengan kekuasaan Allah maka keyaqinan tersebut adalah keyaqinan yang bersifat syirik. Maka pastilah segala aktifitas hidupnya akan selalu menuju ke hal-hal yang syirik-syirik saja. Sebagai contoh sebagian orang yang tinggal di seputar Gunung Merapi itu. Mereka lebih percaya kepada omongan sang juru kunci dibandingkan dengan menggunakan akal pikirnya.”Tutur Pak Syukur.
“Mereka percaya kepada juru kunci karena mungkin mereka menganggap bahwa sang juru kunci dianggap mempunyai ilmu yang mampu menahan atau menghentikan letusan gunung Merapi itu, Pak.” Kata Sadar menyela cerita bapaknya.
“Nah, pola pikir yang seperti itulah yangmenyesatkan dan juga membahayakan jiwa orang lain.” Sahut P. Yukur.
“Kok bisa , pak?” Tanya Sadar belum paham.
“Bisa saja. Tadi kan sudah bapak jelaskan tentang Sunatullah ( undang-undang alam ). Setinggi apapun ilmu seseorang tidak akan mampu merubah hokum alam yang sudah ditentukan Allah. Coba kamu renungkan, apakah mampu seseorang mengubah sifat api yang panas itu menjadi sifat yang dingin ? Dan sifat air yang segar diubah sifatnya menjadi sifat yang panas yang membakar apa-apa yang ada disekitarnya ? Kan tidak ? Demikian juga orang tidak akan mampu mengubah sifat gunung apa yang menurut undang-undang alam bahwa sang gunung harus meletus kemudian dibuat tidak meletus ? Walaupun orang tersebut berilmu tinggi tetap saja tidak akan mampu. Paling mampunya juga dengan reka yasa dengan menggunakan tehnologi dengan cara gunung tersebut dibor agar lava gunung bisa mengalir agar tidak terjadi letusan. Itu pun penuh dengan resiko.” Kata P. Syukur memberikan pelajaran kepada putra satu-satunya itu.
“Tapi buktinya ada orang yang dengan ilmunya mampu menolak hujan, Pak ?” Tanya Sadar sedikit menepis pendapat ayahnya itu.
“Itu bukan menolak hujan, Nang. Tetapi menyingkirkan hujan atau menunda turunya air hujan. Perlu kamu ketahui, bahwa air yang diturunkan dari langit oleh Allah Ta’ala, tidak ada seorang pun yang mampu menolaknya. Dan dalam menyingkirkan turunnya air dari langit itu ada yang menggunakan cara-cara yang haq dan cara-cara yang batal.” Jelas P. Syukur.
“Maksudnya cara yang haq dan cara yang batal itu bagaimana, Pak?” Tanya Sadar penasaran.

“Cara yang haq itu suatu caramenyingkirkan hujan dengan memanjatkan do’a-do’a dengan disertai kepasrahan kepada Allah Ta’ala untuk tujuan yang haq pula sehingga akhirnya tidak jadi turun hujan disuatu tempat yang diinginkan atas seidzinNya. Entah itu dengan jalan dipercepat atau diperlambat hujannya atau hujan diturunkan di daerah lain yang lebih membutuhkannya. Sedangkan cara yang tidakhaq yaitu dengan cara meminta bantuan kepada jin.” Jelas P. Syukur.
“Oh..begitu ya, Pak.” Komentar Sadar sambil manggut-manggut tanda mengerti.
“Makanya terkadang bapakmu ini ceriwis kepadamu agar jangan sampai keyaqinan yang ada dalam dirimu itu bisa tercemari dengan hal-hal yang batal.” Tegas P. Syukur mengingatkan.
“Tercemari dengan hal yang batal itu maksudnya bagaimana, Pak?”
“Keyaqinan yang tercemari dengan hal-hal yang batal itu maksudnya seperti yang bapak sampaikan tadi. Misal, orang yaqin terhadap kekuasaan Allah. Tetapi begitu berhadapan dengan hokum alam seperti letusan Gunung Merapi kemudian timbul pemikiran seperti yang diisukan itu yakni yang katanya Kanjeng Ratu Kidul sedang mantulah, atau sang Mbahu Reksa merapi sedang marahlah dsb. Coba kalau jiwa manusia itu dijiwai dengan kalimat Taqwa Laa Ilaaha Illalloh maka pastilah segala aktifitas hidupnya baik dalam bentuk pemikiran, ingatan, penafsiran dll pasti menuju ke Laa Ilaaha Illalloh. Kita ini dari Laa Ilaaha Illalloh dan aka nada atau lenyap di lipatan kalimah Tauhid baik itu tauhid Ruhubiyyah maupun tauhid Ubudiyyah. Tauhid akan hal Laa Ilaaha Illalloh seperti halnya yang diterangkan dalam Alqur’an surat An Nahl ayat 2 sbb :

YUNAZZILUL MALAIKAATA BIRUUHI MIN AMRIHI ‘ALAA MAN YASYAA-U MIN IBAADIHI ANDZIRU ANNAHU LAA ILAAHA ILLAA ANAA FATAQQUUN
Yang artinya :
“Dia ( Allah ) menurunkan para Malaikat dengan ( membawa ) ruh (wahyu) Laa Ilaha Illalloh dari perintahNya kepada siapa yang dikehendaki diantara hamba-hambaNya yaitu peringatkanlah olehmusekalian bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka hendaklah kamu taqwa kepadaKu”.

Di dalam ayat ini ada kalimat ruh, yang dimaksud adalah ruh wahyu Laa Ilaaha Illa anaa fattaquuni. Oleh sebab itu yaqinilah bahwa Laa Ilaaha Illalloh itu adalah ruh yang apabila menjadi ruhulruh maka iman fithroh kita akan hidup segar, akal, pikiran dan segala gerak bathin kita akan segar pula. Itulah yang diserukan di dalam Alqur’an surat Al Anfal ayat 24 sbb :

YAA AYYUHALADZIINA AAMANUSTAJIIBUU LILLAHI WALIRROSUULI IDZAADA’AAKUM LIMAA YUHYIIKUM
Artinya :
“wahai orang-orang yang beriman penuhilah seruan Allah dan seruan Rosul apabila Rosul menyeru kepadamu, kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepada kamu”.

Jadi kita semua harus mencari petunjuk untuk dapat memasukkan ruhnya Laa Ilaaha Illalloh ke dalam ruh kita agar supaya ruh kita itu benar-benar menjadi ruh yang hidup bermakna, bukan hanya sekedar ruh yang hidupnya hanya hidup-hidupan.” Jelas P. Syukur detail.
“Ruh Hidup yang hanya sekedar ruh yang hidup-hidupan itu yang bagaimana, Pak ?” Tanya Sadar masih bingung.
“Kamu kan tahu, hewan yang punya nyawa. Dia juga makan, tidur, kawin, berak, dan juga mat. Semuanya kan tidak ada bedanya dengan kita. Tetapi hidupnya hewan tadi kan tidak ada maknanya untuk kehidupan akherat. Lah kalau hidupnya manusia itu terisi dengan ruh Laa Ilaaha Illalloh maka akan menjadi hidup yang bermakna. Kalau sampai tidak terisi ya itu tadi tidak adabedanya dengan kehidupan para hewan. Dari peristiwa meletusnya Gunung Merapi itu kita dapat mengambil pelajaran dan sekaligus sebagai petunjuk dari Allah Ta’ala tentang mana-mana yang haq dan mana-mana yang bathil.” Jelas P. Syukur dengan wajah serius demi anak tunggalnya agar tidak terpeleset dalam hal keyaqinan.
“Kok bapak bisa dawuh begitu, apa ada penjelasannya, Pak ?” Tanya Sadar penasaran.
“Ya jelas ada tho, Nang. Letusan Gunung Merapi itu adalah sebagian dari ayat-ayat Allah . Dalam Alqur’an Allah berfirman :
WAQUL JAA’AL HAQQU WAZAHAQOL BAATHILUINNAL BATHILA KAANA ZAHUUQON
Yang artinya :
“dan berkatalah yang benar telah datang danyang bathil telah lenyap sesungguhnya yang bathil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap”.

Dikaitkan dengan ayat ini letusan Gunung Merapi itu adalah sunatullah dan inilah yang haq. Dan kepercayaan tentang Sang Bahurekso penunggu gunung itulah yang bathil.
Selama ini sebagian orang-orang yang tinggal di lereng Merapi mempercayai bahwa Juru Kunci Gunung Merapi itu mampu menaklukkan Gunung Merapi sehingga kalau juru kuncinya bilang aman, maka diikuti oleh sebagian orang-orang yang tinggal di sana. Mereka tidak mau mengungsi. Padahal Allah sebelumnya telah memberi petunjuk dengan tanda-tanda peringatan seperti gempa-gempa kecil, lava pijar yang aktif dll dan itupun diketahui dan dirasakan oleh semua orang yang tinggal di sana. Bahkan orang-orang yang berada jauh dari sana pun juga tahu dan merasakan akan adanya letusan gunung.” Tutur P. Syukur.
“Apa tanda-tanda itu, Pak ?” Tanya Sadar belum jelas karena pikirannya sedang melayang membayangkan keadaan orang-orang yang sedang mengalami musibah Merapi.
“Lho, tadi kan sudah bapak terangkan. Seperti gempa-gempa vulkanik, adanya lava pijar yang aktif, terus banyak hewan=hewan liar yang turun gunung dll itu tadi kan tan-tanda atau peringatan dari Allah. Tetapi sangat disayangkan, sebagian dari mereka tidak mau menggunakan akal pikirnya, kenapa demikian ? Karena akal pikirnya telah tertutup dengan hal-hal yang batal.” Jawab P. Syukur agak gemas karena putranya tidak memperhatikan apa yang ia sampaikan.
“Oh..begitu ya, Pak.”
“Ada lagi, Nang. Kepercayaan atau keyaqinan bahwa juru kunci itu punggawa keratin. Dia ditugasi untuk menjaga merapi dengan ilmunya. Supaya Merapi tidak membawa bencana dan syukur-syukur tidak meletus karena kekuatan manteranya sang Juru Kunci. Ini menurut bapak sangat aneh dan lucu. Apa hubungannya Keraton dengan keadaan Gunung. Inilah yang menurut bapak adalah keyaqinan syirik.” Jelas P. Syukur.

“Hari gini masih ada juru kunci?” Kata Sadar dengan nada mengolok.
“Jika orang mau memahami, sebenarnya kita ini ya juru kunci.” Kata P. Syukur yg membuat Sadar tambah bengong.
“Maksud bapak juru kunci apa ? Tanya Sadar penasaran.
“Juru kuncinya jagad. Coba kamu angan-angan, kalau dunia ini tidak ada manusia terus bagaimana jadinya. Manusia itu juga juru kuncinya surge atau neraka. Besok kalau dirimu sudah berkeluarga, dirimu ya menjadi juru kuncinya keluargamu. Apakah akan kamu buat tenteram atau kamu buat damai dan mungkin juga akan kamu buat penuh dengan percekcokkan itu tergantung dirimu sebagai juru kuncinya keluarga. Karena dirimu sebagai kepala keluarga.” Tutur P. Syukur yang disimak putranya dengan wajah serius.
“Hmmm..betul juga apa yang bapak dawuhkan. Manusia itu kalau begitu juga juru kuncinya alam barzah.” Sahut Sadar mencoba menafsiri.
“Betul, Nang. Oh..iya, kembali kepada antara yang haq dan yang bathil, terkadang kita sama-sama membuktikan dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat bahwa seringkali yang haq bisa dikalahkan oleh yang bathil.” Kata P. Syukur mengingatkan.
“Kok bisa begitu itu kenapa ya, Pak? Padahal di dalam Alqur’an tadi bapak menerangkan bahwa yang haq pasti menang tetapi kok ada yang bathil mengalahkan yang haq?” Tanya Sadar makin penasaran.
“Jangan menyalahkan Alqur’an. Karena informasi yang disampaikan Alqur;an itu dijamin kebenarannya dan sangat akurat. Adapun adanya yang haq bisa dikalahkan oleh yang bthil itu tentu ada sebab-sebabnya..” Jawab P. Syukur,
“Apa sebabnya , Pak? Tanya Sadar mendesak ayahnya.
“Sebelum bapak menjawab, marikiota tela’ah lebih mendalam dengan menggunakan :
1. Dalil Naqol. Bahwa kita ini hidup di dunia tidak sendirian akan tetapi hidup di tengah-tengah masyarakat manusia. Dan masyarakat manusia itu ada 2 golongan yaitu :
– Golongan manusia yang menata dirinya dengan bekerja sama dengan orang lain yang sama-sama menegakkan kebenaran/kebaikan dengan dilandasi ketaqwaan.
– Golongan manusia yang menata dirinya dan bekerja sama dengan orang lain yang sama-sama untuk berbuat kedurhakaan, permusuhan dll.
Sedangkan kita diperintah oleh Allah Ta’ala supaya saling bekerja sama untuk menegakkan kebaikan/kebenaran dengan dilandasi ketaqwaan serta kita dilarang untuk bekerja sama dalam hal berbuat keburukan, kedurhakaan, permusuhan sebagaimana yang disebutkan di dalam Alqur’an sbb :
WATA’AAWANUU ALALBIRRI WATTAQWAA WALAA TA’AAWANUU ALAL ITSMI WAL UDWAANI WATTAQULLOOHA INNALLOOHA SYADIIDUL IQOOB.
Yang artinya :
“Dan hendaklah kamu tolong menolong (bekerja sama) atas menegakkan kebaikan dan ketaqwaan dan janganlah kamu tolong menolong atas menegakkan kedurhakaan dan permusuhan. Dan takutlah kepada Alloh sesungguhynya siksa Alloh sangat berat adanya”. (Almaidah/2)

Di dalam surat ini menerangkan bahwa ada 2 organisasi manusia yaitu yang menegakkan kebenaran dan satunya lagi menegakkan kebathilan.
Organisasi yang menegakkan kebenaran menurut Alqur’an disebut dengan sebutan Hizbulloh sebagaimana diterangkan di dalam Alqur’an Surat Al Mujadalah ayat 22 sbb :
ULAA-IKA HIZBULLOOHI ALAA INNA HIZBALLOHI HUMUL MUFLIHUUN.
Yang artinya :
“itulah hizbulloh (golongan) yang akan mencapai keberuntungan”.

Jadi hizbulloh itu golongan manusia yang menegakkan kebenaran dan nantinya bakan mendapatkan keberuntungan sesuai janji Allah.” Kata P. Syukur panjang lebar secara detail.
“Lho…pak, Hizbulloh itu apa yang seperti pejuang-pejuang di Afganistan yang berperang melawan tentara sekutu atau tentara mana itu?” Pertanyaan Sadar memotong kata-kata ayahnya.
“Ah, jangan salah menafsirkan arti hizbulloh untuk menegakkan kebenaran itu tidak harus mesti berperang. Cukup kamu mulai dari dirimu sendiri, kemudian keluarga terus masyarakat sekitarmu dan seterusnya. Dan itu tidak harus konfrontatif atau memaksa-maksa orang lain harus menuruti kemauan kita.” Jawab P. Syukur.
“Contohnya seperti apa, Pak?” kejar Sadar
“Contohnya, missal disuatu desa ada keyaqinan bahwa kalau punya kerja mantu atau hajat apapun mesti harus memberi sesaji terlebih dahulu ke makam yang dikeramatkan yang ada di daerah situ. Jika tidak dilakukan maka diuyaqini bakal mengalami petaka atau musibah. Dan jika ada salah satu warga yang imannya di dasari ketauhidan yang kuat, maka dia tahu bah itu adalah ulahnya Jin kafir untuk menyesatkan warga desa setempat. Sedangkan untuk meyaqinkan mereka akan mengalami kesulitan karena kalah jumlah. Maka untuk menegakkan kebenaran tidak perlu berkonfrontasi dengan masyarakat setempat. Cukuplah dengan diri sendiri misalnya disaatnya dia punya hajat, dia tidak ikut-ikutan membuat sesaji ke makam keramat tersebut. Tetapi mempercayakan kepada kekuasaan Alloh Ta’ala. Setelah terbukti tidak terjadi apa-apa, barulah mereka memberi pengertian kepada mereka dengan dakwah Tauhid.” Jelas P. Syukur.

“Tetapi, di daerahnya bang Joni itu terbukti ada kejadian nyata kok, Pak.” Kata Sadar memotong bicara ayahnya.
“Kejadian apa itu, Nang ?” Tanya P. Syukur santai.
“Ada orang yang mempunyai hajat mantu tetapi tidak memberi sesaji ke makam yang dikeramatkan di daerahnya yang konon katanya makam tersebut adalah makamnya orang yang masih keturunan wali dan kenyataannya tertimpa musibah di tempat orang yang lagi punya gawe mantu itu, Pak.” Jawab Sadar serius.
“Coba kamu angan-angan. Orang-orang yang tinggal diseputar makam yang benar-benar makam wali saja tidak dimintai sesaji kalau punya gawe mantu atau gawe lainnya. Bahkan yang tinggal di seputar makam nabi pun juga tidak ada syarat apapun. Lha ini kok katanya makam orang yang masih keturunan wali dikeramatkan dan ada syarat-syarat khusus kalau ada yg punya gawe. Terus tinggian mana derajat makam tersebut dengan yang benar-benar makam wali. Apalgi makam nabi, yang derajadnya tentu lebih tinggi lagi kan? Itulah orang yang imannya hanya iman taglik.” Tutur P. Syukur menepis keyaqinan orang-orang yg tinggal makam keramat yg disebut anaknya.
“Benar juga, Pak. Kalau dipikir-pikir missal orang yang dimakamkan di situ dulunya benar orang suci yang sudah bisa dipastikan bahwa ketika masih hidup tidak pernah mempersulit orang lain. Lha ini sudah mati kok minta dikasih sesaji. Dan lagi menurut Alqur’an bahwa orang yang sudah mati itu kan putus hubungannya dengan dunia kecuali tiga hal yaitu anak sholeh, amal jariyyah dan ilmu yang bermanfaat. Berarti sudah jelas bahwa itu ulahnya Jin ya, Pak?”
“Betul. Karena Jin itu pandai sekali kalau mempermainkan manusia sehingga banyak manusia yang terpedaya. Sudahlah, kita jangan membahas itu lagi. Sekarang kita kembali kepada 2 golongan manusia itu tadi. Yaitu golongan orang-orang yang bekerjasama untuk hal-hal yang baik dan taqwa. Dan golongan orang-orang yang bekerjasama untuk menegakkan kebathilan.
Dan untuk golongan orang-orang yang menegakkan kebaikan tadi yang bapak telah terangkan itu disebut Hizbulloh. Adapun yang bekerjasama dalam hal kebathilan diistilahkan dalam Alqur’an sebagai Hizbusy Syaithon sebagaimana tersebut dalam Alqur’an Surat Al Mujaadilah ayat 19 sbb :
ULAA IKA HIZBUSY SYAITHOONI ALAA INNA HIZBASY SYAITHOONI HUMUL KHOOSYIRIIN
Yangartinya :
“Itulah Hizbusy Syaithon ( golongan yang menegakkan kebathilan ) ingatlah sesungguhnya hizbusy syaithon itu golongan yang merugi”,
Contoh Hizbulloh adalah orang-orang yang menegakkan kebenaran, orang-orang yang menegakkan tauhid. Orang-orang yang bersyukur, orang-orang yang taqwa, orang-orang yang suka menolong dan orang-orang yang berbuat kebaikan lainnya.
Jadi untuk golongan Hizbulloh itu tidak harus memanggul senjata. Salah-salah malah bisa menjadi golongan Hizbusy Syaithon.” Tutur P. Syukur.
“Ah… ndak tahunya cuma sesederhana itu ya, Pak?” komentar Sadar seperti menganggap enteng.
“Kelihatannya memang sangat sederhan tetapi sulit, Nang. Dan dalam menegakkan kebenaran itu harus dimulai dari diri kita sendiri. Setelah itu baru ke orang-orang yang ada dilingkungan kita sendiri. Kemudian baru ke masyarakat luas dan seterusnya. Bukan seperti yang kebanyakan terjadi saat ini. Memaksakan kebenaran ke orang lain sedangkan dirinya sendiri tidak mau dikoreksi dan akhirnya ya terjadi perselisihan, perseteruan dan gesekan-gesekan lainnya.” Tutur P. Syukur.
“Kalau contohnya menegakkan Hizbusy Syaithon itu yang bagaimana, Pak ?”
“Ya sesuatu yang dilakukan oleh orang-orang yang berkerjasama dalam urusan kebathilan, kemungkaran, permusuhan dan tindakan-tindakan tidak baik lainnya. Termasuk juga di dalamnya sifat-sifat takkabur, menghasud dlsb dan sifat-sifat jelek lainnya.
Dan jika yang berkerjasama menegakkan kebenaran itu kadernya lebih militant, lebih kompak dan organisasinya lebih rapi kemudian persatuannya lebih kokoh dibandingkan dengan organisasinya orang-orang yang menegakkan kebathilan maka Alloh akan menerangi perjuang-pejuang yang haq sehingga dapat mengalahkan yang bathil. Walaupun jumlah kadernya Cuma sedikit. Ini telah diterangkan di dalam Alqur’an dalam Surat Albaqoroh ayat 249 sbb :
KAM MIN FI’ATIN QALILATIN GALABAT FI’ATAN KATSIROTAN BI IZNILLAH WALLOHU MA’ASH SHOBIRIIN ( Al Ayah )
Yang artinya :
“betapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang besar dengan idzin Allah beserta orang-orang yang shobar”.
Sebaliknya jika golongan Hizbusy Syaithon atau penegak kebatilan kadernya lebih militant dan berkwalitas , kemudian organisasinya lebih rapi, lebih disiplin dan persatuannya kuat dan kompak dibandingkan dengan golongan Hizbulloh atau golongan penegak kebenaran walaupun golongan penegak kebenaran jumlahnya lebih banyak maka dapat dipastikan golongan Hizbusy Syaithon dapat mengalahkan golongan Hizbulloh.
Ada sebuah Hadits yang disusun oleh Abi Dawud yang menerangkan bahwa umat Islam pada akhir zaman akan menjadi santapan oleh umat-umat yang lain.
Pada suatu ketika ada sohabat yang bertanya kepada Rosululloh SAW :
“apakah pada waktu itu nanti kami menjadi golongan yang sedikit?”
Kemudian Rosululloh SAW menjawab :
LAA BAL ANTUM AKTSAR yang artinya tidak, tetapi pada waktu itu nanti menjadi golongan yang banyak. Hanya saja kamu nanti seperti buih di dalam hatimu ada penyakit ( wahan )”.
Kemudian sohabat bertanya lagi :
“Apakah wahan itu ?”
Jawab Rosululloh SAW :
“Wahan itu penyakit hubbud dun-yaa ( cinta dunia ) dan takut akan kematian”.
Makanya perlu kamu pahami, Nang. Bahwa yang menjadikan umat Islam itu seperti buih, umat Islam itu keropos, itulah yang menyebabkan umat Islam mudah menjadi santapan umat yang lain karena di dalam jiwanya umat Islam tersebut digerogoti penyakit warhan. Ibarat pohon yang tinggi besar bakal lapu kemudian daun-daunnya berguguran menjadi kering kerontang karena digerogoti ulat di dalam batangnya.” Jelas P. Syukus secara detail yang disimak dengan saksama oleh putra tunggalnya itu.
“Kalau begitu apa kita harus berani berperang dan berani mati di medan perang, Pak?” Tanya Sadar penasaran.
“Pengertian cinta dunia dan takut mati itu ada 2 makna, anakku. Yaitu : Makna dhohir dan makna bathin.
Kalau makna dhohir bisa jelas bisa dipahami sedangkan yang makna bathin itu mempunya pengertian yang luas. Misal seseorang yang mau bershodaqoh atau membantu orang lain. Karena saking cintanya kepada hartanya dan kalau kekurangan akhirnya tidak jadi bershodaqoh. Itulah contoh yang sederhana. Jadi jangan ditafsirkan takut mati itu terus berubah menjadi berani mati kemudian mencari-cari masalah atau mencari-cari musuh untuk diperangi. Bukan itu maksudnya. Coba kamu perhatikan saat ini saja. Banyak orang Islam yang tidak peka terhadap penderitaan sesama manusia. Walau ia sudah pergi haji berulang kali tetapi tidak pernah mau mengerti saudaranya yang lagi mengalami kekurangan dan tidak mau membantu karena takut hartanya akan berkurang atau habis. Itu namanya hubbud dun-yaa sekaligus takut mati (takut hartanya habis). Paham ya, Nang?” Tanya P. Syukurkhawatir anaknya belum paham.
“Oh, saya kira harus berani mati dengan jalan berperang, Pak.” Sahut Sadar sambil setengah bercanda.
“Sekarang bapak lanjutkan lagi. Kalau tadi memakai dalil naqol dan sekarang kita memakai dalil tarikh. Ketika Rosululloh SAW di Mekkah, beliau belum mengorganisir pengikutnya karena beliau masih membentuk kader-kader yang tauhid hingga selama sebelas tahun. Kemudian pada tahun ke 12 kenabian beliau menyeleksi kader-kader tauhid tersebut dengan cara diseleksi keimanannya melalui peristiwa-peristiwa Isro’ Mi’roj. Dengan adanya seleksi Isro’ Mi’roj tersebut maka kader-kader Tauhid tersebut pecah menjadi 3 golongan, yaitu :
1. Golongan yang tambah kuat imannya. Dan golongan inilah yang dipeloporo oleh Shohabat Abu Bakar Shiddiq.
2. Golongan yang murtad dari Islam.
3. Golongan yang terombang-ambing antara iman dan kufur karena peristiwa Isro’ Mi’roj dianggap sulit diterima dengan akal pikir. Padahal harusnya selain dipahami secara akal pikir harus juga dipahami dengan iman.
Maka pada tahun ke 13 kenabian beliau, kader-kader tauhid yang lulus seleksi dengan adanya peristiwa Isro’ Mi’roj masih diuji lagi dengan peristiwa hijrah dari Mekkah ke Medinah. Dan dari ujian ini pun ada yang lulus dan ada juga yang tidak lulus. Setelah Rosululloh sampai ke Medinah barulah beliau membentuk organisasi yang tersusun dari shohabat-shohabat Muhajirin, Anshorin (Hizbulloh) untuk bersama-sama melawan Hizbusy Syaithon yang diorganisasi oleh golongan kaum kafirin. Maka terjadilah peperangan sampai 52 kali. Berkat kwalitas kader Tauhid Muhajjirin , Anshorin serta kokohnya persatuan serta disiplin yang tinggi akhirnya dapat mengalahkan golongan Hizbusy Syaithon walaupun jumlah pengikut Hizbusy Syaithon lebih besar. Itu semua karena adanya uswatun hasanah yang dicontohkan oleh Rosululloh SAW.” Tutur P. Syukur menghentikan ceritanya karena menyulut rokoknya.

“Tetapi, sekarang umat Islam kok tercerai berai dan membentuk kelompok sendiri-sendiri dan masing-masing kelompok mengklaim kelompoknyalah yang benar.” Kata Sadar mengkritisi.
“Itulah sebabnya mengapa umat Islam sekarang mudah diadu domba dengan sesame muslim oleh pihak-pihak yang memang ingin menghancurkan Islam. Dengan dirimu menjaga imanmu supaya tidak tercemari oleh hal-hal yang batal , Insya Alloh tidak akan mudah diadu domba. Dan untuk itu semua dibutuhkan pedoman hidup. Di dalam pedoman hidup itu kita harus menginsyafi bahwa hidup kita mempunyai kebutuhan yang fundamental dengan prinsip diantaranya :
1. Hidup itu membutuhkan dasar hidup agar hidup kita tidak tenggelam ke dalam sesuatu hal yang sia-sia.
2. Hidup kita itu butuh pedoman hidup agar hidup kita tidak terombang-ambing antara yang haq dan yang bathil.
3. Hidup kita memerlukan kompas hidup agar perjalanan hidup tidak salah arah untuk menuju shirothol mustaqim.
4. Hidup kita membutuhkan jangkar hidup agar tidak hanyut ke gelombang dlolalah.
5. Hidup kita butuh pelita hidup agar bisa keluar dari kegelapan.
6. Hidup kita memerlukan nilai hidup hakiki agar supaya hidup kita menjadi hidup yang bermakna.
7. Hidup kita perlu tiang pancang hidup agar supaya hidup kita menjadi istikomah untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang fundamental itu, Allah Ta’ala menurunkan sebuah surat yang sangat pendek namun mencukupi. Walau surat tersebut ringkas tetapi mencakup semuanya.
Seperti yang ada dalam Alqur’an Surat Al Ashr yang terdiri dari 3 ayat. Dan 3 ayat tersebut bapak yaqin dirimu sudah hafal kan?” Tanya P. Syukur menghentikan penjelasannya karena ingin mengetahui ingatan anaknya tentang surat Al Ashr tersebut.
“Alhamdulillah hafal, Pak.” Jawab Sadar membuat hati ayahnya lega.
“Syukurlah. Sekarang bapak lanjutkan lagi. Muhammad Al Ghozali seorang pengarang kitab tafsir Al Maudlui Bisuuri Al Qur’aanul Karim, dalam tafsirnya hal 539 waktu menafsiri Surat Wal Ashri beliau menukil perkataan Imam Syafi’I RA yang artinya demikian :
“Kata Imam Syafi’I : “Seandainya tidak diturunkan kepada manusia surat-surat yang lain melainkan hanya surat ini saja, pastilah mencukupi kalau digunakan sebagai pedoman hidup bagi manusia. Dan yang dimaksud cukup disini adalah :
– Cukup untuk dasar hidup
– Cukup untuk pedoman hidup
– Cukup untuk kompas hidup
– Cukup untuk jangkar hidup
– Cukup unutk pelita hidup
– Cukup untuk nilai hidup
– Cukup untuk pancaran hidup.
Di dalam surat tersebut ayat 1 yang bunyinya wal ashri yang artinya : Perhatikanlah masa. Masa itu maksudnya waktu. Jadi kita diperintah untuk memperhatikan waktu. Dan waktu itu ada waktu dahulu (masa lalu), waktu sekarang dan waktu yang akan datang. Baik manusia masa lalu, manusia masa kini serta manusia masa datang dimana sajalah pastilah akan mengalami kerugian, pasti akan tenggelam ke dalam lumpur kehinaan dan ke sia-siaan kecuali manusia tersebut memiliki 4 hal, yaitu :
1. Amanu
2. Amilush
3. Tawaa Shoubil Haqqi
4. Tawa Shobish Shobri.
Dan kapan saja dimana saja serta siapapun juga jika tidak memiliki 4 hal tersebut maka dijamin orang tersebut akan mengalami kerugian yang tidak terkira.
Seandainya 4 hal tersebut diurai satu persatu secara tertulis maka akan menjadi kitab yang tebal, Nang. Akan tetapi perlu kita insyafi pula bahwa Alqur’an dan Al Hadits serta seluruh undang-undang di dunia ini semuanya itu tidak mempunya tangan dan kaki. Maksudnya semua itu tidak bisa berdiri sendiri. Tidak bisa tegak sendiri, berbuat sendiri. Oleh sebab itu apabila Alqur’an dan Hadits Nabi serta undang-undang buatan manusia ini kala Cuma hanya diomongkan, didalilkan saja. Atau Cuma jadi bahasan saja. Bahkan kalau Cuma dipidatokan atau dilombakan hafalannya saja tanpa diamalkan dalam bentuk praktek kehidupan sehari-hari di kehidupan masyarakat dengan didasari iman yang bersih tanpa tercampuri dengan hal-hal yang batal, maka dengan jalan itulah maka kita akan mendapatkan manfaat hidup.” Untuk sesaat P. Syukur menghentikan pelajarannya karena terbatuk sehabis menghisap rokoknya.
“Harusnya bapak menghentikan saja rokoknya.” Celetuk Sadar mengingatkan ayahnya karena merasa iba melihatnya.
“Ya…ya..ya..akan bapak perhatikan nasihatmu.” Sahut P. Syukur.
“Betul lho, Pak? Saya hanya tidak tega melihat bapak jatuh sakit gara-gara merokok.” Desak Sadar.
“Ini ceritanya membahas rokok apa pelajaran?” Tanya P. Syukur.
“Ya pelajaran dong, Pak. He…he…he.. maaf.” Jawab Sadar tersipu.
“Oke, sekarang bapak lanjutkan lagi. Rosululloh SAW bersabda :
Khoirun naasi anfauhum linnaasi yang artinya “sebaik-baiknya manusia itu yang bermanfaat bagi sesama manusia”.
Bermanfaat ucapannya, bermanfaat pikirannya, tenaganya, ide-ide atau saran-saranya serta nasihatnya. Kemudian bermanfaat untuk keluarga, saudara, sejawat dan seterusnya. Itulah yang diharapkan oleh semua manusia. Dan kalau merasa menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain maka janganlah sampai midlorot ucapannya, mudlorot pikirannya, mudlorot tindakannya dll.
Jika seseorang itu tidak bermanfaat bagi orang lain maka jika memiliki harta atau kedudukan penting/ tinggi akan membahayakan orang lain. Kalau mempunyai ilmu akanmenjadi ancaman atau mencelakakan orang lain dsb.

Jika manusia itu disaat hidupnya mudlorot maka ketika sudah mati walaupun sudah puluhan tahun terkubur akan tetap saja diocehkan oleh orang-orang yang pernah mengenalnya. Jika sudah demikian maka sia-sialah hidupnya . Oleh sebab itu Nang, bapak berpesan kepadamu agar kamu ketahui bahwa jiwa agama Islam itu ada 2, yaitu : Keimanan dan kemanusiaan.
Jiwa yang menjiwai ibadah sholat itu keimanan dan kemanusiaan. Ibadah Puasa juga yang menjadi jiwa keimanan dan kemanusiaan. Kemudian yang menjadi jiwa ajaran zakat juga keimanan dan kemanusiaan, Pun demikian pula dalam ibadah haji juga ada jiwa keimanan dan kemanusiaan. Seseorang yang hanya ada jiwa keimanan saja tanpa ada kemanusiaan itu digolongkan sebagai pendusta agama. Sebagaimana diterangkan dalam Alqur’an sbb :
ARO-AITALADZII YUKADZIBU BIDDIIN, FADZAALIKAL LADZII YADU’UL YATIIM (Al Maa’uun/1-2).
Sekarang pertanyaannya, mengapa orang sudah sholat , sudah puasa dan bahkan sudah melaksanakan haji masih dikatakan sebagai pendusta agama ?” Tanya P. Syukur mengakhiri ceramahnya dengan memberikan pertanyaan kepada putra tunggalnya itu.
“Bapak tadi kan telah menerangkan bahwa dalam Islam itu ada jiwa keimanan dan jiwa kemanusiaan. Lha kalau orang Islam itu hanya sholat, puasa dan haji tetapi dalam jiwanya tidak tumbuh rasa perikemanusiaan seperti tidak peduli dengan anak yatim, tidak peduli dengan fakir miskin ini berartipendusta agama.” Jawab Sadar yang dibenarkan ayahnya.
“Betul apa yang kamu katakan. Bahwa orang Islam yang hanya menggunakan keimanannya saja maka dia akan menjadi pendusta agama. Demikian juga sebaliknya, kalau hanya kemanusiaan saja tanpa adanya keimanan adalah fatamorgana. Sebagaimana yang diterangkan dalam Surat An Nur ayat 399 sbb :
ALLADZIINA KAFARU A’MAALUHUM KASAROOBIN (Al ayah)
Yang artinya :
“Orang-orang kafir itu amalnya seperti fatamorgana”.
Jadi terkadang kamu melihat ada orang yang berbuat baik, suka menolong orang-orang yang lagi kesusahan tetapi kalau apa yang dilakukan itu tidak dijiwai dengan keimanan maka sama nilainya dengan ada tetapi tidak ada. Bagaikan bayangan dalam air di padang pasir yang tampak dari kejauhan seperti kemilauan namun setelah didekati ternyata hanya padang gersang. Itulah gambaran orang yang berperikemanusiaan tetapi tidak dijiwai dengan keimanan. Dengan adanya keimanan dan kemanusiaan itulah yang akan mencapai keselamatan dan kebahagiaan. Ini tersebut di dalam Surat Ali Imron ayat 112 sbb :
DLURIBAT ‘ALAIHI MUDZ DZILLATU AINAMAATSUQIFU ILLAA BIHABLIN MINALLOOHI WAHABLIN MINANNAASI (Al ayah)
Yang artinya :
“Dipukulkan atas mereka kehinaan dimana mereka berada kecuali ( orang yang tidak dipukul atas kehinaan dan kedustaan, orang yang berpegang teguh pada tali Alloh/keimanan dan orang yang berpegang teguh kepada tali kemanusiaan)”.

Dengan keimanan dan kemanusiaan itulah yang menjadi pendorong dan yang akan menghidupkan benih-benih akhlak makarimah yang ada di dalam jiwamu. Dan hanya itulah yang paling kuat dan Alhamdulillah keimanan dan kemanusiaan itu sudah adadi dalam dasar Negara kita yaitu Pancasila. Yaitu pada sila pertama Ketuhanan YME dan sila ke 2 kemanusiaan yang adil dan beradab. Sayangnya, Nang. Banyak yang kurang menginsyafi bahwa di dalam dasar Negara kita itu ada kekuatan yang sangat besar untuk dijadikan alat memakmurkan rakyatnya jika mau menerapkan secara konsekwen. Sayang kan, sebab dasar Negara kita yang sakti dan mempunya kekuatan hebat itu hanya dijadikan slogan saja.” Tutur P Syukur sambil menyeruput kopinya.
“Maksudnya hanya dijadikan slogan itu bagaimana, Pak?” Tanya Sadar masih belum paham.
“Maksudnya, dasar Negara yang kita punyai itu tidak dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Coba kalau masing-masing warga negara mau mengamalkan dasar negara kita itu. Khususnya dalam sila pertama yaitu Ketuhanan YME dan sila ke 2 Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. Maka kita yamg mayoritas umat Islam tidak akan mudah diadu domba sehingga rasa saling curiga mencurigai satu dengan yang lain atau agama kita dengan agama lain. Karena di dalam Alqur’an ada ayat yang menerangkan bahwa umat lain yang dekat dengan umat Islam adalah umat Nasrani
AQROBAHUM MAWADDAH.
Kamu tahu tidak, mengapa Alqur’an mengatakan bahwa umat Nasrani itu adalah umat yang paling dekat dengan umat Islam ?” Tanya P. Syukur berhenti sejenak sambil menikmati kopi jahenya.
“Tidak tahu, penjelasannya bagaimana, Pak?”
“Karena sewaktu umat Islam masih dalam keadaan lemah di Mekkah, saat itu umat Islam mendapat tekanan dan ancaman keselamatan dari orang-orang kafir Quraish. Karena waktu itu umat Islam masih menjadi golongan yang kecil dan lemah dan penuh dengan tekanan dan ancaman kemudian oleh Rosululloh SAW supaya berhijrah.
“Hijrah kemana Rosul?” tanya shohabat,
“Silahkan hijrah ke Ethiopia atau ke Babsy (Negara Kristen/Nashroni). Fa Insya Alloh akan mendapat perlindungan di sana.” Jawab Rosul.
Akhirnya rombongan orang-orang Islam yang masih sedikit itu jadi hijrah ke Afrika dan meminta perlindungan ke raja Nashrani. Hijrahnya orang-orang Islam itu diketahui oleh orang-orang kafir Quraisy yang akhirnya juga berusaha agar orang-orang Islam yang hijrah itu diusir kembali ke Mekkah oleh Raja Nashrani.” Tutur P. Syukur.
“Apa yang dilakukan oleh orang-orang kafir Quraisy itu, Pak ?”
“Caranya yaitu orang-orang kafir Quraisy itu berusaha menyuap raja Habsy yang waktu itu menganut agama Nashrani. Dengan membawakan bermacam-macam hadiah mahal dan mewahuntuk diserahkan kepada raja tersebut.” Jelas P. Syukur.
“Lho, suap menyuap waktu itu sudah ada ya , Pak?” Tanya Sadar heran.

“Yang namanya suap menyuap itu sudah ada sejak jaman behula, Nang. Cuma bedanya kalau suap menyuap jaman sekarang lebih canggih. Sudahlah, kita tidak usahmembahas tentang suap. Kembali kepada orang kafir Quraisy yang berusaha menyuap raja Habsyi. Setelah rombongan orang kafir itu sampai ke Ethiopia dan menemui raja Habsy dan memberikan laporan palsu yang isinya melaporkan bahwa orang Islam yang hijrah ke Ethiopia itu sebenarnya penjahat. Orang-orang yang suka menghasud dan suka membuat keonaran di tanah airnya. Mendengar laporan yang berisi hasudan dari orang-orang kafir Quraisy seperti itu sang raja tidak mudah begitu saja percaya. Akhirnya dipanggilah orang-orang Islam yang memohon perlindungan raja Habsyi karena sang raja tidak mau hanya mendapat laporan sepihak. Kemudian raja tersebut menanyai rombongan orang Islam yang hijrah ke negerinya.
“Apa diantara kalian ada orang yang dekat dengan Muhammad yang mengaku Nabi itu ?” Tanya sang raja.
Kemudian ada yang mengacungkan jarinya yaitu shohabat yang bernama Jafar Soib sambil berkata :
“Saya orang yang paling dekat dengan Muhammad.”
Kemudian raja bertanya lagi :
“Ada hubungan apa kamu dengannya ?”
“Saya saudara misan.” Jawab Jafar.
Peristiwa tersebut disaksikan oleh banyak orang bahwa yang namanya Jafar adalah yang paling dekat dengan Muhammad.
Kemudian raja bertanya lagi :
“Sekarang saya bertanya, apakah orang yang bernama Muhammad itu ada nenek moyangnya yang keturunan Nabi, keturunan Raja ?”
Kemudian ada yang menjawab :
“Tidak ada!” Dan jawaban tersebut dicatat oleh punggawa raja.
“Apakah Muhammad keturunan dari orang kaya ?” Tanya raja lagi.
“Bukan, bahkan Muhammad itu penghidupannya dari menggembala kambing.” Jawab seseorang yang mana jawaban tersebut juga dicatat punggawa raja.
“Apakah sebelum mengaku menjadi nabi diketahui oleh umum bahwa Muhammad itu memang pendusta, pembual, penghasud?” Tanya raja lagi.
“Kami tidak pernah walau sekali pun mengetahui atau menyaksikan bahwa Muhammad itu pendusta.” Jawab semua umat Islam yang berkumpul disitu dan jawaban tersebut juga dicatat.
Kemudian raja masih bertanya lagi :
“Apakah orang-orang yang masuk mengikuti ajaran Muhammad itu terdiri dari orang-orang yang kuat atau tokoh masyarakat ?”
“Tidak, mereka terdiri dari orang-orang yang lemah.” Jawab mereka. Dan jawaban dicatat lagi.
“Pengikutnya Myhammad itu setiap hari bertambah apa berkurang?” Masih pertanyaan raja.
“Bertambah-tambah.” Jawab mereka lagi dan dicatat pula.
“Apakah orang yang masuk Islam itu ada yang keluar atau meninggalkan Islam?” Tanya raja makin mendetail.
“Tidak ada, Tuan.” Jawab mereka dan msh dicatat.
Memang raja ini sangat bijak dan cerdik. Dari menyelidiki pribadi Muhammad kemudian ke pengikutnya baru menyelidiki ajarannya.
“Apa yang diajarkan oleh Muhammad kepada kamu semua?” Tanya raja lagi.
Kemudian mereka menjawab :
“Kami dilarang : 1. Menyembah selain Allah 2. Minum minuman khomer 3. Berzina 4. Berdusta 5. Berkhianat. Dan kami diperintah agar saling tolong menolong, saling menyayangi, membantu fakir miskin. Dulu kami sering berkhianat tetapi sekarang sudah tidak lagi kami lakukan.” Jawb mereka secara detail tentang ajaran Muhammad.
“Bagaimana ajaran yang diajarkan kepada kamu semua tentang Isa dan Maryam ?” Tanya raja yang sudah menyinggung kepada keyaqinan yang dianutnya sendiri yaitu Yesus (Nabi Isa).
“Kami diwajibkan percaya bahwa Isa bin Maryam adalah Rosul Allah dan siapa yang tidak percaya adalah kufur.” Jawab mereka.
Dan jawaban tersebut masih tetap dicatat.
Setelah bertanya kepada orang-orang Islam itu kemudian sang raja berkata :
“Orang yang tidak mau berdusta kepada sesama manusia atau tidak berani berdusta kepada sesame manusia apalagi berdusta kepada Allah apalagi juga mengaku sebagai nabi itu tidak mungkin. Oleh sebab itu saya percaya bahwa Muhammad itu betul-betul Rosululloh. Seandainya saya ketemu , saya akan membasuh kakinya. Oleh sebab itu kamu semua yang disini yang meminta perlindungan saya akan saya lindungi. Jangan hiraukan orang-orang yang datang atau utusan-utusan (orang-orang kafir yang menyuap) dan saya larang mereka ke sini dan jangan coba-coba membawa pendatang yang saya lindungi ini kembali ke Mekkah. Kalau mereka sampai memaksa membawa kembali ke Mekkah orang-orang yang sudah hijrak ke sini maka mereka akan berhadapan dengan saya.” Titah raja kepada para punggawa kerajaan.
Raja akhirnya memutuskan untuk melindungi orang-orang Islam yang datang memohon perlindungan raja. Dan keputusan raja tersebut membuat orang-orang kafir tersebut kecewa. Mereka berpikir bahwa sudah jauh-jauh datang membawa oleh-oleh tetapi tidak ada hasil apa-apa.” Tutur P. Syukur menghentikan ceramahnya karena menyalakan rokoknya.
“Bapak kok bisa secara detail memberi penjelasan itu memangnya dapat informasi dari mana, Pak?” Tanya Sadar penuh kagum.
“Itu semua diterangkan di dalam Tarikh Siroh Ibnu Hisyam. Siroh Ibnu Hisyam itu induknya kitab tarikh nabi seluruh dunia yang terdiri dari 3 jilid besar. Itulah sebabnya orang-orang Nashrani sampi disebut dengan : AQROBUHUM MAWADDAH yang artinya yang dekat dan kasih. Jika kita mau memahami ini maka tidak akan mudah kita diadu domba dengan umat Nashrani.

Terkadang ada orang yang salah menafsirkan Surat Albaqoroh ayat 120 yang bunyinya sbb :
WALAN TARDLOO ANKAL YAHUUDU WALANNASHOOROO HATTAA TATTABI’A MILLATAHUM (Al Ayah )
Yang artinya :
“Tidak akan rela kepadamu orang-orang Yahudi dan tidak akan rela orang-orang Nashrani sehingga orang-orang Islam akan menjadi orang-orang Yahudi dan Nashrani”.
Ayat ini jika dipahami dengan ditelan mentah-mentah , orang-orang Yahudi tidak akan rela sebelum umat Islam semua menjadi Yahudi begitu pula orang-orang Nashrani tidak akan rela , belum lega hatinya kalau umat Islam belum masuk Nashrani maka pehaman tersebut akan menganggap bahwa orang-orang Yahudi dan Nashrani adalah musuh. Mereka akan mengatakan bahwa ini kata Alqur’an. Padahal ini adalah masalah rasa hati. Masalah sebenarnya bukan Yahudi dan Nashrani saja. Kita juga akan begitu. Bahwa kita mengharapkan agar semua orang di dunia ini masuk Islam. Ini masalah rasa, maka jangan dipahami secara leterlek yang akan menggiring untuk mudah diadu domba dengan umat Yahudi dan umat Nashrani.” Jelas P. Syukur.
“Memang betul apa yang bapak dawuhkan. Kebanyakan orang memahami ayat-ayat tadi secara leterlek sehingga banyak orang Islam yang timbul rasa antipasti terhadap umat yang disebut dalam ayat tersebut tadi.” Sahut Sadar mengomentari ayahnya.
“Makanya seperti yang bapak sampaikan dimuka tadi, janganlah keimananmu kau campuri dengan hal-hal yang batal sehingga kau bisa memfilter setiap langkah, setiap gerak dan pemikiranmu. Bawalah pikiran kita, gerak kita dan perilaku kita kea rah yang haq atau benar. Dengan demikian mudah-mudahan apa yang bapak terangkan padamu kali ini dapat kau pahami dan resapi. Nanti atau besok atau entah kapan bapak menunggu tanggapanmu terhadap apa yang baru saja bapak sampaikan agar bapak tahu apakah dirimu telah mampu menyerap pelajaran ini atau tidak. Kamu paham apa yang bapak maksud, Nang?’ Tanya P. Syukur mengakhiri ceramahnya.
“Insya Allah paham, Pak.” Sahut Sadar percaya diri.

TAMAT.

Comments

comments

Tinggalkan Balasan