(Kisah Rohani) Menjemput Maut (Bag-1)

Angin berhembus kencang tidk sewajarnya. Matahari pagi yg biasa bercanda denganku sepertinya memilih utk bersembunyi di balik awan.  Aku sendiri juga tdk tahu kenapa ada yg aneh dengannya. Namun demikian semua itu msh aku anggap wajar2 sj. Tetapi setelah 3 hari berturut-turut Matahari bersikap sama terhadapku , timbul niatku utk bertanya kpd  saudaranya yi Rembulan mengapa Matahari bersikap lain kepadaku. Akhirnya pada malam harinya selepas Isya’, aku duduk di atas batu hitam yang besar agar mudah diketahui jika Rembulan datang. Stlh aku tunggu dan kutunggu, Rembulan tdk juga menampakkan batang hidungnya. Baru aku sadar ketika bintang Bima Sakti datang menegurku : “Hai Sukma ! Ada masalah apa dirimu aku perhatikan sedari tadi kau mau ber lama2 bercanda dg si hitam (mksdnya batu hitam yg aku duduki). Adakah sesuatu yg merisaukanmu ?” tny bintang Bima Sakti yg mana dia adlh sahabatku dikala suka maupun duka. Dia adlh sahabatku yg suka memberi tahu aku jika aku tersesat, dia juga suka memberi  tahu jika diriku sdg bingung kemana aku hurus menentukan arah. “Hai, ditanya kok diam saja!” hardik Bima Sakti sekali lagi yg menyentak lamunanku. “Oh… ya, aku sedang mencari Rembulan, sy tunggu disini sejak selepas Isya’  tadi kok tdk nampak, memangnya dia kemana ya ?” tanyaku kepada Bima Sakti. “Lho.. apa kamu tidak tahu kalau si Rembulan lagi diet, jd biasanya  kalau dia pas lagi diet jika ingin menemuinya ya sore hari dong, Ma.” Jelas Bima Sakti dengan panggilan “Ma” padaku. Memang dia kalau memanggil diriku terkadang disingkat “Ma” sebagai kepanjangan dari Sukma. “Apa ada sesuatu yg sangat mendesak dengannya , tho ? Kalau memang itu penting, nanti akan sy sampaikan jika ketemu Rembulan di jalan.” Lanjut Bima Sakti. “Tdk Tang, aku hanya ingin bertanya mengapa sikap Matahari terhadap diriku akhir2 ini kok lain. Sepertinya dia sengaja menghindar bila ketemu diriku, dan sebagai saudaranya tentu Rembulan tahu.” Jelasku kpd Bintang Bima Sakti. “Oh.. begitu masalahnya, coba nanti aku tanyakan jika ketemu Rembulan.” Janji Bima Sakti. Utk sementara aku puas dg janji Bima Sakti kepadaku. Kemudian Bima Sakti melanjutkan perjalannya utk meneruskan tugasnya sebagai  pemandu arah utk org2 yg tersesat arah. Tinggal aku sendiri yg msh tetap duduk di atas batu hitam. Ketika aku akan beranjak pergi, tiba2 terdengar suara isak tangis perempuan tua yg entah drmn asal mulanya tahu2 berada disebelahku. Kagetku setengah mati, dan blm hilang rasa kagetku kmd terdengar suara dari mulut perempuan tua itu : “Nak Sukma, maukah kamu menolong ibu ?” pinta perempuan tua itu penuh iba. Belum sempat aku menjawab, perempuan tua itu sdh melanjutkan kata2nya : “Ibu mempunyai seorang anak perempuan namanya Dewi Kelasih, tlh sejak lama dia pergi entah kemana, terakhir ibu dpt kabar dia pindah di desa Mamburu.” berhenti sejenak yg mana wajah ibu itu tdk bisa kulihat. Spt apa wajahnya namun dr getaran kata2nya yg diucapkannya usianya sekitar 50 th. Walau tdk dpt aku lihat jelas, dimatanya pasti basah oleh air mata. “Apa yg bisa aku lakukan utk ibu.” tanyaku tanpa berpikir bisa nggak aku memenuhi permintaannya. dan ibu itu tdk bs segera menjawab dan yg aku dengar hanya helaan napas panjang sampai kmd keluar kata2 : “Ibu ini seorang wanita yg kini hidup sendirian tanpa teman, berjalan tanpa tujuan, berhenti ketika sepi, yg aku miliki tinggal harapan.” sebuah jawaban yg membuatku bingung dibuatnya. Aku tdk tahu apa makna yg diucapkan, kmd aku berusaha utk bertanya. Blm sempat kata2 keluar dr mulutku spt sdh tahu apa yg ada diotakku, perempuan itu sdh mendahului. “Wahai anak muda yg masih menyimpan impian bergelut hasrat berselimut wujud, ketahuilah bhw aku ini makhluk Alloh yg dulu juga sepertimu, namun berhubung terikat kodrat terpaksa hrs menempuh hidup labuh, shg ibu hrs seperti saat ini.” berhenti sejenak kmd melanjutkan kalimatnya : “Di dunia ini ibu ada tersisa segenggam rasa yg membuat ibu tdk leluasa berkelana di alam yg luas tanpa batas, sempit tanpa himpit, ada terang bukan penerang, ada gelap tanpa sebab.” semakin bingung aku dibuatnya. Akhirnya perempuan itu mau bicara dg bahasa yg aku mengerti. Dia menceritakan tentang anak wanitanya yg semata wayang adlh hasil perkawinannya dg pria yg usianya jauh diatasnya yi selisih 30 th, ketika msh gadis ibu itu memburu angan2 mengejar fajar artinya dlm menentukan calon pendampingnya dia terjebak dg kriteria yg membuat dirinya terbelenggu dg nafsu, tenggelam kabut kelam. Shg dia dipermainkan oleh harapan. Sampai kmd dia bertemu dg pria idaman, memang dibanding dg pemuda lain, pemuda itu paling tampan, rambut tampak berombak, hidung mancung, mata bak pelita, kumis tipis, janggut mengerucut, gigi putih rapi, kulit putih bersih, tinggi tubuh pantas utk peneduh, badan besar kekar, kaki tampak tegak, tangan sigap menangkap. Semua yg dimiliki pemuda itu hampir tanpa cela. Namun sayang ibu tsb ketika itu tdk dpt melihat tabir yg tersembunyi dibalik semua itu. Spt yg dituturkan : ” ketika itu, ibu dibuai oleh pemuda lihai terbujuk harapan buruk, tertipu hati yg membatu, ibu hanya melihat lahir tanpa berpikir, shg akibat yg ku dapat membuat hatiku tersayat. Stlh apa yg ibu miliki aku psrahkan semua kepada pemuda tampan tsb, ternyata diriku hanya dijadikan taruhan suatu undian dr para pemuda yg tak kesampaian krn ibu rendahkan.” Sblm kmd melanjutkan kisahnya pd keesokan harinya, wanita tsb sempat berpesan utk bertemu denganku di batu hitam tempat aku duduk saat itu. Alam kembali sepi, sesepi hati ini tnp ada yg mengerti. Kulihat Bima Sakti sdh jauh berjalan, shg tdk tampak jejaknya. Mudah2an dpt bertemu rembulan, shg dpt menyampaikan apa yg aku pesankan. kalaupun tdk, esok hari akan aku coba lagi mencari Matahari utk aku tanyai. Bunyi ayam jantan lambat laun kudengar, menunjukkan tanda malam tenggelam diganti dg pagi hari. “Sukma, segeralah tinggalkan tempat ini, biarlah malam ini berlalu tak bertemu apa yg dituju, terlewat tak berbuah hasrat.” dmk bisik sdr bathinku yg selama ini selalu mendampingi diriku. Akhirnya aku berdiri meningalkan batu hitam yg tlh menjadi saksi perjumpaanku dg perempuan tua itu. Sesampainya di rumah langsung aku gunakan waktuku utk melaksanakan sholat shubuh. Dan krn saking tdk kuatnya menahan kantuk, selesai sholat aku langsung tertidur. Di dlm tdrku aku sempat bermimpi bertemu laki2 tua berusia sekitar 80 th. Di dlm mimpi tsb pak tua itu memohon agar aku memenuhi permintaan tolong dari perempuan tua semalam yg menemuiku yg belum aku ketahui siapa namanya. sayang tdk banyak yg kutahu tentang siapa sesungguhnya lelaki tua itu, aku sdh terburu bangun. dan wkt tlh menunjukkan pukul 8 pagi. Krn  berharap mudah2an Matahari mau menemaniku dan menemuiku, aku langsung bergegas keluar rumah. Sesampainya di luar rumah,  ternyata kecewaan  yg kudapat. Matahari tetap tdk mau menemui diriku dan memilih bersembunyi dibalik selimut awan yg tebal. “Apa salahku wahai Matahariku ? Mengapa kau sikapi aku tnp kau jelaskan apa salahku ?” tanyaku dlm hati. Perasaan kecewa , jengkel dan marah campur jd satu, entah kpd siapa akan aku lampiaskan sampai akhirnya datang seekor anjing mendekatiku. Mungkin aku dikira majikannya atau krn saking laparnya shg minta dikasih makan. Melihat tubuhnya yg kurus dg tulang2 yg menonjol itu sbg bukti kurang makan. Hampir sj aku lempar dg patahan dahan akasia sbg pelampiasan kejengkelanku jk tdk keburu dicegah oleh sdr bathinku : “Jangan Sukma, dia juga makhluk Alloh.” Benar juga kata sdr bathinku ini. “Tp hukumnya kan najis jika sampai kita terjilat oleh lidah  anjing itu ?” protesku. “Benar saudaraku, , tp jangan kau telan mentah2. Petunjuk anjing yg dimksd itu  adlh  anjing ma’nawiyah dan bukannya anjing yg sekarang kelaparan ini.” jelas saudara bathinku. “Oh…akhir2 ini aku benar2 banyak menemui peristiwa2 dan kalimat2 aneh, saudaraku.” kataku kpd sdr bathinku itu. “Memang benar, kau katakan aneh  sebab jika sampai seseorang salah dlm memaknai peristiwa2 yg kau anggap aneh tsb. Akan menimbulkan persoalan. Sebagai contoh : Pada umumnya perempuan hamil, tetapi misalkan suatu ketika ada seorang pria hamil, pasti akan dianggap aneh.” kata  sdr bathin. ” Mengapa demikian saudaraku ? Krn image manusia pd dasarnya hanya melihat sesuatu dr kebiasaan atau tdk, langka atau tdk, banyak atau sedikitnya. Pria hamil jelas tdk bisa, langka , dan jumlahnya dpt dibilang tdk ada  maka dikatakan aneh. Coba apabila sejak dr sananya pria itu dicipta dg kontruksi tubuh yg harus melahirkan, maka jika kita tahu ada pria hamil, sdh tdk aneh lagi. Demikian juga dg  maslh anjing tsb saudaraku.” tutur saudara bathinku lebih lanjut secara rinci. Stlh berhenti sesaat ia melanjutkan penjelasannya : “Bhw jika manusia hatinya sdh terjilat sifat2 anjing, maka jika ingin  membersihkannya dg cara dicuci 7x  dg air yg salah satu digosok dg debu. Tujuh disini maksudnya yaitu : pendengarannya, penglihatannya, pengucapannya, penciumannya, perasaannya, gerakaannya dan diamnya. Jika lebih ke dalam lagi yakni 7 langit bathinnya juga harus di gosok. Sebab seseorang yg bathinnya/hatinya sdh terjilat sifat anjing maka dia punya sifat2 thomak, rakus, buas dan sifat2 buruk lainnya. Mk ada hadits yg menerangkan bhw malaikat tdk akan memasuki rumah yg ada anjingnya.  Hati tadi diibaratkan rumah, dan sifat2 buruk diibaratkan anjing.” Jelas sdr bathinku yg dpt aku pahami secara jelas dan gamblang. Akhirnya aku biarkan anjing kurus tadi mengikuti diriku masuk ke dalam rumah dan seolah menyiapkan rasa tamak  atas makanan yg aku berikan. Stlh itu aku merenungi peristiwa demi peristiwa yg di awali dg perubahan sikap Matahari. Pertemuanku dg  perempuan misteryus semalam  itu. Kmd Rembulan  yg tdk bisa aku temui, terus lelaki tua yg hadlir dlm mimpiku. Dan yg terakhir kali yi dg dtangnya anjing kurus itu. Aku yaqin pasti ada rahasia dibalik itu semua.  Kiranya benar juga apa yg dikatakan  Bintang Bima Sakti  bhw Rembulan sdg diet, tubuhnya kurus , itu aku ketahu setelah aku temui pada sore harinya selepas Maghrib. Ketika itu dia sdg bersembunyi di balik mega. “Hai Rembulan,  kemarin malam kelam tanpa dirimu. Semalam aku mencarimu , sungguh beruntung diriku petang ini kau dapat kutemui.” Sapaku pada Rembulan yg membuat dirinya kaget dan hampir sj dia juga ikut menghindar kalau tdk dicegah oleh Bintang Kejora. “Memangnya ada apa sih mencariku hai, Sukma ?” tny Rembulan ketus. Dari situ aku tahu bhw Rembulan tdk suka dg kedatanganku. “Aku Cuma mau bertanya.” Jwbku singkat. “Tanya masalah apa kelihatannya kok serius sekali ?” tanya Rembulan dengan wajah sinis.  “Aku hanya ingin tahu mengapa saudaramu si Matahari itu akhir2 ini kok menghindari pertemuan denganku, dan kamu sebagai saudaranya pasti tahu.” Jelasku pada Rembulan. “Entahlah, aku sendiri tdk tahu, Ma. Tapi naga2nya si Matahari kecewa denganmu karena akhir2 ini dirimu  sibuk sendiri berurusan dg Intan. Padahal setahukuku si Intan itu sering menjerumuskan org yg dekat dengannya.” Tutur Rembulan yg membuat diriku sadar. Memang benar apa yg dipikirkan Rembulan itu bhw akhir2 ini  aku akui sering sibuk berurusan dg Intan drpd dg Matahari sahabatku akrabku dulu. Aku tlh jatuh hati dg Intan. Gara2 intan hubungan dengan Matahari menjadi renggang. Bahkan hubunganku dg ortukupun juga jauh gara2 Intan. Banyak suara yg memberikan nasihat kepadaku termasuk sanak saudara, sahabat2 akrab dan juga P. Ustadz agar aku menghindari hubungan ku dg Intan. Mereka semua mempunyai penilaian minir terhadap Intan. Tapi semua nasihat mereka tdk aku tanggapi. Bahkan keakrabanku dg Intan ber tambah2. Apa  yg salah jika aku berhubungan dg Intan ? Mengapa aku dilarang mencintai Intan ?. “Dirimu tdk salah mencintai Intan , saudaraku.” Bisik saaudara Bathinku. Kmd melanjutkan bicaranya : “Intan orgnya cantik, dan dia mempunyai harga diri yg tinggi dan tdk semua org mudah merebut hatinya. Banyak org rela berkorban jiwa dan raga hanya utk memperebutkan Intan. Juga banyak org bunuh diri gara2 dia. Itulah saudaraku, yg dikhawatirkan org2 terhadap dirimu. Mereka khawatir dirimu akan celaka karena mencintai Intan.” Nasihat saudara bathinku penuh keteduhan. Aku hanya terdiam mendengarkan apa yg disampaikan oleh saudara bathinku itu. Kmd dia melanjutkan lagi nasihtnya : “Jika memang kamu benar mampu menundukkan hati Intan, maka kamu tdk akan diperbudak olehnya,  Saudaraku.” Kalimat terakhir dari saudara bathinku ini ada sedikit memberikan dorongan semanatku utk tetap mencintai Intan. Seolah saudaraku itu tahu persis apa yg ada dlm benakku. “Lantas sebaiknya aku harus bagaimana agar supaya aku dpt menundukkan dia supaya diriku tdk diperbudak olehnya ?” tanyaku minta sarannya. “Caranya dengan jalan kamu harus mampu  menghilangkan keinginanmu utk menguasai apalagi ingin memiliki.” Saran saudara bathinku.  “Lho… kok aneh ? Org aku ingin memiliki kok malah disuruh menghilangkan rasa ingin memiliki itu bagamana ?” protesku. “Itulah rahasianya, jika kau benar2 ingin dicintai dan bahkan ingin dilayani olehnya.”  Kata saudara bathinku yg membuat diriku malah tambah  bingung. Semua peristiwa yang aku lalui akhir2 ini membuat diriku tambah blo’on, aku merasa tlh kehilangan jati diriku. Bermula diawali oleh Matahari yg menyikapi diriku, kmd kehadliran perempuan tua  itu, terus  lelaki tua yg menemuiku dlm mimpi dan yg terakhir yaitu adanya anjing kurus yg sdg kelaparan. Belum masalahku dg si Intan  dan masih ditambah saran2 dari saudara Bathin yg membingungkan diriku. Teringat akan perempuan tua semalam itu, aku langsung bergegas menuju ke batu hitam tempatku semalam  bertemu dengannya. Setiba di lokasi  aku langsung duduk sambil melihat ke sekeliling  barangkali dia ada di sekitar. Namun yg aku rasakan Cuma sunyi sepi. Yg terdengar hanya suara cengkerik yg berbunyi  nyaring mengisi keheningan malam. Hampir 1 jam jebih aku menunggu, tapi perempuan tua tsb tdk juga muncul. Aku berpikir apa mungkin dia lupa atau sdh tdk mau menemui diriku lagi. Hampir sj aku beranjak pergi karena jenuh menunggu sampai kmd ada suara yg me-manggil2 namaku : “Sukma.. Sukma!”  tetapi ketika aku tengok ke arah suara tsb tdk ada siapa2. “Sukma.. aku ada di atasmu.”  Kaget aku dibuatnya. Ketika aku lihat ke atas ternyata suara tsb berasal dari seekor ular sebesar paha org dewasa yg sdg melingkar di dahan pohon gayam. Dg ketakutan yg luar biasa aku melangkah mundur untuk menghindari lilitannya. “Jangan takut Sukma, walaupun wujudku ular namun aku bukan ular sembarangan. Diriku tercipta  dari ambisimu yang tinggi.” Kata ular tsb.  Dalam keherananku krn tdk percaya ada ular yg bisa berbicara sempat mengusir rasa takutku. Setelah aku rasakan ternyata ular tersebut bersikap ramah, mk aku memberanikan diri utk mendekat. Yang membuat diriku tambah  lagi menemui keanehan yakni ular yg dpt berbicara dan juga mengaku bhw dirinya tercipta dari ambisi pribadiku yg tinggi.   Entah keanehan2 apalagi yg bakal aku temui stlh bertemu dg ular ini. “Yang dikatakan ular itu benar saudaraku.” Bisik saudara bathinku. Kmd dia melanjutkan bisikannya : “Sebenarnya manusia itu kadang tertipu oleh  nafsi2 yg berasal dari dirinya sendiri, sehingga yg menjilma menjadi wujud makhluk spt ular seperti yang kau lihat saat ini.” Percaya tdk percaya aku tdk berkomentar apa2 atas bisikan dari saudara bathinku itu. Bisa2 nanti saudara bathinku itu juga akan bilang bhw batu hitam yg kini sedang aku duduki juga jilmaan dari hatiku yg hitam pula. Biarlah org akan menilai apapun tentang diriku, aku tdk akan ambil peduli. Kmd aku perhatikan ular tsb sdh tdk ada  di dahan tempat dia melingkar  tadi. Entah mungkin dia sdh pergi atau menghilang, sampai akhirnya aku mendengar  suara perempuan yg aku kenal semalam memanggil  namaku dari arah sebelah kanan. “Sudah lama menunggu, nak ?” tanyanya. “Yach.. cukup lumayan, bu.” Jawabku singkat. “Lantas nak Sukma apa mau menolongku ? Semalam ibu sdh sampaikan bhw dulu ibu ini juga manusia sepertimu..” blm selesai bicaranya sdh aku potong : “Ya sdh tahu bu, lantas bagmn  kelanjutan hubungan ibu dg  pemuda idola spt yg ibu ceritakan semalam ?” pertanyaanku tdk segera mendapat jawaban dr wanita tua itu. Instinkku mengatakan bhw wanita tsb sdg menangis, dan memang benar krn kmd aku mendengar isak tangisnya. Dg sabar aku biarkan dia bergelut dg kesedihan yg dialami. Biarlah beban kesedihan yg ada dlm batinya ikut terseret keluar oleh airmata. Memang jika kita menghadapi  wanita yg lagi menangis, sebaiknya kita biarkan. Janganlah kita mecerca dg pertanyaan2  spt kenapa ? mengapa ? atau menyuruh diam, itu tdk akan membantu meringankan beban bathinnya. Biarkan dia menangis sampai kesedihannya berkurang. Itulah Maha Besarnya Alloh menciptakan air mata. Dg mengeluarkan air mata manusia akan terkurangi kesedihan yg menghimpitnya. Justru kalau sampai tdk bisa menagis, malah akan menjadikan penyakit pada diri manusia yg mengalami kesedihan. Kenapa dmk ? Krn kesedihan seseorang yg tdk tersalrkan akan menjadi kekuatan yg bakal  berbalik menghantam dirinya yg ujung2nya akan menjadi penyakit  pd diri manusia itu sendiri dan tergantung organ tubuh mana yg paling lemah disitulah yg jadi penyakitnya. Bisa paru2, jantung, liver dsb. Stlh agak beberapa, barulah tangis ibu tua itu mereda  kmd berkata : “Tentang pemuda yg kau tanyakan tadi nak, akhirnya dia pergi dengan meninggalkan bekas luka di hati yg mendalam pd diri ibu. Stlh terlebih dahulu men cabik2 hakekat dan martabat ibu. Lbh sakit lagi dia pergi dg penuh kebanggaan di hadapan teman2nya krn tlh membuktikan dirinya tlh mampu menundukkan ibu.”  Tutur wanita itu sambil terisak. “Sekarang  aku paham, mengapa ibu tadi menangis ketika kutanyakan tentang pemuda tsb.” Jelasku berusaha memecah kesedihan perempuan itu. “Oh.. nak, Sukma Ibu menangis tadi bukan karena meratapi perbuatan pemuda itu.” Sanggahnya. “Lantas mengapa ibu menangis sampai sesedih itu ?” desakkku. “Nak, Sukma, ibu tadi blm selesai bercerita sdh dipotong Stlh pemuda  yg menghianati ibu itu pergi dari kehidupan ibu,  awalnya ibu sangat menderita, shock berat sampai akhinya ibu jatuh sakit. Melihat kondisi ibu yg kian hari penyakitnya semakin  parah dan bahkan ditambah dg penyakit syaraf, akhirnya ibu terpaksa dirawat di RS Jiwa selama hampir 1 bulan. Tp berhubung tdk perkembangan kesehatan ibu tdk tambah membaik namun malah memburuk, terpaksa dirawat dirumah oleh orang tua ibu. Selain drpd itu memang kondisi  orang tua ibu yg sdh kehabisan uang utk membeayai penyakit yg ibu derita. Langkah yg diambil oleh  orang tua ibu utk merawat diriku kala itu semula ditentang oleh masyarakat sekitar, mengingat penyakit jiwa yg ibu derita membuat resah masyarakat sekitar.  Tapi apa boleh buat berhubung  kondisi tdk mampu, protes warga di kampung ibu itu tdk dihiraukan oleh ortu ibu. Sampai akhirnya, karena strsess memikirkan anaknya yg sakit, ditambah rasa putus asa pada akhirnya orang tua ibu jatuh sakit hingga akhirnya Alloh memanggilnya dg meninggalkan diriku yg msh dlm kondisi hilang ingatan. “ kmd ibu itu menghentikan ceritanya spt ada beban kesedihan yg berusaha ditahan. “Jadi ketika orang tua ibu wafat, ibu msh dlm kondisi sakit ingata ?” tanyaku. “Betul nak Sukma,  maka dari itulah ibu merasa menyesal dan berdosa krn gara2 ibu orang tua hrs  menanggung penderitaan. Lebih menyesal lagi saat meningalnya org tua, ibu tdk sadar krn dlm kondisi sakit ingatan. Sepeninggal ibunya ibu itu, tinggal ayah ibu yg dlm kondisi sakit2an pula terpaksa merawat ibu sendirian. Sampai pd suatu ketika di rmh ibu kedatangan seorang tamu yg ternyata adlh sahabat ayah ibu yg tlh lama tdk berjumpa. Usia sekitar setengah abad lebih.  Pertemuan antara ayah ibu dan sahabatnya itu sempat memnuat semangat hidup ayah ibu tumbuh kembali walau itu hny sesaat. Krn begitu ingat putrinya yg msh dlm kondisi sakit mk kesedihan kembali menggelutinya. Dlm pertemuan antara dua org sahabat yg lama saling berpisah itu, mereka saling menceritakan kisah hidup masing2 selama mereka saling berpisah. Dari cerita itulah sahabat ayahku tahu bhw keluargaku tlh ber tubi2 didera oleh musibah demi musibah termasuk meninggalnya ibuku krn tak kuat menanggung beban penderitaan. Bersykurlah ayah ibu ternyata sahabatnya itu mempunyai kemampuan ilmu linuwih shg dpt dimintai tolong utk membantu penyembuhan sakit jiwa yg ibu derita. Dengan senang hati beliau mau membantu dan merawat diriku. Akhirnya dg penuh ketelatenan dan kesabaran, dlm beliau menerapi penyakit ibu, maka dengan idzinNya penyakit ibu  dpt disembuhkan  sehinga ibu kembali pulih seperti gadis normal biasa. Dg tlh sembuhnya penyakit ibu itu, orang2 dan teman2 yg usianya sebaya dg ibu sdh berani mendekati ibu lagi. Terutama para pemuda yg rata2 mereka berusaha menarik perhatian ibu agar mau dijadikan kekasih atau pendampingny. Entah mungkin karena trautama peristiwa masa lalu atau krn sebab lain, tdk ada seorangpun dari mereka yg membuat ibu tertarik. Dan semua itu tdk luput dari perhatian ayah ibu. Hingga pada suatu malam ketika ibu dipanggil oleh ayah ibu : “Mayangkara anakku, ayah ingin menyampaikan sesuatu kepadamu.” Kata ayah ibu yg membuat kaget, heran serta takut di benak ibu. Apalagi sikap ayah ibu  yg tdk seperti biasanya itu. “ Ya ayah.” Jwb ibu. “Kamu sekarang sdh sembuh dan tlh kembali  menjadi gadis yg normal. Kamu punya wajah cantik. Dibanding sebelum kamu sakit. Dan ketika kamu sakit banyak orang2 yg menjauhi dirimu. Bnyak pemuda2 yg mengejek dirimu. Tp sekarang setelah kamu sembuh dan tumbuh menjadi gadis yg menurut ayah  kamu adlh gadis yg paling cantik di desa kita ini, banyak para pemuda yg berusaha mendekati dirimu. Dan kita tahu bhw semua itu krn keikhlasan hati dari sahabat ayah yg tlh sudi merawat dan mengobati sakitmu hingga sembuh. Apa perkataan ayahmu ini salah, nak ?” tny ayah ibu seperti memendam sesuatu yg akan disampikan. “Tidak salah, ayah.” Jwb ibu singkat. “Nah kamu tahu sendiri bhw semua itu berkat Pak Unggul sahabat ayah yg telah mencurahkan seluruh waktu, tenaga dan hartanya demi kesembuhanmu, kan ? tny ayah ibu lagi. “Benar ayah.” Jwb ibu yg kmd muncul pertnyaan dlm hati ibu bhw ayah ibu itu pasti mempunya rencana yg entah benar entah tdk yg jelas ibu sulit utk menebak. Kmd ibu berpikir seandainya tdk bertemu dg P. Unggul sahabat ayah ibu itu, mungkin ibu msh tetap menjadi gadis desa yg gila yg semua org merasa jijik utk mendekati dii ibu. Memang betul bhw semua kesembuhan adlh hanya Alloh yg kuasa. Akan tetapi ibu sembuh krn lantaran keikhlasan P. Unggul dlm merawat dan mengobati dan atas idzinNYA. Shg ibu an ayah ibu mempunyai hutang budi kpd P. Unggul yg tdk bisa dibayar dengan materi berapapun jumlahnya. “Terus menurutmu, kira2  apa yg pantas kita berikan kpd P. Unggul atas jasa baik beliau yg tlh berbuat sesuatu utk kesembuhanmu itu, nak ?”  tny ayah ibu yg tdk segera ibu jwb. Termenung ibu memikirkan  betapa orgnya baik,  walaupun usianya sdh setengah abad lebih tp msh kelihatan spt baru berumur 40 th. Mungkin ini disebabkan krn P. Unggul  orgnya sering menjalankan puasa dan berdzikir serta jiwanya seperti penuh pasrah thd yg di atas. Selain dari pada itu beliau orgnya ramah terhadap siapaupun. Berwajah teduh ta’at beribadah. Pokoknya siapapun orgnya akan senang bila berdekatan dgnya entah dia itu laki2 maupun perempuan. Apalagi beliau juga punya ilmu linuwih. Hanya sayangnya beliau adlh seorang duda yg ditinggal mati oleh isterinya. Jd P. Unggul dan ayah ibu kala itu sama2 menjadi seorang duda yg ditinggal mati oleh isterinya. Hanya bedanya wajah ayah ibu tampak jauh lebih tua bila dibanding wajah P. Unggul, entah itu mungkin disebabkan oleh penderitaan ayah ibu yg selalu mendera dirinya. Dan semenjak P. Unggul ditinggal mati oleh isterinya yg juga tdk dikarunia anak, beliau langsung mencurahkan sebagian besar wktnya utk bergelut dibidang kerohaniahan. Oleh sebab itulah beliau mempunya kemampuan linuwih krn sering berolah bathin itu. “Bgmn, nak ?” pertanyaan ayah ibu itu  menyentak lamunan ibu. “Eh.. anu..lha…kalau menurut ayah bagaimana baiknya ?” jwb ibu tergagap. “bagaimana nak ?”   pertanyaan ayah ibu di ulangi lagi  sehingga kembali menyentak lamunan ibu. “Eh.. anu.. terserah ayah saja apa yang terbaik bagi ayah, saya  ikut saja.”  Jawab ibu sekenanya tanpa berpikir bhw itu merupakan jawaban penentuan nasib ibu kedepannya. “Seandainya kita balas dengan materi jelas kita sdh tdk mempunyai apa2 lagi, bagaimana kalau…” kata2 ayah ibu itu tdk dilanjutkan, akan tetapi pandangan mata ayah ibu menatap kewajah ibu dengan penuh selidik, seakan ingin  melongok apa yang ada di dalam benak ibu. Dari situ ibu hanya bisa meng-ira2 bhw maksug ayah ibu adalah …” kata wanita tua itu saya potong dengankesimpulanku : “saya sudah dapat menebak apa yang akan disampaikan oleh ayah ibu itu’” kataku terhadap wanita tua yang ternyata bernama Mayangkara. “Apa yang kamu tahu tentang maksud ayah ibu itu, nak Sukma ?”  tny wanita tua itu penasaran.  “Pasti ibu akan dijodohkan  dengan P. Unggul sahabat ayah ibu itu, kan ?” jawabku memastikan. “Benar,  nak.” Jwb wanita itu melegakanku. “Terus, ibu mau ?” lanjutku. “Maka dari itu, biarkanlah ibu melanjutkan cerita dulu, dan jangan dipotong.” Pintanya. Sementara kami berdua terdiam sesaat sambil mendengarkan hiburan cengkerik yang menyanyi di kesunyian malam. Stlh beberapa terdiam, ibu Mayangkara itu melanjutkan ceritanya : “Akhirnya ayah ibu itu berterus terang kpd ibu tentang apa yang beliau pendam dalam pikirannya, yaitu berkeinginan utk menikahkan ibu dengan P. Unggul sahabatnya itu persis seperti apa yang baru saja kau sampaikan itu.” Mendengar apa yang dikemukakan oleh beliau itu, ibu tdk langsung menjawab, tetapi berbagai macam perasaan kumpul jadi satu di dalam bathin ibu. Perasaan benci, dendam dan sedih campur jadi satu. Ibu tdk bisa menyusun kata2 utk mengatakan “mau” atau “tidak mau”. Dengan sabar ayah ibu menunggu jawaban ibu. Sampai akhirnya beliau berkata : “Ayah paham, anakku. Dirimu tdk mudah utk menerima usul ayahmu ini, tetapi anakku, cobalah sedikit saja kau buka pintu hatimu.” Ibu msh tetap juga belum bisa menjawab permintaan ayah ibu itu, krn saat itu yang ada pada diri ibu adlh kebimbangan. Kemudia ayah ibu melanjutkan kata2nya : “Tahukah kamu, apa yang menutup pintu bathinmu wahai anakku ? Angan-angan. Ya.. angan2 itulah yang menutup pintu bathinmu. Karena memang angan2 itu menutup pintu bathin hampir semua manusia. Kenapa demikian ? Krn jika seseorang ber angan2 tentang sesuatu yang diharapkan, maka apabila di dalam kenyataannya yang ada bertentangan dengan harapan, walaupun lebih bermanfaat utk dunia dan akhiratnya, maka org tersebut tetap menolaknya.” Kalimat terakhir yang diucapkan ayah ibu inilah yang membuat ibu harus meresapi maknanya yang akhirnya membuat hati ibu menjadi tenteram. ‘Akhirnya ibu memberikan jawaban kepada ayah ibu ?” tanyaku tdk sabar. “Belum, nak. Malam itu ibu belum memberi  jawaban kepada beliau, bahkan sampai beberapa hari kemudianpun ibu msh tetap belum memberikan jawaban. Krn sejak peristiwa ayah ibu itu menyampaikan maksudnya, kmd ibu menyendiri krn ingin menggunakan wkt utk berpikir dan meresapi apa yang akan aku hadapi seandainya ibu menolak ataupun menerima maksud ayah dari ibu itu. Hari berganti hari, dan tdk terasa sdh 1 bulan semenjak peristiwa malam itu. Ibu pikir ayah sdh tdk memikirkan utk menjodohkan ibu dg sahabatnya itu. Akan tetapi ternyata perkiraan ibu meleset. Sampai pada suatu malam, ibu didatangi lagi oleh ayah ibu, kala itu wajah beliau tampak pucat dan semakin tampak tua. Melihat itu, ibu merasa kasihan kepadanya. Tdk terasa sdh 3 th beliau ditinggal mati oleh ibunya ibu. “Bagaimana anakku, apa sdh mempunyai jawaban atas permintaan bapak dulu ?” tanya ayah ibu mengulang maksudnya. “Tetapi bagaimana  putrimu ini akan dapat merasakan kebahagiaan jika tdk mencintai P. Unggul, ayah ?” jawab ibu berupa  protes . “Apa kamu tdk melihat kebaikan dan pengorbanan beliau anakku ?” desak ayah ibu. “Mayang memang mengakui dan merasakan bhw beliau orangnya baik, Mayang sangat sayang dan hormat kpd beliau, karena beliau tlh Mayang anggap seperti ayah sendiri, yah.”  Tandas ibu kepada ayah ibu ketika itu. “nah, maka dari itulah kau dapat menjadikan rasa sayang dan hormat tsb. Utk menjadi dasar mencintai beliau anakku. “ desak ayah ibu dengan  menggunakan dasar sikap ibu thd P. Unggul. Kmd  beliau mulai ada semangat dan alasan  utk mendorong ibu agar memenuhi keinginannya : “Mayang putriku,  putri semata wayang yg tinggal satu2nya org di dunia ini yang aku miliki. Wajahmu cantik rupawan, bapak yaqin, saat ini lelaki mana yang tdk akan jatuh hati  dan tunduk jika melihatmu. Akan tetapi, tdkkah kau dapat memetik hikmah atas pengalam yang pernah kau alami, nak ? Dulu ketika dirimu menderita sakit ingatan, tidak ada seorangpun yang mau mendekati dirimu. Jangan lagi mendekat, hanya untuk sekedar melihatpun mereka tdk mau. Dan hanya P. Unggul sahabat ayahmu itulah yang sudi mendekati dirimu, merawatmu dengan penuh cinta kasih. Padahal ketika dirimu sakit, tubuhmu tinggal tulang terbungkus kulit. Tidak terawat, tdk mau mandi dan maaf bau sekali ketika itu.  Kalau sekarang dirimu telah berubah menjadi gadis yang cantik jelita kmd mereka berlomba utk menarik perhatianmu itu wajar. Tapi maukah mereka  mendekati dirimu dalam kondisi yang seperti dulu ?” kata ayah mengingatkan kenangan ibu masa lalu dimana masa2 ketika ibu tlh dikhianati oleh seorang pemuda tampan namun berhati iblis itu, yg akhirnya membuat ibu sakit ingatan.  Apa yang disampaikan ayah ibu itu membuat sedikit kesadaran berpikir tentang kebenaran yang hakiki. “Mayang masih ingat, ayah. Justru dengan pengalaman pahit itulah yang  Mayang jadikan pengalaman yang berharga shg tdk akan terjebak utk yang kedua kalinya.” Kata ibu menegaskan. “Tapi perlu kau ketahui , putriku. Bhw siapapun pria yang menyukai dirimu saat ini sulit utk diukur ketulusannya.” Kata ayah ibu mengingatkan. “Mengapa demikian ayah ?” tanya ibu penuh rasa takut akan mengulang kisah lama. “Karenaenyapa  mereka hanya melihat kecantikanmu dan tdk pernah melihat hatimu. Itu terbukti ketika dirimu sakit itu, apakah mereka mau mendekatimu sedangkan menyapa sj tidak. Mereka semua baik laki2 maupun perempuan teman2 sebayamu, tdk ada seorangpun yang sudi mendekatimu. Mereka semua sama sinis dan jijik denganmu. Dan hanya P. Unggul seoranglah orang yang selain ayahmu ini yang sudi merawatmu, memandikanmu dengan tanpa ada rasa jijik sedikitpun, sehingga akhirnya kamu sembuh sebagaimana yang kau rasakan sendiri.” Kata2 ayah ibu itu  membuat ibu bagai tersentak dari mimpi buruk yang panjang. Dalam suasa perempuan tua itu msh ingin melanjutkan ceritanya, tiba2 saudara bathinku  berbisik padaku : “Sukma, ingat sebentar lagi fajar.” Bisikan saudara bathinku itu membuat diriku tersadar, ternyata malam ini telah aku lalui dengan begitu cepatnya. Terdengar suara ayam berkokok sahut menyahut seperti mengingatkan diriku bhw petualanganku malam ini hrs segera diakhiri. Ditambah lagi dari jauh lamat2 aku dengar : “Allahu Akbar!  Allahu Akbar!”  pertanda suara Adzan Subuh dari masjid dan surau2 saling berlomba utk memanggil jemaahnya utk melaksanakan sholat fardlu shubuh. “Nak Sukma, besok malam ibu temui lagi disini.” Suara perempuan itu sebagai tanda harus berpisah dulu. Kemudian aku beranjak pulang. Stlh terbangun dari tidur yang aku nimati, wktu menunjukkan pukul 10  pagi. Krn  tidurnya hanya sebentar  dan juga diatas sajjadah krn sdh tdk kuat menahan kantuk sehabis sholat shubuh itu, maka mata terasa msh sangat berat utk dibuka, maklum sdh 2 malam ber turut2 kurang tidur. Damai dengan Matahari. Ketika aku akan merebahkan tubuhku dg maksud utk kembali tidur, aku mendengar suara Matahari me manggil2 namaku : “Sukma ! Sukma !” dengan tubuh sempoyongan krn menahan kantuk, aku melangkah keluar utk menemui Matahari. Setiba di luar aku langsung berteriak kegirangan melihat Matahari mau menemui diriku. “Hai Matahari.” Kulihat dia sdg senyum2. “Aku senang kau tlh sudi menemuiku. Mengapa kemarin kau selalu menghindari diriku, Har ?” berkata dmk sambil ku peluk erat. Kala itu aku benar2 gembira sekali dikarenakan Matahari tlh mau berdamai denganku. Namun dmk aku blm puas jika Matahari blm menjelaskan alasannya mengapa2 dia kemarin2 menghindari diriku. “Tolong kamu jelaskan, Har. Mengapa kemarin2 dirimu selalu menghindariku setiap aku ingin menemuimu, apa salahku ?” tanyaku. Tapi dia malah balik bertanya : “Menurutmu kenapa ?” jengkel aku dibalik begitu. “Justru itu yang ingin aku tanyakan kepadamu.” Bantahku. “Kamu kan sdh diberitahu oleh Rembulan saudaraku itu, kan ?” elaknya. “Tapi aku ingin jawabannya keluar dari mulutmu sendiri, Har. Aku tdk merasa puas kalau yang ngomong tdk kamu sendiri.” desakku. “Jawabanku sama dengan apa yang disampaikan Rembulan.” Kata Matahari diplomatis. “Maksudmu ?” tanyaku penasaran. “Maksudku.. ehm.. darimana aku harus memulai ya.” Jawab Matahari yg kmd terdiam sejenak. “Begini Sukma, Intan itu tdk salah, yang salah adlh org2 yg berusaha memiliki Intan, yg memang sdh populer dg cara yg tdk populer. Utk mendpatkan intan sampai ada orang yg menghalalkan segala macam cara. Jika aku kau perbandingkan dg Intan adalah beda. Sifatku adalh tdk membedakan org. Entah dia itu butuh saya ataupun tdk butuh saya tetap aku beri. Baik dia itu tua, muda , kaya miskin, sehat sakit dsb. Mereka aku perlakukan sama. Tp kalau Intan itu hanya mau dimiliki oleh org2 yang kaya saja. Padahal org membutuhkan Intan hanya dicari pancarannya sj. Sedangkan aku, semua orang aku berikan pancaran. Jadi Intan itu hanya memberikan pancarannya kepada orang2 yang kaya sj. Dia itu mendidik orang utk thomak, sering membuat org sukang memfitnah. Oleh sebab itulah Sukma, aku tdk ingin kamu temui, karena aku tdk mau kamu persamakan dengan Intan.” Tutur Matahari yang membuat aku menyadari kesalahanku. Memang aku merasa, hbw akhir2 ini aku dibuat ter gila2 oleh Intan. Begitu cintaku kpd Intan sampi aku melupakan ibadahku. Lupa kepada keluargaku, dan yg tampak dimataku hanya Intan. Kemarin2 aku malam tdk bisa tidur, siang kehabisan tenaga karena sering terjaga semalaman. Jadi aku tdk menyalahkan Matahari jika dia menjauhiku. Tapi sekarang aku bersyukur Matahari sdh mau menyapa dan bahkan mau menemui diriku. “Sukma !” panggil Matahari menyentak lamunanku. “Aku ingin bertanya kepadamu, masihkah dirimu mencintai Intan ?” tanya Matahari. “Memangnya kenapa, Har ?” aku balik bertanya. “Jika memang msh mencintai Intan, maukah kau menerima saranku ?” kata Matahari yg membuatku penuh tanda tanya. “Apa saranmu, Har ?” desakku tdk sabar. “Jika kamu ingin menundukkan Intan, maka jauhilah dia, dengan cara : Dengan sering2lah kamu bersyukur, dan jangan lupa sering berkomunikasi kpd Ibu Pertiwi.” Tutur Matahari. “Tapi dimana dapat aku temui beliau ?” semakin bersemangat aku atas saran Matahari itu. “Namun itu tdk mudah, Sukma. Siapa sj yang ingin bertemu dg Ibu Pertiwi akan di halang2i oleh jin yang bernama jin api dan jin Lawamah. maka jika kamu mampu menundukkan jin api dan jin lawamah itu maka kamu akan ditemui oleh Jin Tirta. Dan Jin Tirta inilah yang akan memberimu petunjuk bagaimana caranya agar bisa bertemu dengan Ibu Pertiwi.” tutur Matahari yang cukup membantu saya utk menentukan langkahku selanjutnya. Singkat cerita, sebelum menundukkan Jin Api dan Jin Lawamah, aku terlebih dahulu ingin menemui ibu Mayangkara wanita tua yang sdh 2 mlm aku temui. Memang, malam harinya stlh aku mendapat petunjuk dari Matahari, aku harus ke tempat batu hitam tempat pertemuanku dg wanita tua itu. Seperti biasa, aku hrs menunggu beberapa saat . dalam menunggu itulah wktku aku gunakan utk bercanda dengan Rembulan yg aku lihat sdh tampak agak gemuk dibanding kemarin. “Masih ada urusan dg ibu tua itu, Ma ?” tanya Rembulan. “Masih, Lan. Mudah2an malam ini urusanku dg beliau sdh tuntas. Tegasku. “Memangnya ada urusan apa ?” tanya Rembulan lagi. “Ya, sebenarnya tdk ada urusan, akan tetapi berhubung aku tlh menyanggupi utk menolong ibu tua itu, maka terpaksa aku punya urusan.” Jawabku sumbang. Akhirnya Rembulan kembali ke aktifitasnya dan meninggalkanku sendirian duduk di batu hitam yg membisu. Namun sdh hampi separo malam aku tunggu, wanita tua itu blm juga muncul. Utk menghilangkan kejenuhan hati, aku brcanda dengan semilir angin yg membuat rasa dingin sampai tembus ke tulang. Apalagi ini musim segera berganti. Ketika rasa jenuh sdh sampai batas kesabaranku, tiba2 terdengar suara gemerisik daun kering yg tertiup angin sbg tanda wanita yg aku tunggu tlh datang, dan benar : “Nak Sukma.” Suara wanita itu memanggilku. Tapi ada yg aneh dg intonasi suaranya. Aku kenal suara itu, tp kali ini lebih merdu dan seakan ada daya magic yg luar biasa. Lebih aneh lagi ketika aku menengok, tlh berdiri disampingku seorang gadis yg cantik jelita. Samar2 aku perhatikan wajahnya sepertinya pernah aku lihat, tapi kapan dan dimana. “Nak Sukma, ini aku Mayangkara, seorang wanita yang kamu tunggu.”” Kata wanita itu yg membuatku kaget dan takjub luar biasa. “Ssssiapa kamu, dan mengapa wajah ibu Mayang kok berubah wajah layaknya seorang gadis remaja ?” tanyaku tdk percaya. “Betul nak. Aku ini ibu Mayangkara dengan wujud ketika ibu masih dlm usia gadis remaja.” tegas ibu Mayangkara meyakinkan diriku. Sungguh cantik wajah Ibu Mayangkara ketika remajanya. Rambutnya lebat panjang terurai, wajah oval, bibir mungil, tinggi semampai bk putri keraton. Andakan sj aku tdk tahu bhw itu wujud asli ibu Mayangkara, mungkin aku bersedia menjadi suaminya. Aku yakin, semua pemuda akan jatuh hati dengan melihat kondisi ibu Mayangkara seperti yg saat ini. “Apa nak Sukma masih meragukan ibu ?” Byar, bagai terbangun dari mimpi mendengar panggilan bu Mayang dan : “Eh..anu.. ehm.. tidak bu.” Jawabku tergagap. Kemudian ibu Mayang melanjutkan ceritanya yg sempat terputus kemarin malam. “Setelah meresapi apa yang disampaikan ayah ibu, akhirnya ibu memutuskan utk menerima saran ayah ibu utk menikah dg P. Unggul sahabat beliau itu. Msh jelas dlm ingatan ibu, ketika itu bulan Rojab jatuh pada hari anggoro kasih, tanggalnya ibu lupa.” Wanita itu berhenti sejenak, sptnya sdg meng-ingat2 sesuatu, kmd melanjutkan ceritanya lagi : “Di pagi itu, ibu dipanggil ayah utk bertemu di ruang tamu. Setiba di ruang tamu, ibu lihat ada P. Unggul yg sdg duduk ditemani oleh ayah ibu. Tampak wajah P. Unggul yg teduh dan penuh wibawa. Memang pagi itu P. Unggul lbh punya daya tarik dimata ibu. Ketika itu jantung ibu berdegup kencang saat bertatap mata dengan P. Unggul. “Duduk sini, nak. Dan hormatlah kpd P. Unggul ehm..eh dg calon suamimu.” Kata ayah ketika aku tlh menghadap beliau dan kmd ibu mencium tangan P. Unggul yg memang sdh biasa ibu lakukan setiap ketemu. Tapi, entah mengapa pagi itu perasaan hormat ibu pada P. Unggul merasa beda dibanding dg hari2 sebelumnya.” Ibu terdiam sejenak, seperti sdg menyusun kalimat. Saat itu aku perhatikan dengan jelas, bhw wajah Ibu Mayangkara memang benar2 cantik. Dlm hatiku berkata : “Wahai…cahaya, janganlah kau terburu pergi, dan jangan pelit dg sinarmu, krn aku sdg menikmati wajah ayu yg berdiri di depanku.” Awan dan bintang seperti paham dengan maksudku, terbukti awan pergi menjauh dan bintang semakin mengembangkan sinarnya. Tanpa sadar keluar decak kagum dari mulutku : “Chk..chk…chk…” betapa cantik banget wanita ini. Ditambah semilir angin yang meniup rambut lebat yang terurai itu membuatku iri. Kenapa tdk tanganku saja yg membelai rambut itu. “Nak Sukma.” Buyar lagi lamunanku mendengar panggilan bu Mayang. Baru aku sadari ternyata tanganku tdk membelai rambut wanita itu tetapi hanya membelai ilalang yg tumbuh diseputarku. “Yyyya bu.” Sahutku agak tersipu. “Katakan dengan jujur, nak. Apa yang mengganggu pikiranmu saat ini ?” pertanyaan ibu Mayang yg membuatku malu. “Ehm.. tdk ada kok bu.” Jawabku bohong. “Jangan bohong pada ibu nak. Ibu tahu apa yg ada dlm pikiranmu. Tapi tdk apa, krn itu naluri alami yg dimiliki setiap insan Tuhan yang jika tdk bisa mengelola akan menciptakan petaka.” Sindir ibu Mayang yg semakin membuatku tambah malu dan sungkan. Stlh aku pikir,  aku hrs masa bodoh. Krn kenyataannya toh Ibu Mayang memang orgnya cantik. Kmd ibu itu lalu meneruskan ceritanya ” “Di ruang tamu itulah, ibu memulai menulis lembaran kisah hidup yang baru, yang melibatkan kisah kami bertiga yakni Ibu, ayah Ibu dan P. Unggul sahabat ayah ibu itu. Pada waktu itu juga, di ruang tamu ibu ditanya oleh P. Unggul yg kelihatannya sdh disetujui oleh ayah ibu. Ibu masih ingat betul pertanyaan yang disampaikan P. Unggul : “Mayang, bocah ayu. Bapak sdh diberitahu oleh Pak Sabar yi ayahmu,  tentang apa yg menjadi keinginan beliau utk menjadikan diriku sebagai menantunya dg dijodohkan denganmu. Namun bapak belum bisa memberikan jawaban, terus menurut dirimu sebaiknya bapak harus menjawab apa ?” kalimat pertanyaan P. Unggul ketika itu membuat ibu mempunyai pemikiran bhw itu merupakaan sebuah pertanyaaan yang mengandung banyak makna. Hal inilah yg membuat sikap ibu lebih mantap memenuhi keinginan ayah ibu itu. Kenapa demikian ? Ternyata selain P. Unggul memiliki ilmu linuwih, juga rendah hati dan pandai mengelola kata dan bahasa. dari pertanyaan yg diajukan itu ibu menyimpulkan bhw beliau pantas utk ibu jadikan panutan. Bgmn tidak, beliau orgnya penuh kebijaksanaan, pandai bertutur kata, sehingga org sulit utk menebak isi hatinya. Akhirnya dg agak sungkan ibu menjawab : “Saya hanya ingin membuat hati ayah saya senang, pak. Dengan cara memenuhi apa yang menjadi permintaannya, dlm hal ini beliau ingin agar sy mau dinikahkan dg bapak.” jawab ibu,  namun dianggap blm cukup oleh P. Unggul krn masih ingin menjajagi hati ibu. Lalu beliau msh mencecar ibu dg kalimat berikutnya : “Itu kan hanya keinginan ayahmu, Mayang. Dan bapak tdk ingin menjadi beban bathinmu gara2 dirimu memenuhi keinginan ayahmu itu.” katanya penuh  diplomatis. Dipojokkan demikian, ibu sdh tdk punya jawaban lain selain harus menjawab jujur. “P. Unggul, ijinkanlah sy yg bodoh ini utk berterus terang tentang apa sebenarnya yg membebani bathin Mayang. Dan apbl nanti ada kesalahan dlm tutur kata, mohon Bapak maafkan.” ungkap ibu memberanikan diri. “Wahai mayang, anak yg berbakti kepada org tua, kaulah gadis yg patut menjadi contoh para gadis seusiamu. Katakanlah, apa yg menjadi ganjalan dalam hatimu. Percayalah, apapun yg ada dlm isi hatimu tdk akan membuatku tersinggung apalagi marah, cah ayu.” kata P. Unggul penuh kelembutan. Semakin banyak kalimat2 yg disampaikan beliau, rasanya semakin dalam ibu tenggelam dlm  pasir2 cinta.  Boleh dibilang ibu telah terkena jeratan benang halus dimana serat2nya mengandung pesan ghoib yg berisi rayuan surgawi tentang hakekat cinta. Dengan P. Unggul, ibu yg semula merasa ada dinding pemisah yg berupa jarak usia, antara murid dan guru dsb yang membujur antara ibu dan P. Unggul, seolah telah rebah diterjang oleh badai kepasrahan hati. Namun demikian Ibu masih ingin juga mengetahui keseriusan P. Unggul  terhadap ibu. Utk mengetahuinya, ibu hrs menguji beliau. Mohon sudilah Bapak menjawab 2 pertanyaan yang Mayang ajukan, pertama : apa yang paling bapak sukai pada diri saya ? Dan pertanyaan kedua : apa yang paling tidak bapak sukai pada diri saya ?” Entah kekuatan dari mana wkt itu ibu kok berani mengajukan pertanyaan seperti itu. Kmd dg tenang P. Unggul menjawab pertanyaan ibu : “Mayang bocah ayu,  sebelum bapak menjawab pertanyaanmu, bapak cerita sedikit. Dengar dan simak baik2 ya cah ayu. Dulu, ada seorang raja sakti Mandraguna bernama “Prabu Watu Gunung”. Krn saking saktinya sampai tdk ada yg menandingi. Suatu ketika, raja itu jatuh cinta kpd gadis desa putri seorang resi. Namun sayang sang gadis sulit utk ditundukkan hatinya. Sang gadis hanya mau menikah dg  siapa sj yg dpt menjawab pertanyaannya tdk peduli dia orgnya miskin, jelek dll. Ketika Prabu Watu Gunung bersiap utk melamarnyapun juga tdk luput dari persyaratan sang gadis desa itu. Karena merasa dirinya sakti, akhirnya raja itu mempersilahkan gadis itu utk mengajukan pertanyaannya. Kmd sang gadis mengajukan pertanyaan yg selama ini blm pernah ada yg mampu menjawabnya. Adapun pertanyaan yg diajukan oleh si gadis desa tsb adalah dmk : “Kalau pohonnya adokoh maka buahnya adikih, dan kalau pohonnya adikih maka buahnya adokoh”  Mendapat pertanyaan  dmk, Prabu watu Gunung spt terkena batunya. Benar2  hebat gadis ini pikir Prabu Watu Gunung.  Gadis spt itulah yg memang  pantas utk dijadikan permaisurinya. Tapi  apa jawaban dr pertanyaan itu ? Raja tsb bingung dibuatnya, krn pertanyaan tsb sederhana, aneh tp sulit dijawab. Tp jika tdk mampu menjawab , sebagai raja yg terkenal sakti dia akan malu. Masak raja yg terkenal sakti mandraguna kok kalah dg gadis dusun. Sedangkan mau menjawab tdk tahu jawabannya. Seandainya disuruh memilih, Prabu Watugunung memilih tanding dengan rajanya dewa sekalipun. Tapi bukan Prabu Watu Gunung kalau sampai menyerah. Karena didesak oleh gadis desa itu utk segera menjawab, kmd Prabu Watu Gunung bersedekap guna menutup babahan hawa sanga utk ngrogo sukmo. Dalam keadaan ngrogo sukmo tersebut, sukmanya Prabu Watu Gunung menemui sukmanya gadis itu. Stlh ketemu dengan sukma si gadis dan bertanya apa jawaban yang benar atas pertanyaan yang diajukan itu. Karena sukma atau ruh itu tdk dpt bohong, mk menunjukkan jawaban yang benar atas pertanyaan yg disayembarakan itu. Stlh mendapat jawaban maka  sukma Prabu Watu Gunung kembali ke dalam tubuhnya dengan sdh membawa sebuah jawaban. Akhirnya Prabu Watu Gunung memberikan jawaban kepada gadis pujaannya itu. “Pohonnya adokoh dan buahnya adikih itu pohon beringin. Karena pohonnya besar atau kuat akan tetapi buahnya kecil. Sdgkan pohonnya adikih buahanya adokoh adalah semangka. Krn semangka itu pohonnya lemah sdg buahnya besar.” Kata Prabu Watu Gunung kpd gadis itu. Mendengar jawaban tersebut sang gadis membenarkan dan akhirnya mau dinikahi oleh Prabu Watu Gunung. Sehabis menceritakan kisah Prabu Watu Gunung,  Pak Unggul diam sejenak sambil pandangannya diarahkan ke wajah ibu seakan bertindak seperti yang dilakukan oleh Prabu Watu Gunung, kemudian : “Apa yang paling bapak sukai dari dirimu adalah apa yang paling kau benci pada diri bapak. Dan apa yang bapak paling tdk sukai pada dirimu adalah  apa yang paling kau sukai pada diri bapak.” Mendapat jawaban seperti itu dari P. Unggul, ibu semakin mantap utk menerima beliau menjadi calon suami ibu, nak Sukma.” tutur bu Mayang. “Ehm… saya kok tdk dpt memahami apa yg menjadi penuturan dan kisah antara ibu dengan P. Unggul ya, bu.” Selaku menghentikan cerita Bu Mayang, yg tanpa aku sadari timbul rasa cemburuku pada P. Unggul yg pernah hidup beberapa puluh tahun yang lampau. Mungkinkah aku tlh jatuh cinta kpd ibu Mayang  dengan wujudnya yg  seperti saat ini. “Bagian mana yang tdk kau pahami dari kisah ibu itu, nak Sukma ?” tanya bu Mayang agak jengkel.  “Maaf bu,  bukannya sy tdk percaya kisahnya, tapi dr sebuah jawaban yg membutuhkan pertanyaan, sdgkan jawabannya  mengandung pertanyaaan, demikian terus, kok membuat ibu yakin shg membuat ibu hrs menerima P. Unggul utk menjadi suami ibu.” Jelasku kpd u Mayang yg mana saat itu hatiku penuh pergulatan bathin dan menimbulkan pertanyaan : “Ini yg waras aku atau kelompok bu Mayang yg didalamnya ada P. Unggul dan ayahnya Bu Mayang.” Ah. Aku akhir2 ini memang  banyak menemui peristiwa2  aneh, apakah ini tanda2 bhw aku akan menjadi org gila, pikirku. “Komentarnya sdh, nak Sukma ?” tanya bu Mayang menyentak lamunanku. “Eh… anu..sdh, bu.” Jwbku gagap. Kemudian bu Mayang melanjutkan ceritanya : “Ibu paham kenapa nak Sukma bingung. Krn yg ibu sampaikan adalah bahasa ukrowiyah agar manusia tdk menjadi bingung apabila tdk sesuai dg hatinya. Apabila dg bahasa duniawi,  perbedaan penafsiran akan menjadikan petaka. Jd bahasa P. Unggul dan bahasa yg ibu sampaikan hanya bisa dipahami oleh kami bertiga yakni, ibu, ayah ibu dan P. Unggul.” Penjelasan bu Mayang yg akhirnya dpt aku pahami. Namun demikian msh ada yg belum aku pahami yi apakah bu Mayang ini manusia ataukah peri ? Blm selesai  bathinku menebak, sdh didahului oleh suara wanita itu : “Ibu ini manusia biasa spt dirimu, sbgmn ibu ceritakan ketika awal mula kita bertemu.” Kata bu Mayang yg membuatku kaget. Bgmn tdk kaget, beliau kok bisa membaca setiap apa yg aku pikirkan. “Setelah ibu cukup yakin tentang kepribadian yg dimiliki P. Unggul,  mk ibu terus matur kepada ayah ibu bhw utk selanjutnya nasib ibu sy pasrahkan kepada beliau berdua yi ayah ibu dan P. Unggul.” Kata wanita itu aku potong dg nada protes : “Maaf bu. Apa ketika itu  P. Unggul tinggal serumah dg bu Mayang ?” “Tidak,  beliau tinggal disuatu runah yg tdk jauh dari rumah ibu.” Jawab bu Mayang yg membuatku lega. Singkatnya cerita, kmd bu Mayang  menuturkan bhw stlh 1 bulan semenjak pertemuanny dg P. Unggul dan ayah bu Mayang,  beliau resmi menikah dg P. Unggul sahabat ayahnya itu dg selisih usia 30 tahunan lbh. Namun sayangnya,   stlh acara pernikahan itu, beberapa hari kemudian bu Mayang terpaksa merelakan kepergian sang ayah yg tdk mungkin kembali lagi. Hal itu dituturkan beliau dmk : “Sebelumnya memang ibu sdh mendapat firasat, ibu msh ingat, 7 hr sebelum ayah ibu wafat beliau menghampiri ibu. Ketika itu ibu sdg duduk sendiri diserambi depan. Ini sebenarnya bukan hal yg aneh, krn memang ibu sering menghabiskan wktu ditempat itu dikala sdg suntuk. Adapun yg aneh yi beliau minta ibu utk menunjukkan dimana sebaiknya menguburkan org tua yg wafat. Kaget, sedih dan takut  hati ibu mendengar pertanyaan ayah  spt itu. Ibu lantas menanyakan mksd beliau mengapa bertanya hal spt itu ? Dan beliau mengatakan bhw tdk ada apa2, dan kata beliau hanya ber-andai2 sj.  Tp wkt itu beliau tetap mendesak ibu dg pertanyaannya : “Dimana kamu akan menguburkan ayahmu ini, bilamana tlh wafat nanti ?” Perasaan cemas dan takut membuat Ibu terpaksa bicara keras kpd beliau : “Ayah ! Mengapa ayah tega bicara spt itu kpd Mayang, Yah ? Apakah Mayang tdk diijinkan mereguk ketenteraman bathin yg kini sdh aku dptkan ?” Ibu cecar dg pertanyaan yg penuh dg kepanikan hati, beliau hanya terdiam, dan dr matanya keluar air mata sbg tanda beliau sdg berduka. “Waktu itu apa kondisi ayah ibu sedang sakit ?” tanyaku  bemaksud sedikit mengurangi kesedihan masa lalunya. Belum sempat mendapat jwbn sdh terdengar suara koko ayam jantan yg menunjukkan bhw pagi sdg menjemput.  Kali ini berarti urusanku dg Bu Mayang blm tuntas. Tapi tdk masalah,  bahkan jika mungkin, setiap malampun aku hrs ketemu beliau, akupun mau krn dpt menikmati wajah cantiknya yi wujud aslinya tatkala belia msh gadis remaja. “Nak Sukma, bosankah jika kau besok menemui ibu lagi disini ?” suara ibu Mayang ketika pamita utk pergi yg membuatku merasa berontak seakan tdk ingin ditinggalkan. “Ah.. kenapa aku ini ? Kenapa aku merasa kesepian ditinggal ibu Mayang sdgkan besok toh ketemu lagi ?” gejolak bathinku. “Jangan kau biarkan hatimu yg sdh penuh menjadi kosong kembali, Sukma.” bisik sdr Bathinku menyentak khayalku. “Mksdmu apa ?” bentakku. “Ketahuilah Sukma, bhw org yg kesepian itu adalah tipu daya bathin.” tutur sdr bathinku. “Kok bisa ?” sergahku. “Ya Sukma, krn dg terpusatnya hati pd satu titik, maka akan menghilangkan titik2 yg lain. Contoh : Apbl dlm suatu rungan ada 50 org, dan yg kita tuju hanya seorang entah itu sdr, atau pacar kita, mk yg 49 org bagimu seolah tdk ada.Aplg jika 1 org yg kita tuju itu tdk ada diruang itu, mk yg 49 org malah dianggap sepi, krn yg kita tuju tdk ada. Itulah tipu daya bathin, Sukma.” kata2 sdr bathinkua yg jika aku resapi  ada benanya juga. Krn adzan shubuh sdh mulai ramai dari surau2 kmd aku segera bergegas oulang ke rumah. Setiba di rmg ake segera menjawab panggilan adzan tersebut dg melaksanakan sholat Shubuh. Seperti biasa pada hari2 sebelumnya aku tidur stlh Shubuh dan mungkin bs sampai sore baru bangun jk tdk dibangunkan oleh Intan. “Bangun Sukma, hr tlh siang.” terdengar teriakan Intan yg membuatku kaget. Kalau biasanya aku berharap bs ketemu Intan, tp entah kenapa pagi itu aku tdk mengharap kehadlirannya. Mungkin dikarenakan hatiku tlh kecantol  dg kecantikan Bu Mayang wanita yg kutemui setiap malam itu. “Lho, kok kamu kelihatan aneh hari ini, ada apa denganmu, Sukma ?” tny Intan heran melihat perubahan pd diriku. “Tdk ada apa2, cuma aku tdk mau diganggu sj!” kataku dg nada tinggi. Aku sendiri juga heran, entah mengapa aku sampai mampu bersikap kasar dan tdk merasa khawatir kalau ditinggal Intan. Aku teringat nasihat tentang Intan yi jika ingin menguasainya dg cara hrs menghindari dan dg cara sedikit demi sedikit dan akhirnya melupakannya. Pikirku, saat inilah waktunya. “Ayolah Sukma, mengapa hari ini kamu berubah sikap kepadaku ?”  desak Intan penasaran. “Mengapa kamu harus repot2 mengurusiku, sedang di dunia ini banyak orang lain yg mengejar-ngejar serta jatuh hati padamu ?” kataku mengelak. “Aku tahu, Sukma. tp kamu harus menjelaskan kenapa kamu bersikap begitu padaku, apa salahku ? Bagiku, pantang aku direndahkan spt ini. Sampai dimanapun akan kukejar kau, Sukma. Sampai aku tahu alasanmu. Sebelum itu akan aku buat kamu membutuhkan diriku dan bertekuk lutut dibawah kakiku!” ancam Intan. Mengetahui kata2 yg diucapkan oleh Intan, aku semakin menyadari sifatnya. Dan akhirnya aku juga membenarkan nasihat2 yg selama ini tlh aku abaikan. “Ah,  benar juga nasihat2 yg aku terima.” Pikirku dlm hati.  Oleh sebab itu aku semakin bersemangat utk meninggalkan Intan. Akhirnya walau saat itu aku dirayu  kmd dicaci maki krn tdk aku pedulikan, Intan meninggalkan diriku dg membawa kekecewaan hati. “Masa bodoh !” pikirku. Sepeninggal Intan aku merasa sangat tenang, merasa tdk ada beban dan baru kali ini aku menemukan kedamaian dlm hidup. Aku sendiri heran, entah knp aku dg mudah bs melupakan Intan. Atau bargkl aku sdg terbua wajah cantik Bu Mayang. Teringat Bu Mayang,  ingin rasanya jagad ini aku putar lbh cepat jk mampu agar siang segera berganti dg malam. Ah.. sungguh2 aku tlh terkena  panah asmara. “Sukma, jangan kau biarkan dirimu masuk ke dalam  alam angan.” Tegur sdr bathinku. “Memangnya salah jika aku memperoleh kenikmatan dari alam angan?” protesku. ‘Itu tdk salah, Sukma.  Aku hny khawatir dirimu tdk mampu menselaraskan  dg alam nyata..” jelas  sdr bathinku yg msh blm membuatku puas. Aku msh blm bs menerima penjelasan sdr Bathinku itu mk aku kejar pertanyaan2 yg bs aku terima jawabannya. “Mksku begini, Sukma. Kalau alam angan itu gerakannya memakai deret ukur. Sebagai contoh : 1 – 5 – 25 – 625 dst. Sdg alam nyata gerakannya memakai deret tambah. Contoh : 1 – 6 -11 – 16 dst. Coba kau bandingkan dg menggunakan angka 5 . Dlm alam angan baru 4 tahap sdh menjadi 125. Sdg alam nyata baru 16. Perbedaannya cukup jauh Sukma.  Oleh sebab itulah maka banyak org yg menjadi gila apbl hidupnya sering dibiasakan di alam angan tnp berpikir realita.  Knp kok bs gila ? Sebab tdk ada keseimbangan nila itu tadi.” Jelas sdr Bathinku yg sdh bs aku pahami. “ Sdr Bathinku ini kok jenius banget sih.” Sanjungku penuh kagym. Memang benar, jika aku resapi  apa yg dituturkan oleh sdrku itu. Org yg selalu hidup di alam angan itu lebih cenderung menyakiti org lain. Sebagai contoh org yg gila hormat, didlm pikirannya pasti selalu berharap org lain banyak yg menghormati dirinya. Lha utk memperolehnya, pasti dia memposisikan dirinya selalu diatas org lain. Akhirnya dia merasa lebih kaya, lebih pandai dan lebih2 yg lain. Bila dibanding org lain. Pada akhirnya dia menjadi angkuh, sombong serta tdk mau menerima saran2 dan nasihat baik dr org lain. Akan tetapi jika seseorang tdk mempunyai angan2, ya tdk bakal maju. Lalu harus bgmn sebaiknya ? “Sukma, pendapatmu itu benar, tp lyg lbh baik itu jk kamu punya angan2 hrs dipadukan dg realita. Sbg contoh : kamu punya angan2 kepingin menjadi lurah, sdgkan pada kenyataannya sj kamu tdk pernah sekolah, bersosialisasi dg masyarakat juga tdk pernah,  berarti angan2 tsb adlh angan2 yg dipaksakan. Dan tdk salah jika org2 mengatakan kita gila. Jk sdh dmk segala gerak jasmani kita yg mengendalikan ya angan2 tadi. Akhirnya org yg ber angan2 ingin jd lurah tsb berperilaku kayak layaknya lurah beneran.” tutur sdr bathinku jelas dan dpt kumengerti, shg angan2ku utk dpt menjadi kekasih bu Mayang, lambat laun memudar. Waktu Isya’ tlh lewat. Hampir sepenanak nasi aku duduk di atas batu hitam utk menunggu kehadliran Bu Mayang. Memang aku sengaja datang lebih awal agar dpt bertemu dengannya dg waktu yg lbh panjang hanya utk mendengarkan kisah hidup wanita cantik itu. Kulihat Rembulan sdg melirik padaku, tapi aku pura2 tdk tahu. Tapi sikapku itu dpt dibaca oleh Rembulan, terbukti : “Sukma.. Sukma, kalau tdk ada awan mana mungkin hujan akan turun. Kalau tdk ada keperluan  mana mungkin  ingat kawan sdg tertegun.” Sindir Rembulan kpdku. “Aku tdk paham maksudmu, Lan.”  Balasku. “Dirimu itu mempunyai ciri2 org yg mdh ditebak org lain.” Kata Rembulan lagi. “Memangnya, menurut dirimu aku ini kenapa jika kau bisa menebak ?” protesku. “Dirimu itu kalau lagi senang dg sesuatu maka sesuatu yg lain yg tdk kamu sukai akan tdk nampak dimatamu. Sehingga yg nampak hanya yg kamu senangi sj.” Jwb Rembulan.  “Apa alasanmu shg menyimpulkan diriku spt itu ?” protesku lagi. “Buktinya, dirimu tdk melihat kalau ada aku yg memperhatikan dirimu.” Kata Rembulan beralasan. “Bukannya aku tdk melihat dirimu, Lan. Akan tetapi aku memang sengaja tdk ingin melihatmu.” Jelasku. ‘Itulah salah satu bukti dirimu dan pada umumnya manusia.” Jelas Rembulan tdk mau kalah. “Ya..ya sdh, kamu benar.” Kataku mengalah, drpd harus berdebat. Dg jawabanku itu ternyata membuat Rembulan senang krn merasa memenangkan perdebatan. Kmd dia melaanjutkan tugas ronda malamnya. Benar2 kurang ajar anjing ini, kata2 yg diucapkan tlh menampar mukaku. Maka kmd aku katakan kepadanya : “Aku malu berjalan denganmu yg hanya seekor anjing. Dan mana mungkin aku berjalan bersama sang abadi dan kekal ? Itulah makanya kemuliaan Tuhan yang hanya mendidik malkhluk terbaik dengan menggunakan perantara makhluk terburuk.” Hardikku pada anjing tsb. “Tuan, selama ini golongan Tuan menganggap diriku adlh makhluk terburuk. Dan itu yg tertulis juga dlm kitab suci yang Tuan yaqini. Tapi, tahukah Tuan, betapa dg keberadaan saya, golongan Tuan memperoleh kemuliaan hidup, baik secara  lahir maupun secara bathin.” Tutur anjing itu bernada da’wah. Memang dlm hatiku membenarkan apa yg tlh dikatakan itu. Hanya karena mempertahankan harga diri, masak org kok kalah sama anjing, maka : “Hai anjing binatang jelek, apa dasar dari ucapanmu tadi ?” bentakku penuh rasa jengkel. ‘Tuanku, tahukah bhw tuan adlh contoh dr manusia yg sdg tertutup hatinya. Merasa punya derajat tinggi shg tdk dpt melihat kebenaran. Saat Tuan merasa dirinya tinggi itulah sebenarnya tinggal menunggu kejatuhan Tuan.” Kata2  yg diucapkan oleh anjing itu semakin aku cermati semakin membuatku sadar dan penasaran padanya, maka ” “Hai anjing, siapa kamu sebenarnya ? Sy lihat dr bentukmu hanyalah seekor anjing, tapi isi dan nada bicaramu bak pertapa suci ?” tanyaku pd anjing ahen itu. “Tuan Sukma, jangan terlalu memuji diriku yg hina ini. Jika Tuan ingin tahu siapa diriku sebenarnya bhw aku adlh jelmaan dr sebagian sifat manusia.” blm sempat aku bertanya lbh lanjut kpd anjing itu, tiba2 aku merasakan  ada semilir angin yg dibarengi dengan suara wanita yg sdh aku kenal : “Betul nak Sukma, apa yg dikatakan oleh anjing itu adalah benar.” kata2 bu Mayang yg membela anjing itu. “Oh.. ibu mayang.” sahutku agak kaget krn bu Mayang menampakkan dirinya dengan wujud sebagai nenek2 yg sdh tua. Dan ketika kutengok anjing yg td mengobrol denganku, kini tlh tdk ada ditempatnya. Entah dia pergi kemana sdh tdk aku hiraukan lagi. “Maaf ibu ya nak Sukma, membuatmu menunggu terlalu lama.” kata2 bu Mayang merasa bersalah. “Tdk apa2 bu. Cuma sj, mengapa ibu tdk menampakkan diri dengan wujud ketika msh gadis.” tanyaku penuh kekecewaan. “Memangnya kenapa dg wujud ibu sekarang ini, nak ?” pertanyaan Bu Mayang yg membuatku gelagapan utk menjawab. “Ehm.. enu. eh.. tidak apa2, bu.” kmd bu Mayang melanjutkan kata2nya : “Sengaja ibu menggunakan wujud wanita tua spt ini agar supaya nak Sukma kembali kpd kehidupan yg nyata dan tdk terbelenggu ke dalam kehidupan alam angan.” jelas bu Mayang yg membuatku malu krn sindirin tsb. Memang aku tlh mengkhayal untuk menjadi kekasih wanita tua ini ketika berwujud gadis remaja. “Maafkan Sukma bu, yg tlh berfikir yg bukan2 thd ibu.” kataku dg perasaan tdk enak. “Oh.. iya nak Sukma, semalam sdh sampai dimana ceritanya ?” tanya bu Mayang mengalihkan perasaan maluku. “Kalau tdk salah sdh sampai pada ibu bersedia menikah dg P. Unggul terus 1 bulan kmd ibu kehilangan ayah tercinta.” jwb ku. Utk sementara ibu itu terdiam tdk segera merespon kata2ku sampai akhirnya : “Bu Mayang, bolehkah aku bertanya sesuatu ?” tanyaku mengisi keheningan. “Silahkan nak.” sahut bu Mayang, “Dari kalimat tanya jawab antara ibu dengan P. Unggul ada jawaban “aku menyukai yang kamu benci pada diriku dan aku membenci apa yg kamu sukai dariku” terus kok ibu langsung memberi keputusan utk bersedia menikah dg P. Unggul, apa makna kalimat itu, bu ?” pertanyaan yg selalu bergelut dlm hatiku akhirnya aku sampaikan. “Bagus pertanyaanmu itu, nak. Utk kalimat “aku suka apa yg kamu benci pd diriku” itu berarti org jujur. Dan makna “aku benci kpd yg kamu suka pd diriku” itu maknanya tanggung jawab. Jadi ibu menyukai org yg jujur dan bertanggung jawab. Banyak memang org jujur. Tapi tdk bertanggung jawab. Dan banyak pula org yg bertanggung jawab akan tetapi tdk jujur. Oleh sebab itu, ibu mau menikah dg P. Unggul krn beliau memiliki keduanya yi jujur dan bertanggung jawab.” jwb bu Mayang yg tnp ia sadari tlh aku buat lupa akan kesedihannya. “Maaf, terus sepeninggal ayah ibu, trs bgmn kelangsungan kehidupan ibu bersama P. Unggul ?” tnyku lbh lanjut. “Oh.. iya, ternyata ibu tdk salah menikah dg P. Unggul yg sebenarnya pantas menjadi ayah ibu. Satu tahun stlh pernikahan ibu dg P. Unggul, ibu dianugerahi seorang putri yg ibu beri nama Dewi Kelasih. Dan P. Unggul yg usianya jauh lbh tua drpd ibu ternyata juga bisa menjadi seorang suami yg baik dan bs mengganti posisi ayah kandung ibu yg penuh dg rasa cinta kasih yg tulus. Dan selama menjadi isteri beliau, yg kira2 hanya berjalan 3 th, ibu tlh banyak mendapat pelajaran dhohir dan bathin dari P. Unggul. Tetapi kelihatannya Allah memandang ibu belum lulus ujian, krn ibu msh dipaksa kehilangan lagi seseorang yg ibu cintai yaitu stlh putri ibu berusia 2 th, ibu kehilangan P.Unggul yg ibu cintai. Dalam hati ibu sempat menjerit : “Wahai.. Sang Penjaga Usia, Pencabut Sukma. Kenapa aku harus ada jika bakal kau pertemukan dengan keadaan dan kehampaan ?” namun teriakan ibu sempat mendapat ledekan dari jiwa yg kelam, krn harus tenggelam di lautan tangis yg dalam. Ibu rasakan seakan dunia ini mau kiamat, nak Sukma. Hampir sj ibu putus asa dan mengakhiri hidup ika tdk ingat Dewi Kelasih mssh membutuhkan perawatan ibunya. Wkt itu ibu kembali menghadapi hidup tanpa cinta, tnp kasih sayang yg dpt ibu jadikan pelita dlm mengarungi kehidupan yg gelap. Dulu ibu hanya duduk2 sj krn sdh dikerjakan oleh suami, kini ibu hrs berlayar  sendiridg membawa seorang penumpang yg msh berusia 2 th. Ibu hrs membawa penumpang tsb utk berlabuh yg jauhnya msh sebatas fatamorgana.” tutur bu Mayang sambil sesekali diselingi isak tangis tanda kesedihan hati. Diam sejenak wanita itu, spt ada yg dipertimbangkan apakah perlu atau tdk utk disampaikan. Kuperhatikan blm ada suara ayam berkokok tanda fajar tlh tiba, dan entah mengapa aku tdk merasa mengantuk walau bbrp malam ini aku sering terjaga. “Apa nak Sukma sdh mengantuk ?” tny bu Mayang spt tahu apa yg aku pikirkan. “Belum bu.” jwbku singkat. “Jika memang sdh mengantuk,  biarlah pertemuan kita lanjutkan besok malam lagi, nak.” kata bu Mayang menghibur. “Nggak apa2 bu. Silahkan ibu melanjutkan kisahnya.” kataku memastikan dg harapan agar aku segera dapat menuntaskan tugas yg diberikan, walau aku tdk tahu entah tugas apakah itu. “Stlh P.Unggul yg suami ibu itu wafat,  Dewi Kelasih putri ibu satu2nya itu ibu asuh sendirian. Sdgkan utk memenuhi kebutuhan hidup setiap harinya ibu terpaksa menjual sisa harta peninggalan suami yg nilainya tdk seberapa. Sampai akhirnya lama kelamaan tdk ada lagi yg ibu jual, yg tinggal hanya rumah kecil yg ibu tempati dan tanah pekarangan yg tdk begitu luas. Dan utk mencukupi kebutuhan hidup dengan satu orang anak kecil, ibu terpaksa keliling desa utk menjajakan makanan kecil.” blm selesai cerita bu Mayang sdh kesela suara ayam berkokok :Kukuruyuuk!” tanda pagi tlh datang utk menggantikan malam. Bu Mayang terpaksa berpamitan  : “Nak Sukma, ternyata sdh menjelang pagi, terpaksa pertemuan kita sudahi dulu dan bisa disambung esok malam.” kata ibu itu. “Boleh saya mengajukan permohonan, bu.” pintaku sblm dia keburu pergi. “Silahkan, nak.” jwbnya ramah. “Jika diijinkan, sudilah ibu besok malam datang dg wujud ketika masih gadis.” permohonanku dg rasa sungkan. “Oh.. bgt ya, baiklah akan ibu penuhi.” janji bu Mayang yg membuatku lega. Akhirnya pagi itu aku hs berpisah dg msh juga belum aku ketahui  tugas apa yg akan diberikan pdku. Dg langkah gontai krn rasa kantuk mulai menyerang, aku pulang ke rmh dg diliputi hati penuh cinta. Tapi cinta kpd siapa ? Oh.. entahlah, krn rasa itu  msh ada direlung hatiku yg paling dlm. Setiba di rumah aku melakukan kegiatan rutin spt biasany.  Sehabis luhur aku berencana akan pergi ke batu hitam tempat pertemuanku  dg bu Mayang. Aku ingin tahu ada misteri apa dg batu hitam tsb ? Menunggu memang pekerjaan yg menjemukan. “Sukma saudaraku, jika memang kamu cerdas kamu bs menemukan hikmah dibalik peristiwa yg kau anggap menjemukan itu.”  Kata sdr Bathinku yg selalu muncuk  ketika ada kekosongan dlm bathinku. “Kalau kau menghadap ke dinding, jangan kau lihat dindingnya. Tapi perhatikan pula apa yg ada dibalik dinding itu, Sukma. Janganlah kau terjebak  oleh pandangan matamu sj, tp gunakan kelima inderamu secara focus, mk akan maka akan membuka indera ke enammu. Dg bgt kau tdk akan tertipu oleh pandangan mata dhohirmu.” Tutur sdr Bathinku lbh lanjut yg membuatku semakin kagum padanya. Aku selalu yaqin dg sdrku ini krn tdk pernah meleset dlm menganalisa suatu persoalan. Pernah aku mengabaikan nasihatnya, akhirnya ketidak baikkan yg aku dapatkan. Sehabis sholat dhuhur, akhirnya aku langsung pergi ke tempat batu hitam dimana aku biasa bertemu dg wanita misterius itu. Setiba ditempat yg kutuju, aku dibuat kaget oleh pemandangan yg kulihat. Yakni, batu hitam yg biasanya bentuknya datar kini tlh berubah tak beraturan. Jangan lagi untuk duduk,  sdg utk berpijak sj entah bs entah tdk. Mengingat tonjolan2 yg  runcing tak beraturan, dan lbh aneh lagi, pohon rindang yg biasanya ada di dekat batu hitam itu ternyata hanya  sebuah tunggak pohon yg batangnya sdh kering. Utuk meyakinkanku kmd  aku cari kaleng cocacola dan puntung rokok yg aku buang disekitar tempatku duduk di batu hitam itu. Ternyata benar, ada puntung rokok berserakan dan ada juga kaleng bekas minumanku semalam. Aku heran, mengapa ada keanehan dg tempat itu. Krn msh kurang yakin, mk aku mencari bungkus makanan yg aku buang juga semalam. Dan ternyata aku temukan juga, barulah aku yakin bhw itu benar tempatku semalam. “Kenapa bs berubah begini ?” tnyku dlm bathin. “Jangan heran dan jangan takut, Sukma .” suara Sdr Bathinku menghentikan kebingunganku. “Siapa tdk akan heran jika yg aku alami bagaikan dlm mimpi.” protesku. “Memang, sebenarnya hidup kita ini juga mimpi, yg ketika terbangun nanti kita sdh ada di alam barzah.” lagi2 kata2 sdr Bathinku membuatku pusing. “Kalau hidup di dunia ini kita anggap mimpi,  berarti kita ini sdg tidur. Lha terjaganya sebelum tifur itu apa ? Hai sdr Bathinku yg suka membuatku bingung.” tanyaku dg jengkel. “Kau jangan memahami kata2 tidur itu secara harafiah. Tidur yg aku mksd disini adlh tidur dlm arti maknawi. Org yg selama hidup di dunia digunakan utk memburu harta, kesenangan duniawiyah itu sama dengan tidur. Krn kesenangan dunia  hanya jasmani yg dpt manfaat, sddg ruhaninya pasif tdk dpt manfaat apa2. Itu sama dg tidur.” tutur sdr Bathinku secara rinci. “Ya..ya..ya aku paham sekarang.” jwbku singkat. Akhirnya aku kembali meneliti keadaan sekeliling brgkali aku temukan petunjuk yg mungkin bs memberikan jwbn atas misteri ini.

Stlh hampir 1 jam  lbh aku keliling kesana kemari, msh juga blm menemukan petunjuk yg aku harapkan kecuali hanya bungkus  dan puntung rokok serta kaleng bekas minumanku. Sampai akhirnya aku lihat ada tukang rumput berjalan menuju ke arahku dan : “Dari tadi bpk perhatikan angger ini berjalan kesana kemari spt sdg mencari sesuatu, kalau bapak boleh tahu, angger ini sdg  mencari apa ?” tanya tukang rumput itu. “Tdk mencari apa2, pak. Cuma menyelidiki tabir misteri yg sdg sy alami.” Jwbku . “Memangnya misteri apa yg sdg angger alami itu ?” tny tukang rumput lbh lanjut. “Sblm sy jelaskan, boleh sy tahu, apakah bpk tinggal di daerah sini ?” kataku balik bertanya. “Betul ngger, itu gerumbulan pohon2 yg ada pohon kluwihnya itulah tempat tinggal bapak.”  Menjwb dmk sambil tangannya menunjuk kesuatu arah. “Ehm.. berarti bapak paham dg tempat ini ya, pak. Jika begitu sungguh kebetulan sekali sy bs minta keterangan kpd bapak.” Kataku bersemangat krn spt mendpt titik terang. “Apa yg bs bapak bantu utk angger ?” jwb tukang rumput itu penuh keramahan. “Terima kasih sebelumnya, pak. Begini, sy sdh bbrp malam selalu duduk di atas batu hitam itu.” Kataku menuturkan yg singkatnya sj aku telah ceritakan dr awal kmd bertemu bu Mayang di tempat ini sampai akhirnya aku ketemu tukang rumput itu yg ternyata bernama pak Waskito. Dan dalam sesaat itu aku dan P. Waskito sdh semakin akrab dan dari beliaulah aku mendapatkan cerita entah benar atau tdknya, ttp jika aku nalar sptnya masuk akal. “Sebenarnya bapak ya dengar dari org2 yg sedusun dg bapak. Katanya ada yg melihat seorang pemuda yg setiap mlm duduk di atas batu yg anger tunjuk itu. Dan mereka pd keheranan karena melihat pemuda tsb spt melayang di atas batu dan tampak sdg ber bincang2  dg sesuatu yg mereka tdk tahu. Pd malam berikutnya mereka membawa teman2nya utk melihat peristiwa aneh itu, dan katanya memang benar yi ada pemuda aneh yg melayang di atas batu sambil ngobrol dg makhluk halus. Ada sebagian dari mereka yg menganggap bhw pemuda tsb adlh org gila. Bapak tdk menyangka ternyata pemuda yg dimksd adlh angger sendiri.” Jelas P.Waskito setengah tdk percaya. “Benar pak, memang itu saya, dan saya merasa tdk melayang melainkan sdg duduk diatas batu yg datar. Mk sy juga heran kalau ada yg menganggap sy sdg melayang di atas batu. Dan sy memang juga sdg berbincang dg seorang ibu yg bernama Bu Mayang yg sy ceritakan tadi, pak.” Tuturku. “Oh.. bgt ya, terus apa yg bisa bapak bantu untuk angger ?” kata P.Waskito menawarkan bantuannya.

Bersambung……

Comments

comments

Tinggalkan Balasan