(Kisah Rohani) Kisah Hidup Sang Janda

Disuatu sore :
“Kamu kenapa nduk saya perhatikan dari tadi kok tampak suntrap, tampak sedih, apa ada sesuatu yang kau pikirkan nduk cah ayu ?” tanya seorang ibu kepada anak perempuannya.
“tidak apa-apa kok , mak. Aku baiki-baiki saja”. Jawab sang anak.
“jangan goroh (bohong) ya, nak. Emakmu ini sudah hamper setengah abad merasakan pahit getirnya hidup ini. Jujur saja apa yang sedang kau pikirkan barangkali emak bisa membantu.” Bujuk si emak.
Tetapi nampaknya si anak tidak mempan dibujuk terbukti masih belum mau mengaku apa yang sedang menimpa dirinya.
Walau dengan berbagai macam cara bujuk rayu dilakukan oleh perempuan yang tampak tua karena beban hidup yang menerpanya, tetapi hanya kebisuan si anak yang didapat.
“Oh…Gusti kang akaryo jagad, kejadian apakah yang menimpa anak gadisku ini ? Tolonglah berikanlah ketabahan dan kekuatan kepadanya yaa Allah Yang Maha Perkasa.” Rintih si emak di dalam hatinya.
Memang bik Atun nama panggilan si emak gadis yang kini sedang gundah itu, sepeninggal Kusnadi sang suami yang wafat ketika 2 orang anaknya masih kecil-kecil maka sejak saat itu dia harus bekerja keras membanting tulang sebagai tukang cuci pakaian para tetangga yang membutuhkannya. Dan itu semua ia lakukan demi untuk memenuhi kebutuhan hidup 2 orang anaknya yang kala itu masih kecil-kecil.
Dari segi paras memang bik Atun memang memiliki paras yang lumayan. Seandainya mau, dia bisa menikah lagi karena sepeninggal suaminya tidak sedikit pria yang berusaha memperisterinya. Tetapi entah mengapa itu tidak ia lakukan . Mungkin karena trauma atau takut kalau peristiwa kematian suaminya akan menimpa suaminya yangbaru apabila ia menikah lagi. Atau ia tidak ingin ke 2 anaknya mempunya ayah tiri yang tahu hanya bik Atun sendiri.
“Ada perlu apa , Tun. Pagi-pagi kamu sudah menemui diriku ?” tanya kyai tersebut ketika dikunjungi bik Atun.
“Saya yaqin simbah tentu sudah tahu maksud kedatangan cucumu ini, mbah.” Jawab bik Atun.
“Pantang bagi simbah menebak teka-tekinya sendiri, Tun. Kita tidak boleh mendahului Kuasanya Gusti.” Kata Kyai Waskita.
“Baiklah mbah, saya ada masalah dengan anak perempuan saya, mbah.”
Belum selesai kalimat bik Atun sudah dipotong kyai Waskita.
“Nila, maksudmu?” tebak Kyai tersebut.
“Betul, mbah.” Kata bik Atun membenarkan.
“Kenapa dengan si Nila, nduk? Tanya Kyai Waskita.
“Ya, mbah. Akhir-akhir ini saya perhatikan dia tampak sedih . Dan ketika saya tanya dia tidak mau mengaku tentang apa-apa yang sedang ia alami. Saya jadi sedih. Apa yang mesti saya lakukan. Kalau toh saya diberi limpahan harta yang banyak, ingin rasanya saya membahagiakan anak-anak saya, mbah. Sayangnya saya hanya seorang janda yang miskin.” Tutur bik Atun dengan nada mengeluhkan nasib yang sedang dialaminya.
“Astaghfirulloh ! Istighfarlah kamu, nduk. Janganlah kamu menjadi orang yang kufur agar supaya tidak terkena laknat Allah. Sebab orang yang tidak mau bersyukur itu akan diberi laknat oleh AllahTa’ala.” Nasehat Kyai Waskita pada bik Atun dengan nada setengah marah.
“Apa yang mesti saya syukuri, mbah. Dengan nasib saya yang seperti ini, yang selalu diterpa dengan kesulitan dan penderitaan hidup? Sebagai seorang janda yang ditinggal mati oleh suami dengan ditinggal 2 orang anak yang masih kecil-kecil saat itu. Pun tidak harta warisan yang ditinggalkan selain anak-anak yang masih butuh pengasuhan.” Jelas bik Atun menceriterakan kisah hidupnya.
“Harusnya dirimu bersyukur dipilih oleh Allah untuk mengikuti seleksi peningkatan derajad.” Kata P. Kyai.
“Maksud mbah bagaimana ?” tanya bik Atun heran.
“Ya, dengan laku dan lelakon yang kamu alami itu sebenarnya ujian untuk peningkatan derajadmu di sisi Allah. Entah itu lelakon baik atau pun buruk. Lelakon enak atau pun tidak enak. Jika lelakon baik dan enak maka terimalah dengan rasa penuh syukur. Sedangkan kalau lelakon yang kamu alami itu buruk atau tidak enak ya terimalah dengan hati penuh kesabaran serta ikhlas. Tidak ada di dunia ini laku dan lelakon manusia yang tidak mendapatkan apa-apa dari Allah. Intinya tidak ada yang sia-sia. Entah itu lelakon baik atau lelakon buruk.” Tutur Kyai Waskita panjang lebar.
“Oh..begitu ya, mbah?”
“Ya Tun. Maka terimalah dengan sabar dan ikhlas lelakon hidup yang sedang kamu alami.”
“Baiklah, Mbah. Insya Allah saya akan jalani saran dari mbah. Sekarang saya telah mengerti dan paham tentang apa-apa yang barusan Mbah sampaikan. Tetapi bagaimana dengan nasib anak-anak saya, mbah ?”
“Kenapa dengan anak-nakmu, nduk ?”
“Apa yang bisa saya wariskan kepada anak-anak saya dengan kefakirn diri saya ini, mbah? Sedangkan suami saya tidak meninggalkan apa-apa untuk diwariskan kepada 2 orang anaknya.” Ratap bik Atun.
“Kalau almarhun suamimu belum sempat meninggalkan warisan apapun, ya nanti dirimu tho nduk yang member warisan.” Jawab Kyai Waskita yang sulit dipahami bik Atun.
“Jangan mengolok saya begitu tho, mbah.” Sahut bik Atun merasa tersinggung.
“Saya tidak memperolokkan dirimu, nduk. Apa yang mbah sampaikan ini benar adanya dan kamu bisa serta mampumemberi warisan yang berharga terhadap ke 2 orang anakmu yang sulit dan jarang dimiliki oleh setiap orang tua di dunia ini.” Jelas Kyai Waskita.
“Apa benar, mbah. Dan warisan apa itu ? tanya bik Atun penasaran.
“Coba simbah tak tanya dulu sama dirimu. Awalnya Rosul itu siapa dan akhirnya Rosul itu siapa ?” pertanyaan Kyai Waskita yang sulit di jawab oleh bik Atun.
“Apa hubungannya dengan pertanyaan saya tadi, mbah ?”
“Ada hubungannya dan tolong jawab dulu pertanyaan simbah, nduk.” Tegas Kyai Waskita.
“Awalnya Rosul jelas Nabi Adam As dan akhirnya Rosul jelas Nabi Muhammad SAW.” Jawab bik Atun percaya diri.
“Betul. Nah ingatlah ketika kanjeng nabi menjawab saat ada pertanyaan dari sahabatnya tentang berapa jumlah nabi yang ada du dunia. Nabi menjawab ada 124.000 nabi. Dan itu terdapat dalam :
AWWALUR ROSUULI AADAMA WA AAKHIRUHUM MUHAMMADUN yang artinya awalnya Rosul itu Adam dan akhirnya Rosul Muhammad.
Semua Rosul, semua nabiyang jumlahnya 124.000 orang itu semuanya kini telah tiada. Sewaktu nabi Muhammad SAW masih hidup dan semua nabi-nabi sebelum nabu Muhammad telah tiada, telah wafat. Tersebut di dalam Alqur’an . Sayangnya simbah tidak ingat di dalam surat apa yang bunyinya demikian :
WAMAA JA’ALNAA LIBASYARIN MIN QOBLIKAL KHUDL AFAIN MITFA FAHUMUL KHOOLIDUUN
Yang artinya :
Dan kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad). Maka jikalau kamu telah mati apakah mereka akan kekal ?
Coba kamu angan-angan, nduk. Jika kini nabi yang 124.000 orang itu telah wafat , apakah yang telah mereka tinggalkan ?
Apakah meninggalkan warisan harta benda yang melimpah ruah ?
Apakah meninggalkan pangkat keduniawiaan ? Jawabnya tentu tidak.
Mereka hanya mewariskan ilmu. Dan kanjeng nabi dawuh :
AL ILMU MIIROOTSI WA MIIROOTSUL ANBIYAA-I
Yang artinya : ilmu itu warisanku dan warisan semua nabi-nabi se mua sebelum aku.
Jadi nabiyullah Adam As, nabiyullah Ibrohim As, Nabiyullah Nuh As, nabiyullah Isa As dan terakhir nabi Muhammad SAW dan nabi-nabi yang lainnya semuanya mewariskan ilmu.
Bahkan Syayyidina Ali berkata :
AL ILMU MIIROOTSUL ANBIYA-I WAL MAALU MIIROOTSU QOORUUNA WA SYADDAAD WA FIR’AUN
Yang artinya : ilmu itu warisannya para nabi dan harta itu warisannya Qorun Syaddad dan Fir’aun.
Dan perlu kamu ketahui, nduk. Seseorang yang bernama Imam Ghozali Rohimakhumullah . Tahu nggak dirimu, siapa Imam Ghozali itu ?” tanya Kyai waskita memutus nasihatnya yang panjang lebar.
“Tahu, mjbah. Beliau adalah seorang ulama sufi tingkat dunia. Kenapa dengan beliau mbah ?” tanya bik Atun.
“Beliau berkata di dalam kitabnya Minhajul Abidin demikian :
ANNAL IBAADATA TSAMROTUL ILMI
Artinya : sesungguhnya ibadah itu buahnya ilmu.
Dan ilmu itu ibarat pohon . Jadi ibadahy wudlu, ibadah sholat, ibadah zakat, ibadah puasa , ibadah haji, ibadah dzikir, ibadah ikhlas dll itu semuanya adalah buahnya ilmu.
Oleh sebab itu orang yang banyak ilmunya akan tetapi tidak beribadah adalah ilmunya tidak membuahkan sesuatu apapun.” Jelas Kyai Waskita.
“O..o..o baru paham saya, mbah. Saya piker yang dimaksud ilmu itu harus di dapat setelah sekolah tinggi sampai sarjana itu , mbah.” Kata bik Atun lega setelah mendapat penjelasan dari Kyai Waskita.
“Kalau ilmu itu diukur dari harus sekolah lha terus dimana letak keadilannya Gusti tho, nduk? Kamu bisa wudlu, bisa sholat, bisa puasa dll itu apa ya bisa sendiri ? Kan mesti melalui laku dan lelakon. Kan tidak harus sekolah duwur dulu. Jadi orang yang tambah ilmunya tetapi tidak tambah zuhudnya kepada dunia dan justru malah tambah cinta kepada dunia, tambah tomak kepada dunia adalah orang yang tambah jauh dari Allah Ta’ala. Dan ini seperti yang disabdakan oleh Rosulullah SAW :
MAN IZDADA ILMAN WALAM YAZDAD FIDDUN-YAA ZUHFAN LAM YAZDAD MINALLOHI ILLA BU’DAN
Yang artinya :
“barang siapa yang tambah-tambah ilmunya tetapi tidak tambah zuhudnya kepada dunia, tiadalah tambah dari Allah kecuali tambah jauh”.
Jadi dirimu tidak perlu minder , tidak perlu khawatir karena tidan bisa meninggalkan warisan apa-apa kepada anak-anakmu. Dengan kamu tinggali ilmu pengetahuan tentang bagaimana menjadi anak yang adabin hasanin ilalloh yaitu dalam hubungannya bersopan santun terhadap Alloh, adabin hasanin ila rosul yaitu bersopan santun terhadap rosulnya, adabin hasanin ila walidaini yaitu bersopan santun terhadap orang tuanya , adabin hasanin ila malaikati, ila naas dlsb. Itulah warisan yang tiada ternilai dan tidak semua orang tua mampu member warisan itu.” Tutur kyai Waskita panjang dan mudah dimengerti.
“Tetapi saya tidak mempunya pengetehuan rohani yang mumpuni, mbah. Apa bisa saya member warisan ilmu kepada anak-anak saya ?” keluh bik Atun.
“Untuk mendidik anak yang santun tidak dibutuhkan ilmu yang tinggi. Cukup dngan budi pekerti yang baik dan yang ditanamkan pada hati anak-anak itu sudah menjadi warisan ilmu. Sebab banyak orang tua yang tinggi ilmunya tetapi tidak mempunya budi pekerti yang baik yang diwarisi anak-anaknya. Oleh sebab itu, nduk, camkan kata-kata simbah ini bahwa kita semua ini bakal meninggalkan dunia ini dan memasuki alam akherat. Kita semua akan meninggalkan alam fana dan menuju alam baqo. Kita akan meninggalkan alam bayangan dan menuju alam haqiqi. Dan apa yang paling baik buat kita persiapkan? Apa yang paling baik untuk kita wariskan kepada anak-anak kita? Warisan apakah yang paling baik kita tinggalkan di dunia ini ? Dan juga warisan apakah yang paling utama ?
Terhadap pertanyan-pertanyaan tersebut Rosulullah SAW sudah member jawaban sbb :
MAA AAHLA WALIDUN WALADDAHU AFDHOLA MIN ADABIN HASANIN
Yang artinya :
“tidak ada warisan orang tua kepada anaknya yang paling utama disebut warisan adabin hasanin”.
Jadi seperti yang simbah sampaikan di muka tadi, bahwa adabin hasanin adalah warisan yang paling utama. Bukan warisan rumah tanah dan harta berlimpah dll karena semua itu bukan warisan yang paling utama. Karena warisan yang paling utama adalah adabin hasanin. Dan itu semua dapat diperoleh dengan memberikan pendidikan yang baik terhadap anak-anak kita. Tetapi pendidikan yang baik terhadap anak-anak kita tidak akan bisa kalau kita sendiri tidak memberikan contoh yang baik.” Jelas kyai Waskita yang kemudian melinting rokok dari tembakau yang ada di dekatnya.
Setelah menyalakan rokok lintingannya, kemudian kyai Waskito mengajukan pertanyaan kepada bik Atun.
“Kira-kira paham apa tidak dengan apa yang simbah katakana tadi, nduk?”
“Insya Alloh paham, mbah. Jadi kita mewariskan harta benda , rumah, pangkat keduniaan dsb itu bukan warisan yang utama ya, mbah ?” sahut bik Atun sudah mulai paham.
“Betul nduk. Yang penting kita wariskan pada anak-anak kita menurut dawuh Rosulullah SAW tadi yaitu adabin hasanin. Yang artinya sudah mbah jelaskan tadi. Bahkan yang namanya adabin hasanin ( sopan santun ) itu juga terhadap diri sendiri, terhadap keluarga, terhadap tanah airnya. Kemudian sopan satun terhadap masyarakat sekelilingnya dsb.” Kata Kyai Waskita menambahi.
“terus caranya bagaimana, mbah ?” tanya bik Atun masih penasaran.
“Caranya semua itu sudah diatur di dalam Alqur’an dan Hadits nabi Muhammad SAW. Dan untuk mencapai adabin hasanin tersebut musti melalui pelajaran-pelajaran , pendidikan-pendidikan. Memberi contoh-contoh yang baik seperti yang barusan mbah sampaikan. Dan perlu kamu mengerti, nduk, bahwa manusia yang memiliki sifat adabin hasanin itulah yang disebut manusia yang adil dan beradab. Atau kemanusiaan yang adil dan beradab itulah sifat dasar Negara kita ini. Makanya sekali lagi mbah ingatkan bahwa kamu mampu meninggalkan warisan kepada anak-anakmu yang berupa adabin hasanin seperti yang mbah terangkan tadi.” Jelas Kyai Waskita yang membuat hati bik Atun merasa damai.
“Oh ya , mbah. Tolong diperjelas makna dari adabin hasanin itu ?”
“Jadi simbah ngoceh panjang lebar tadi dirimu belum jelas ya ? Baiklah, adabin hasanin itu dari kata ADAB ( tata karma ) dan HASANIN (baik, yg baiknya itusesuai dengan apa yang dikehendaki Allah). Sekarang paham ya, nduk ?”
“Alhamdulillah, sekarang semakin paham , mbah. Intinya saya minimal harus bisa membimbing sholat, dan memberikan ilmu kepada anak-anak saya seperti yang mbah ajarkan tadi.” Sahut bik Atun yang membuat hati kyai Waskita lega.
“Betul sekali, nduk. Tapi ya harus benar. Sebab sholat dan ilmu itu juga bisa ditolak oleh Allah Ta’ala kalau tidak benar.” Jawab Kyai Waskita menekankan makna dari sholat.
“Lho, kok bisa begitu mbah ? sholat yang tidak benar itu sholat yang bagaimana, mbah ? Saya kok jadi bingung.” Sergah bik Atun penasaran.
“Sebagaimana hadits nabi yang simbah sampikan di muka tadi yaitu :
MAN IDZDAADA ILMAN WALAM YAZDAD FIDDUN-YAA ZUHDAN LAM YAZDAD MINALLOHI ILLA BU’DAN
Yang artinya :
“barang siapa yang tambah-tambah ilmunya tetapi tidak tambah zuhudnya tentang dunia maka hakekatnya tidak ada tambahnya dari Allah kecuali tambah jauh”.
Jadi menurut hadits ini orang yang tambah ilmu nahwunya , orang yang tambah ilmu fiqihnya, orang tambah ilmu kebatinannya dsb akan tetapi zuhudnya kepada dunia tidak tambah tetapi justru malah tambah-tambah cintanya kepada kehidupan dunia sehingga makin mendalam cintanya kepada dunia sehingga pandangan kehidupan akhirat makin menipis maka hakekatnya makin menjauh dari Allah Ta’ala.” Jelas Kyai Waskita.
“Kalau tambah jauh dari Allah itu artinya bagaimana, mbah ?” tanya bik Atun belum paham.
“Jika tambah jauh dengan Allah Ta’ala sudah pasti akan dekat dengan lainnya Allah. Tambah dekat dengan hawanya, tambah dekat dengan hartanya, tambah dekat dengan pangkat/jabatannya, tambah dekat dengan isi dunia dlsb dan itu sudah otomatis tambah dekat dengan lainnya Allah Ta’ala, nduk. Padahal yang tambah dekat selain Allah yang ada di dunia ini bakal kita tinggalkan. Jika sampai kepada Allah tidak tambah dekat tetapi malah jauh , untuk apa semuanya itu bagi kita ? Tidak ada apa-apanya. Ini s9mbah kutipkan dawuh Rosululloh SAW :
MAN LAM TANHA SHOLAATAHU ANIL FAHSYA’I WAL MUNKARI LAM YAZDAD MINALLOHI ILLA BU’DAN
Yang artinya :
“barang siapa yang sholatnya tidak mencegah dari fahsya’I dan munkar tidak aka nada tambahnya dari Allah melainkan tambah menjauh”.
Di dalam Alqur’an juga disebutkan :
INNASH-SHOLAATA TANHA ANIL FAHSYA’I WAL MUNKAR’I
Yang artinya :
“sesungguhnya sholat itu mencegah perbuatan yang fahsya dan munkar”.
Itu tadi tentang sholat dan sebelumnya tentang ilmu, nduk.” Tutur Kyai Waskita yang kemudian menghisap rokok lintingannya.
“Fahsya itu apa dan munkar itu apa, mbah ?” tanya bik Atun lagi.
“Fahsya itu perbuatan keji, kotor yang timbul dari syahwat. Contoh : menyodomi anak-anak, memperkosa anak-anak dibawah umur dlsb. Dan munkar itu perbuatan yang timbulnya dari sifat sombong , dengki, hasud, fitnah dlsb.
Jika ada orang berilmu tidak banyak menimbulkan zuhud fiddun-yaa , dan sholatnya tidak bisa mencegah perbuatan fahsya dan munkar maka dua-duanya yaitu ilmu dan sholatnya akan berakibat tambah jauh dari Allah Ta’ala dan itu alamat sholat dan ilmunya akan tertolak oleh Allah Ta’ala.” Jelas kyai Waskita.
“hmmm….sekarang saya baru paham, mbhah. Berarti puasa bulan Romadhon yang dilakukan juga bisa terllah Ta’ala dapat diketahui dari alamatnya kok, nduk.” Jawab kyai Waskita yang membuatbik Atun kembali bingung.
“Maksudnya alamat itu bagaimana, mbah ?” tanya bik Atun penasaran.
“Alamatnya demikian , nduk :
1. Setelah puasa Romadhon selesai dijalankan maka kita dapat merasakan sendiri tambah dekat dengan Allah Ta’ala yang diwujud dengan makin tambah sabar, makin tambah tho’at , makin tambah-tambah syukur kita dlsb ini artinya puasa Romadhon yang kita lakukan telah diterima oleh Allah Ta’ala.
2. Sebaliknya apabilasetelah puasa Romadhon selesai kita rasakan pada diri kita tambah dekat dengan kemusyrikan , tambah dekat dengan kedholiman , tambah dekat dengan kemaksiyatan dlsb ini alamat puasa kita tertolak oleh Allah Ta’ala.
Itulah makna alamat yang simbah sampaikan tadi, nduk.” Jelas kyai Waskita.
“Oh..begitu ya , mbah. Jadi tertolak atau diterima oleh Allah Ta’ala puasa Romadhon kita itu dapat kita rasakan sendiri dengan dasar alamat tadi ya, mbah?” Kata bik Atun mengomentari.
“Ya benar sekali, nduk. Orang lain tidak bisa menilai ibadah puasa Romadhon yang kita lakukan. Pun, kita juga tidak bisa menilai ibadah puasa Romadhon yang dijalankan oleh orang lain. Karena ibadah puasa bulan Romadhon ini merupakan ibadah khusus yang unik yang hanya dapat diketahui oleh hamba dan Gustinya. Dan perlu kamu ketahui , nduk. Ada pepatah yang berbunyi demikian :
“bukan hari raya itu orang yang berpakaian baru. Sesungguhnya hari raya itu orang yang tambah-tambah tho’atnya”
Oleh sebab itu , nduk, latihlah hidupmu itu sehingga terbiasa menjalani hidup yang bermanfaat. Dan ketahuilah bahwa hidup itu gerak. Untuk apa kita hidup jika tidak gerak. Gerak disini tidak hanya sekedar gerak fisik ttapi juga gerak bathin.” Tutur kyai Waskita.
“Gerak bathin itu gerak yang bagaimana, mbah?”
“Gerak bathin itu maksudnya bergerak pikiranmu. Jadi jangan biarkan pikiranmu itu diam tidak berfungsi dalam menyikapi ujian hidup ini. Kemudia gerakkan akalmu untuk membantu memecahkan persoalan hidup yang ada dihadapanmu. Gerakkan ingatanmu untuk hal-hal yang baik dlsb.” Jawab kyai Waskita.
“ya, mbah. Sekarang saya paham.” Kata bik Atun singkat yang kemudian kembali menyimak apa yang disampaikan kyai Waskita selanjutnya.
“Kemudia dengan gerak bathinmu itu tidak ada artinya kalau tidak ada semangat. Sebab dengan semangat itu hidup bisa dengan mudah dijalani, mudah dihadapi dan tidak akan menjadi orang yang gampang putu asa. Dan apa arti hidup gerak dan semangat itu kalau tidak ada kekuatan? Maka untuk itu dibutuhkan kekuatan. Jadi sudah ada hidup kemudian gerak dan semangat dengan disertai kekuatan itu masih tidak ada nilainya apa-apa kalau tidak digerakkan untuk ibadah kepada Alloh Ta’ala. Karena tanpa itu semuanya akan sia-sia. Kesimpulannya walau usia hidup manusia sampai 1000 tahun tetapi kalau tidak berisi ibadah kepada Allah Ta’ala maka hidup manusia tersebut tidak ada maknanya sama sekali. Oleh sebab itu bagi ahli tashawuf hidup tanpa beribadah kepada Allah Ta’ala adalah boneka hidup yang hanya akan menjadi permainan kanak-kanak. Kalau manusia menjadi bonekanya maka setanlah yang mempermainkan hawa dan kehidupan boneka tadi. Jadi dunia hanya akan menjadi permainan syetan semata.
Ada pepatah mengatakan :
UJUUDUHU LA ADAMIHI atau adanya sama dengan tidak adanya.
Dan kamu tahu tidak, nduk tujuan hidup manusia menurut Alqur’an ?” tanya kyai Waskita sambil melihat ke mata bik Atun.
“Maaf tidak tahu, mbah. Tolong mohon dijelaskan?” jawab bik Atun yang semakin kagum dengan wawasan kyai Waskita yang begitu luas.
“Tujuan hidup manusia seperti yang diterangkan di dalam Alqur’an surat
Adz Dzariyat ayat 56 sbb :
WAMAA QOLAKTUL JINNA WAL INSA ILLA LIYA’ BUDUUN
Yang artinya : dan tidaklah aku ciptakan Jin dan manusia kecuali untuk ibadah kepadaKu.
Jadi tujuan hidup manusia itu kalau menurut Alqur’an ialah untuk ibadah. Dan ala mini diciptakan untuk manusia. Dan manusia diciptakan untuk ibadah kepada Allah Ta’ala. Tiadanya ibadah dari manusia maka akan membatalkan adanya manusia. Tiadanya ibadah dari manusia maka manusia membatalkan fungsi adanya alam semesta. Kesimpulannya : kalau tidak ada ibadah maka membatalkan fungsi adanya alam. Oleh sebab itu , nduk marilah kita sama-sama mengisi umur kita dengan ibadah kepada Allah Ta’ala.” Ajak kyai Waskita memutus ceritanya sambil menyalakan rokok lintingan buatan sendiri.
“Insya Allah, mbah. Saya akan perhatikan dawuhnya, mbah. Dan tolong dibantu do’a untuk saya dan anak-anak saya, karena sebagai janda yang tidak memiliki apa-apa selain hanya tekad saya yang ingin agar supaya anak-anak saya memiliki masa depan yang baik, mbah.” Sahut bik Atun yang bernada ada kecemasan tentang masa depan anak-anaknya.
“Simbah dapat memahamimu, nduk. Karena setiap manusia itu memang memiliki harapan yang baik. Manusia akan suka dengan harapan-harapan yang menurutnya bakal membahagiakan hatinya. Meng- harap-harap akan datangnya berita baik dan yang enak-enak. Tetapi bagi ahli tashawuf bahwa yang dimaksud dengan masa depan seluruh umat manusia itu bukan ada di dunia ini tempat dan masanya. Walau kita hidup sejuta tahun sehingga menghadapi berbagai jaman selama masih ada di dunia ini ya tetap saja masa kini. Dan yang dimaksud masa depan bagi ahli tashawuf yaitu adanya di akherat nanti ketika kita sudah wafat.
Selama kita hidup di dunia ini kita ini adalah alam. Karena apa-apa selainnya Allah Ta’ala disebut alam. Kita adalah alam. Di dalam Alqur’an :
WAMANKAANAA FIIHAADZIHI A’MAA FAHUWA FIL AAKHIROOTI A’MAA WA ADLOLLU SABILAA
Yang artinya :
“dan barang siapa yang adanya di dunia ini buta, maka di akherat juga buta dan lebih sesat jalannya”
Kita hidup di dunia ini diibaratkan masa menanam pohon toyyibah dan ketika di akherat kelak kita masanya untuk memanennya.
Di dalam Kitab Al Arba’in Fii Ushuluddin karangan Imam Al Ghozali RA halaman 79 beliau menukil sebuah Hadits yang berbunyi :
Qoola Rosululloh SAW :
ADDUN-YAA NAZROATUL AAKHIROOTI FAMAN ZARO AKHOIRON HASHODA NADAAMATAN
Artinya :
Sabda Rosulullah SAW :
“Dunia ini adalah tempat atau lading bagi akherat, maka barang siapa di dunia ini menanamkan kebaikan akan memungut sesuatu yang menggembirakan. Dan barang siapa yang menanam keburukan akan panen penyesalan”
Itulah, nduk, yang dimaksud dengan masa depan dan masa kini.” Kata kyai Waskita menghentikan ceramahnya.
“O..o..o .. jadi kalau begitu kita tidak perlu memikirkan nasib kita besok ketika tua bagaimana dan bagimana pula nantinya kehidupan masa depan anak-anak kita dan sebaginya ya, mbah?” tanya bik Atun masih penasaran.
“Tadi sudah mbah sampaikan bahwa selama kita masih hidup di dunia entah orang itu tua atau pun muda . Entah dia itu kaya atau pun miskin. Entah dia itu orang berpangkat atau rakyat jelata, entah dia itu pandai atau pun bodoh dsb tetap saja itu masa kini. Yaitu masa-masa kita menanam pohon thoyyibah.” Jelas kyai Waskita.
“Kalau kita berusaha agar hidup mapan untuk kebahagiaan kita di hari tua selama masih hyidup di dunia apa itu salah, mbah ?” desak bik Atun seakan ingin menepis apa yang disampikan kyai tua itu.
‘Apapun alasanmu entah itu untuk hari tua, untuk kebahagiaan anak-anak ketika sudah akhir balik dsb selama itu kamu lakukan dengan cara yang thoyyibah yang bakal menjadi tanaman syurga , walaupun kamu mungkin bisa secara sukses secara materi dunia ya tidak apa-apa, nduk. Paham tidak dengan apa yang simbah sampaikan ?”
“Sudah mulai agak jelas , mbah. Tetapi initinya sudah saya pahami.”
“Syukurlah kalau begitu. Dan itu tadi juga termasuk hidup adalah gerak. Menggerakkan jasad dan bathinmu seperti akal pikirmu yang kamu gunakan untuk memikirkan nasib anak-anakmu. Simbah suka dengan dengan cara-carmu dalam mendidik ke dua anakmu dimana dirimu sebagai seorang janda yang baik , ulet dan jujur yang berakhlaqul karimah. Oh ya, apakah kamu pernah dengar nama tentang seorang wanita yang bernama Dewi Masyitoh ?” tanya kyai Waskita seperti ingin menyampaikan sesuatu kepada bik Atun.
“Pernah, mbah. Dia seorang pelayan istana yang dalam cerita ketika saya masih anak-anak. Di dalam cerita ia diceritakan mati bersama suami dan anak-anaknya di dalam penggorengan hanya gara-gara tidak mau mengakui Tuhan selain Alloh. Apa betul itu yang simbah maksudkan?”
“Betul, berarti mbah tidak perlu menceritakan lagi . Begini ya, nduk. Ketika Rosulullah SAW melakukan Isro’ Mi’roj untuk ditunjukkan sebagian ayat-ayat Allah dan ditunjukkan kebenaran kisah-kisah yang selama ini hanya disampaikan melalui wahyu-wahyu Allah yang menurut istilah tashawuf INTISYAR. Diantara ratusan ayat-ayat yang ditunjukkan kepada Rosulullah itu salah satunya adlah ketika dalam perjalanan Isro’ itu di tengah-tengah perjalanan Rosulullah mencium bau yang sangat harum menakjubkan. Tidak ada di dunia ini bau harum yang selama hidup dirasakan oleh Rosulullah yang seperti bau harum itu. Karena terkejut dan heran kaka beliau bertanya kepada Malaikat Jibril ( ini keterangan dari Shohabat Ibnu Abbas ).
“Jibril, bau apakah yang sangat harum ini ?” tanya Rosul kepada M. Jibril.
“Itu bau dari kubur Masyitoh.” Jawab M. JIbril.
Kalau dihitung sampai sekarang kubur itu sudah 3780 tahunan dan sampai sekarang masih menghampar harum.
Kemudian Rosul bertanya lebih lanjut.
“Siapakah Masyithoh itu ?”
“Masyithoh itu tukang sisirnya anak perempuan Fir’aun Laknatulloh. Yang namanya sendiri (Fir’aun) itu THAT MOSIS . Dan nama ayahnya RAMSES. Julukannya di dalam Alqur’an disebut FIR’AUN. Sedangkan namanya sendiri TATHMOSIS. Pada waktu itu Masyithoh itu menyisir rambut anak perempuan Fir’aun dan sisirnya terjatuh kemudian terlontarlak kata ucapan Masyithoh tersebut oleh getaran iman :
BISMILLAH TA’ISY FIR’AUN
BISMILLAH TA’ISY FIR’AUN
Artinya :
“Dengan nama Alloh celakalah , hancurlah Fir’aun”.
Anak perempuan Fir’aun kaget mendengar ucapan Masyithoh tersebut karena waktu itu Fir’aun mengaku menjadi Tuhan. Kemudian peristiwa itu dilaporkan kepada orang tuanya. Terus dipanggilah Masyithoh.
“Betulkah kamu mengucapkan Taisy Fir’aun, Bismillah taisy Fir’aun ?” tanya Fir’aun.
“Betul.” Jawab Masyithoh
“Apa ada Tuhan selain saya ?” tanya Fir’aun lagi.
“Ada, Tuhan yang telah menciptakan kamu dan telah menciptakan alam semesta ini , dan telah menciptakan diri kami ini. Itulah yang sebenarnya Tuhan.” Jawab Masyithoh.
“Masalah ini ditutup saja.” Kata Fir’aun heran.
Fir’aun berkata demikian sebab kalau berita itu sampai tersebar luas alangkah malunya Fir’aun yang mengaku sebagai Tuhan dilawan oleh wanita yang sangat lemah yang kebetulan menjadi pelayan anak perempuannya. Kemudian Masyithoh dirayu dan akan diberi uang dinaikkan gajinya asal keimannannya kepada Alloh Ta’ala dilepaskan.
“Tidak mau !” jawab Masyithoh. Yang tetap menolak bujuk rayu Fir’aun walau dibayar dengan uang berapa pun dan dengan materi seberapa besa pun.
Coba renungkan, yang namanya Dewi Masyithoh itu wanita miskin, melarat dan tanpa daya. Akan tetapi tidak mempan dengan rayuan Fir’aun yang akan member imbalan harta yang melimpah. Biar pun dirinya miskin tetapi tetap saja tidak mau menjual keimannya. Dewi Masyithoh juga memikirkan nasib dirinya dan keluarganya untuk masa nantinya. Tetapi dia tidak memikirkan dirinya dan tidak memikirkan nasib keluarganya. Dia lebih mementingkan imannya. Jadi dia juga seperti dirimu sebagai wanita yang juga punya anak-anak yang butuh hidup mulya. Namun Masyithoh tetap tidak goyah iman dan keyakinannya atas ke Esaan Tuhannya.
“Kalau tidak mau kamu akan saya bunuh.” Ancam Fir’aun kepada Masyithoh.
“Wahai Tuhan Fir’aun, dirimu memang bisa menghancurkan tubuh saya. Tetapi jangan mengira akan mampu menghancurkan keiman saya.” Kata Masyithoh.
Singkat cerita, akhirnya ancaman Fir’aun dibuktikan tetapi dengan cara tidak langsung membunuh Masyithoh. Yakni dengan cara dimulai dari anaknya yang paling kecil dulu dengan dimaksukkan ke dalam wajan yang berisi minyak yang mendidih. Kemudian ber turut disusul dengan anak-anaknya yang lebih tua lagi terus suaminya yangb bernama HIZQIL dan yang terakhir Masyithoh sendiri.
Dan bagi Masyithoh, kalau yang dihukum dirinya sendiri dan keluarganya itu terlalu murah kalau dibandingkan dengan nikmatnya keimanan yang ia rasakan dan ia jalani.
Mengertilah, nduk. Peristiwa ini adalah suatu pelajaran bagaimana raja yang bisa menguasai wilayah Negara Mesir dan mengaku sebagai Tuhan pun tidak mampu menundukkan keimanan Masyithoh. Imannya Masyithoh sudah tidak bisa di tawar-tawar lagi. Ditekan tetap muncul lagi, ditendang tidak akan tumbang, dirayu tidak akan layu. Tidak akan lekang terkena panas, tidak pula lapuk terkena hujan. Tidak runtuh walau ada suara guruh. Dikuruskan semakin gemuk. Dimatikan imannya justru malah semakin hidup. Jangankan harta benda untuk merayu, bahkan sampai dipisahkan nyawa dengan raganya saja pun tidak akan bisa mempengaruhi keimanan Masyithoh yang sudah menyatu dengan ruh. Itulah sebabnya , nduk. Mengapa kubur Dewi Masyithoh semerbak harum tidak hanya sampai di Mesir tetapi sampai melintasi dunia melalui atmosphir-atmosphir dan bahkan sampai kea lam akherat pun masih tetap harum. Harum abadi karena itu harumnya maknawi. Harumnya iman, harumnya keyaqinan. Oleh sebab itu disaat hidupmu sedang susah, sedang prihatin dan banyak rayuan di sana-sini yang bakal menggoyang keteguhan imanmu seperti kisah Dewi Masyithoh tadi, dan jika dirimu tetap teguh pada keimananmu maka kuburmu kelak juga bisa harum seperti kubur Dewi Masyithoh.” Tutur kyai Waskita.
“Ah…sungguh sulit menemukan manusia seperti itu. Terlebih lagi seorang wanita dalam menghadapi kondisi seperti Masyithoh yang menghadapi ancaman pembunuhan untuk dirinya dan keluarganya.” Sahut bik Atun sambil berdecak penuh dengan kekaguman.
“Benar, nduk. Tetapi dirimu tidak harus seperti dia sepenuhnya. Dengan melakukan ibadah kepada Allah sesuai kemampuanmu itu saja itu sama saja dirimu sudah mendapatkan percikan iman dari Dewi Masyithoh. Ap Makannya janganlah kamu mencemaskan masa depanmu dan juga masa depan anak-anakmu hanya untuk dunia. Karena selama masih berada di dunia ini ya tetap saja masa kini. Masa depan itu ya nanti ketika kita berada di akherat. Dan itulah yang harus kamu perjuangkan.” Kata kyai Waskita memberikan nasihat kepada bik Atun.
“Bagaimana cara memperjuangkan itu, mbah ?”
“Caranya ya jadikanlah kehidupan di dunia ini menjadi kehidupan masa kini dan sebagai lading untuk kita Tanami dengan tanaman thoyyibah sesuai dengan apa yang didawuhkan Rosulullah SAW sbb :
AD DUN-YAA MAZRO’ATUL AAKHOIROH. FAMAN ZARO-A KHOIRON HASHODA GHIBTHOTAN WAMAN ZARO-A SYARRON HASHODA NADAA MATAN
(Kitab Fathur Robbani Majlis Robi karangan Syaikh Abdul Kadir Jailani)
“Dunia ini lading akhiroh. Barang siapa yang menanam kebaikan di lading dunia ini akan memetik buahnya yang menguntungkan. Dan barang siapa yang menanam keburukan di lading dunia ini akan memetik buah penyesalan”.
Jadi dunia ini lading akherat , semua manusia dikirim ke dunia ini diperintah untuk menanam. Ada orang yang menanam khoiron (kebaikan) ada yang menanam syaron (keburukan) terserah manusianya. Apakah akan menanam khoiron atau syarron. Adapun pohon khoiron yaitu : syajarotut tauhid atau pohon tauhid. Syajarotut taqwa atau pohon taqwa, syajarotus syukur, syajarotut thoyyibah dsb.
Sedangkan pohon khobitsah atau pohon syarron atau pohon yang tidak baik yaitu syajarotus syirik, syajarotul hawa, syajarotul kufri, syajarotul bakhil dlsb. Dan untuk itu kita diberi kebebasan oleh Allah Ta’ala pohon apa yang akan kitatanam.
FAMAN SYAA’A FAL YAUMIN WAMAN SYAA’A YAKFUR
Artinya :
“maka barang siapa yang ingin beriman hendaklah ia beriman dan barang siapa yang ingi9n kafir biarlah ia kafir”
INNA HADAINAAHUS SAABILA IMMA SYAAKIRON WA IMMA KAFURO
Artinya :
“kami menunjukkan dia jalan syukur dan jalan kufur, tetapi ada orang yang memilih jalan kufur”.
Itulah keleluasaan yang diberikan kepada kita, nduk. Terserah kita akan memilih yang mana.” Demikian kata kyai Waskita menghentikan penjelasannya karena menyeruput kopinya.
“Kalau kita diberi kemerdekaan lantas kenapa disuruh memilih yang baik, mbah ?” tanya bik Atun dengan pemikiran kritisnya.
“Pertanyaan yang bagus, nduk. Kenapa kita disuruh memilih yang baik karena pada diri kita sudah ada akal. Dan fungsi akal untuk mempertimbangkan mana yang baik dan mana yang buruk. Mana yang manfaat dan mana yang tidak bermanfaat. Mana yang merugikan dan mana yang menguntungkan. Dan semuanya itu sudah ada pertimbangan dalam akal kita. Itulah sebabnya kita diperintah menggunakan akal . Kita merdeka tentang apa-apa yang akan kita tanam dan buahnya dari tanaman yang kita tam pun sudah diterangkan di dalam Alqur’an. Kalau menanam pohon thoyyibah buahnya sudah diterangkan.Bisa dipetik disetiap waktu. Kalau menanam pohon khobitsah pun buahnya juga sudah diterangkan yang mana buahnya rasanya pahit. Kalau digigit pahitnya masih terasa hingga 40 tahun lamanya.
Adapun kesempatan menanam yang diberikan kepada kita ya waktuketika kita hidup di dunia ini. Dan waktunya itupu8n terbatas dan sangat singkat. Makanya, nduk, marilah FASTABIQUL KHOIROT atau cepat-cepatlah melakukan kebaikan. Karena di dunia ini sangat singkat, sayang kan kalau kita lewatkan. Waktunya bertaubat, waktunya bertaqwa, waktunya beribadah dan berbakti kepada Allah Ta’ala ya ketika kita hidup di dunia ini. Dan setelah itu sudah tidak ada kesempatan lagi. Padahal di akherat nanti entah berapa juta tahun lamanya. Dan itu bukan waktu kita menanam melainkan waktu kita panen tanaman yang kita tanam ketika hidup di dunia. Dan orang yang sudah terlanjur masuk kea lam barzah , memohon dikembalikan ke dunia dan akan menanam pohon kebaikan itu saja sudah tidak bisa walau hanya meminta semenit lamanya. Karena itu sudah tidak mungkin lagi.
QOOLA ROBBIR JI’UUNI A’MALU SHOOLIHAN FII MAA TAROKTU . KALLA
Yang artinya :
“wahai Tuhan, kembalikanlah kami ke dunia walaupun sebentar di dalam waktu kesempatan yang telah kami tinggalkan agar kami bisa menanam pohon sholih di dunia”.
Apa jawabnya ? Kalla. Itu pun tidak mungkin kamu dikembalikan ke dunia, untuk selama-lamanya kamu tidak akan dikembalikan ke dunia. Berarti untuk selamanya tidak pernah bakti kepada Allah. Tidak pernah bakti kepada sesame manusia. Jika sampai demikian, nduk. Apa yang akan diperoleh ? Penyesalan selama jutaan tahun karena di alam akherat sudah tidak ada artinya. Kalau menyesal ketika waktu masih hidup di dunia masih bisa memperbaiki. Jadi menyesal ketika sudah berada di alam akherat sudah tidak ada gunanya. Taubat itu ya ketika masih hidup di dunia. Ketika sudah berada di akherat manusia yang baik tidak bisa bertambah baik. Dan yang buruk pun tidak bisa bertambah buruk. Bisa menambah kebaikan kalau meninggalkan anak sholih yang selalu berdoa untuk orang tuanya yang sudah meninggal. Maka sungguh rugi kalau ada orang tua yang berharap-harap anaknya sukses dunia tanpa memberikan bekal keimanan. Padahal itu yang dibutuhkan orang tua kepada anaknya ketika mengalami kesusahan di alam barzah.” Tutur kyai Waskita panjang lebar yang tanpa disadari membuat bik Atun menitikkan airmata membasahi pipinya. Bik Atun terhanyut dengan penuturan orang tua yang kini tengah berada di hadapannya. Kemudian tercetuslah kata-kata yang keluar dari bibir bik Atun :
“Benar-benar penuturan simbah tadi membuat saya jadi seperti terbangun dari sebuah mimpi. Saya pun bertanya di dalam hati, terkadang kok ya ada orang tua yang membangga-banggakan anaknya yang telah sukses menjadi dokter, menjadi direktur, telah menjadi pengusaha atau sukses dunia ya, mbah ?” tanya bik Atun dengan polosnya.
“Benar, nduk. Orang tua yang mementingkan anak-anaknya sukses urusan dunianya dengan tanpa melihat keimanan anaknya , maka orang tua yang demikian bakal menyesal nanti ketika sudah berada di akherat. Ketika sudah berada di alam barzah mengharap kiriman do’a dari sang anak. Sedangkan sang anak sudah disibukkan dengan urusan dunia karena didikannya sendiri.” Jelas kyai Waskita.
“Bagaimana dengan orang tua yang tidak punya anak, mbah. Apa yang digunakan untuk penolong dirinya ?” tanya bik Atun penasaran.
“Bagi orang tua yang tidak punya anak dia bisa menggunakan shodaqoh jariyah dan ilmu yang bermanfaat yang ditinggalkan di dunia. Dan ketika orang tua yang tidak punya anak itu mati sebaiknya meninggalkan shodaqoh jariyah atau ilmu yang bermanfaat. Syukur bisa keduanya.” Jawab kyai Waskita.
“Kalau seperti saya ini sebagai orang yang tidak berpendidikan lalu apa yang harus saya tinggalkan. Mbah ?” tanya bik Atun makin penasaran.
“Yang namnya ilmu itu bisa ilmu apa saja asal bermanfaat. Misal dirimu mengajari orang untuk bisa memasak yang enak, kemudian orang tadi mengajari ke orang lainnya lagi dan demikian seterusnya, maka ketika kamu mati ilmu yang kamu ajarkan itu masih dapat digunakan sebagai tambahan amal selama ilmu tadi masih bermanfaat dan dipakai oleh orang-orang yang masih hidup setelah kamu. Demikian juga dengan shodaqoh jariyah untuk masjid. Selama masjid itu masih digunakan untuk ibadah maka kamu masih mendapat tambahan amal walau dirimu sudah meninggal.” Jelas kyai Waskita.
“Oh..begitu ya, mbah. Sekarang saya makin paham dengan penjelasan simbah. Sekarang saya sudah tidak cemas lagi dengan masalah masa depan anak-anak saya. Dan saya juga tidak peduli lagi dengan diri saya . Apapun yang akan diberikan oleh Allah Ta’ala kepada diri saya, akan saya terima dengan ikhlas, mbah.” Kata bik Atun penuh pasrah.
“Syukurlah, nduk. Jika dirimu bisa berpikir demikian. Tetapi ingat, bahwa pasrah itu bukan berrarti tidak berusaha. Ya tetap berusaha semampumu tanpa menggunakan hawa nafsu kemudian selebihnya kamu pasrahkan kepada yang di atas. Yaqinlah Allah akan memberkan pertolongan kepada dirimu dank e dua orang anakmu.” Kata kyai Waskita menghibur.
“Amin…3 x yaa Robbal aalamin. Terima kasih, mbah. Cuma saya masih penasaran kenapa si Nila anak sulung saya itu akhir-akhir ini tampak murung, mbah.” Kata bik Atun mencemaskan sikap anak perempuannya.
“Ya barangkali dia kasihan melihat ibunya bekerja keras tanpa dia bisa membantunya. Atau mungkin lagi ada masalah dengan teman prianya atau pacarnya.” Sahut kyai Waskita mengira-ira.
“Kalau menurut simbah, pastinya anak saya itu kenapa ?” tanya bik Atun seperti memaksa orang tua itu.
“Ya tidak tahu tho, nduk. Ada anak sedih ditanyakan ke saya. Nanti ada anak senang juga ditanyakan ke saya kenapa kok senang. Apa simbah ini memang harus mengetahui isi hati orang-orang ?” jawab kyai Waskita mengelak.
“Lho, simbah itu kan waskito. Maka diberi julukan orang-orang dengan nama Waskita. Kan mestinya tahu apa yang sedang dialami oleh anak saya, mbah ?” desak bik Atun.
“Itu salahnya orang-orang yang menamai saya demikian. Orang nama saya Paidi kok dipanggil Waskita. Masih ditambah lagi dengan sebutan Kyai. Orang tulisan arab gundul saja saya tidak bisa baca kok dipanggil kyai.” Ujar kyai Waskita agak melucu.
“Ihik…ihik..ihik.” tawa bik Atun karena geli mendengar kyai Waskita yang ternyata bisa melucu.
“Seperti kamu juga, nduk. Kadang ada yang memanggil Atun, kadang bik Atun, kemudian ada juga yang memanggilmu buk. Terus yang benar yang mana ?” tanya kyai Waskita membuat bik Atun bingung.
“Ya semuanya benar, mbah.” Jawab bik Atun singkat.
“Lho, kok bisa begitu ?” tanya kyai Waskito semakin membingungkan bik Atun.
“Karena semuanya menunjuk nama dan diri saya, mbah.”
“Memangnya namamu sebenarnya siapa, nduk ?”
“Nama lengkap saya Atuninah.” Jawab bik Atun alias bik Inah.
Demikianlah dialog bik Atun alias bik Inah dengan simbah tua yang nama sebenarnya adalah Paidi yang terkenal dengan panggilan Kyai Waskita. Dan dari dialog tersebut semoga dapat kita petik pelajaran yang terkandung di dalamnya.
TAMAT.

Comments

comments

Tinggalkan Balasan