(Kisah Rohani) Menjemput Maut (Bag-2 Tamat)

“saya hanya ingin mengetahui brgkl bpk tahu ttg siapa bu Myang dan syukur2 bpk bs menunjukkan dimana beliau pernah inggal.”
“di kampung bpk itu yg ada di bwh pohon beringin, dulu katanya pernah ada bangunan rumah, tp skarang tinggal bekas2nya saja. Dan menurut cerita turun temurun, katanya penghuninya dulu merupakan cikal bakal desa ini, nak.” Tutur p. Waskito
Dalam hatiku ada rasa senang krn mngkn ini akan bs menguak tabir mysteri yg sdg aku alami.
“Kira2 bpk tahu siapa nama cikal bakal kampung Bpk tadi ?”
“dari cerita kakak ketika bpk msh kecil nak, namanya hmmmm..siapa ya…hmm..oh iya namanya Mayang. Dan katanya lagi orgnya baik. Tp bagi pemuda2 yg hidung belang y ada di desa ini akan menjadi momok yg menakutkan. Karena akan di ganggu oleh ruh Nyi Mayang. Bahkan ada yg menjd gila, dan juga ada yg sampai meninggal. Makanya di desa bpk masyarakatnya tenteram dan remajanya baik2 semua., Biasanya yg diganggu itu pemuda dr daeah lain atau pendatang yg bikin onar di desa bpk.” Jelas p. Waskito yg membuatku semakin bersemangat utk menuju pohon beringin yg dimksd p.Waskito.
“Saya bs minta tolong bpk utk membawa sy ke bekas bangunan rumah yg ada di bwh pohon beringin tsb, pak?” pintaku pd p. Waskito.
Nggak apa2, nanti bpk antar walau bpk sendiri blm pernh ke tempat itu sejak dilarang kakek bpk utk bermain di tempat tsb.” Sanggup p. Waskito yg membuatku lega.
Akhirnya aku jd diantar oleh p. Waskito ketempat yg ditunjuk dan yg katanya dulu bekas rumah tempat tinggal Nyi Mayang. Setiba di tempat itu, entah knp aku merasakan sesuatu keanehan. Spt ada daya ghoib yg kuat yg mencengkeram diriku supaya aku tetap tinggal disitu. Dan lebih aneh lagi, aku merasa seperti berada di alam lain utk menyaksikan kisah sebenarnya dari apa2 yg diceritakan bu Mayang kepadaku ketika di batu hitam. Dlm kejadian yg aku alami saat ini, aku seperti sdg menonton film dibioskop, shg aku dpt melihat dg jelas semua peristiwa 2 yg pernah diceritakan kepadaku. Yg aku tak habis mengerti, yi ketika melihat pemuda tampan yg prnh menyakiti bu Mayang sehingga menjd sakit ingatan., diriku seperti terkena kekuatan magic dan seolah-olah akulah yg mnjd pemuda tsb. Aplg wajahnya mirip sekali dg wajahku. “Ah….knp kok bs persis banget. Apa memang kebetulan dia itu kakek buyutku?” pikirku dlm hati.
“Ngger..ngger..bangun..ngger!” tiba2 ada suara me manggil2ku sepertinya sdg membangunkanku..
Dan ketika tersadar aku tlh berbaring di dipan dlm kondisi lemah, dn kulihat di sekitar bnyk org2 yg mengerumuni diriku dan tdk ada satu orgpun yg aku kenal kecuali wajah p. Waskito.
Kmd disamping p. Waskito ada seorang kakek berwajah lembut penuh uban serta jenggot yg tlh memutih.
“anak muda, siapa namamu dn drmn asalmu aan kenapa hg sampai di desa ini ? terlebih lg sampai berani berbuat sembrono di pohn beringin keramat itu ?” tanya kakek itu penuh selidik.
“nama saya Sukma, kek. Sy berasal dr ds seberang dan sy ke pohon beringin tsb atas petunjuk p. Waskito krn ada keperluan yg hrs sy penuhi, kek.” Jwbku yg kmd disambung dg penjelasan p. Waskito tentang kisahku yg tlh aku sampaikan kpd p. Waskito yi tentang pertemuanku dg bu Mayang sampai dg tiba” aku pingsan itu. Dan ternyata disaat aku pingsan itu, msh kata p. Waskito, katanya ada angin aneh dan hanya disekitar tubuhku. Kmd p. Waskito lari meminta tolong orang2 kampung, hg akhirnya aku digotong ber ramai2 ke rmh p. Waskito. Kmd aku lihat kepala kakek itu manggut2 spt menyimpan rhs yg tdk ingin diketahui oleh org2 kampung itu, lantas kmd :
“saya minta org2 pada keluar, dan biarkan kami bertiga tinggal di sini. Krn aku akan bicara dg mereka berdua.” Perintah kakek itu kpd org2 yg sdg mengerumuni diriku. Yg diperintah terus pada pegi meninggalkan kami bertiga dan ada diantara mereka yg mengeluarkan kata2 kecewa, menggerutu dsb. Sepertinya mereka kepingin tahu lbh jauh tentang peristiwa yg aku alami.
Akhirnya tinggal kami bertiga yg ada dlm ruangan itu dan sepertinya kakek tua itu sdg komat kamit berdo’a sesuatu yg bhsnya tdk aku mengerti kmd meniup air putih yg sdh dipersiapkan.
“tolong kalian berdua minum air yg tlh kubacakan do’a ini dan sisanya diusapkan di muka kalian.” Perintah kakek tua itu yg kmd tangan kakek itu memutar tasbihnya dg dzikir2nya. Entah dzikir apa aku juga tdk tahu krn tdk jelas. Suasa saat itu sangat hening walau hari msh siang, Dan aku lihat p Waskito memberi isyarat dg menutup mulutnya dg telunjuk sebagai perintah jangan berbicara. Yg aku nggak habis mengerti kenapa gara2 aku yg semula di diemi Matahari yg kmd aku berusaha mencari penyebabnya yg pada akhirnya sampai membuat heboh desa tempat p. Waskito tinggal.
Suasana msh hening, suara dr org2 yg berada di luar sdh tdk terdengar lagi. Mungkin sdh pada pergi meninggalkan rmh p. Waskito atau mungkin lagi pada diam atau tertidur. Kalau memang benar dmk, berarti terkena perbawa sirep dari kakek tua itu. Buktinya p. Waskito sampai tidur mendengkur dan si kakek tua itu tetap duduk bersila dlm keadaan diam tdk bergerak sama sekali. Entah knp aku kok tetap terjaga dan tdk terpengaruh sirep kakek tua itu. Krn aku merasa jenuh dg keadaanku mk aku coba untuk berdiri, dan krn tdk ada teguran dr kakek itu mk aku pikir akan tdk apa2 seandainya aku melangkah keluar rumah. Akhirnya aku langkahkan kakiku utk keluar rmh utk melihat apakah msh ada org2 yg menunggu di luar. Setiba di luar aku mlht ada sekitar 20 org yg lg pd tertidur. Ada yg tdr di kursi, ada yg dilantai papan dg berbagai posisi. Yg aneh yi knp aku tdk tertidur. Ada keanehan apalagi ini ? Kmd aku kembali ke tempatku semula dan betapa terkejutnya saat aku lihat ditempatku duduk tadi sdh diduduki seorang pemuda. Dan..oh.. wajah pemuda itu, pakaianya dan semuanya kok persis pakaianku.Dan juga wajahnya mirip diriku. Keanehan apalagi ini ? Kenapa aku selalu dihadapkan dengan keaneahan?
Lantas siapa dia, siapa pemuda yg mirip diriqu itu ? Ataukah itu jasadqu dan saat ini aqu sdg berupa ruh yg tlh lepas dr tubuhku?
Disaat kebingungan memikirkan keadaanqu tiba2 datanglah seorang pemuda tampan yg prnh qu lihat ketika ketika aqu berada di bwh pohon beringin keramat itu. Dan kalau tdk salah dialah pemuda yg pernah mengecewakan bu Mayang ketika msh gadis remaja. Tp peristiwa itu terjadi kira2 200 th yll dan hrsnya sdh tua renta , ttp ini kok msh muda ? Kulihat pemuda itu melangkah menuju kakek yg lagi semedi dan kmd duduk di depan nya tnp memperdulikan diriku yg lg ter heran2 melihat kedatangan nya. Kmd pemuda tsb mengucapkan salam kpd si kakek yg lg semedi itu.
“Rohmat Alloh melimpah ruah untuk manusia , hanya mns itu sendiri yg menutup limpahan ikan RohmatNYA. Wahai Ki Tulus Sudharmo, aku datang Ki.” Sapa pemuda tampan tsb pada kakek yg ternyata bernama Ki Tulus Sudharmo. Dg posisi mata msh dlm keadaan terpejam kmd kakek itu menjawab :
“Silahkan duduk heh..Joko Pidekso.”
“Terima ksh Ki.” Jwb pemuda itu.
“Tahukah kamu, knp kamu aku undang untuk dtg ke sini ?”
“Tidak tahu, KI. Justru aku ingin tanya kepadamu.”
“Kau kenal dg pemuda yg duduk di situ ? tny kakek sambil tangannya menunjuk ke arah pemuda yg tubuhnya mirip diriku yg kini menempati tempat dudukku tadi, namun pemuda yg duduk itu sepertinya diam saja tdk memperhatikan apa yg sdg terjadi.
Yg di tanya kmd menengok ke arah yg dimaksd kakek tua itu dg tnp perhatikan diriku yg lg berdiri penuh heran.
“Tidak, Ki. Memangnya siapa dia dan mengapa aku hrs mengenalnya ?
“Dia adalah salah satu cucu buyutmu, namanya Sukma” jelas kakek itu.
Mendengar penjelasan kakek itu sang pemuda tsb nampak terkejut bgt tahu bhw pemuda yg ditunjuk kakek yg duduk itu adalah msh pernah cucu buyutnya. Yg menjadikan aku bingung si kakek itu menunjuk pemuda yg ld duduk diam tak bergerak yg mirip diriku itu adalah bernama Sukma. Sdg aku sendiri yg kini lg melihat segala peristiwa itu juga bernama Sukma. Apa ada nama Sukma lagi selain diriku ? Ataukah pemuda yg ditunjuk kakek itu adalah Sukma yg berbentuk jasad, sdgkan aku adlh Sukma yg lg dlm bentuk Ruh ? Dlm berkecamuknya pikiranku itu aku akhirnya mengambil kesimpulan bhw diriku saat ini lg berujud Ruh. Krn aku sdg memikirkan kisah bu mayang yg disakiti pemuda tampan yg ternyata msh kakek buyutku sendiri, mk aku sdh tdk pedulikan keadaanku sendiri saat ini. Aku menolak keras jika memang benar aku msh keturunan pemuda yg bernama Joko Pidekso itu. Krn aku malu mempunya leluhur yg bermental bejad yg tdk bs dipakai panutuan oleh cucu2 nya. Kini tambah lagi mysteri dan keanehan aku alami dg peristiwa barusan. Mungkinkah akan ada lagi keanehan2 lainnya ?
“lantas ada kaitan apa aku engkau datangkan ke sini, Ki ?” tanya Joko Pidekso.
“Perlu kau ketahui hai Joko Pidekso, riak gelombang yg kamu aduk mengalirnya cukup jauh bagai tak bertepi.” Jwn kakek tua itu.
“Aku tdk phm dg arah pembicaraanmu,Ki.”
“Coba jwb pertanyaanku,perbuatan jelek apa yg prnh memuaskan hatimu dan perbuatan baik apa yg pernah menyedihkan hatimu, ketika dirimu msh hidup di dunia ?” tny kakek itu dg makna kalimat yg tak bs aku pahami.
“Aku dulu merasa bangga jk bs menggaet wnt yg dipandang cantik di daerahnya dg menggunakan ketampananku. Stlh dpt aku tundukkan , aku merasa puas jk kmd bs menelantarkannya. Dan aku pernah merasa sedih dan gelisah kalau disuruh bershodaqoh karena takut hartaku berkurang hingga aku mnjd miskin.” Jwb pemuda yg bernama Joko Pidekso itu tnp ada rasa sungkan. Itulah rhs ruh yg tdk bs berbohong (penulis).
“Lalu setinggi apa angkara murkamu dan serendah apa ketika hidup di dunia hai Joko Pidekso?” tanya si kakek lbh lanjut.
“Aku pernah punya angkara murka setinggi hasrat anjing geladag dan pernah punya derajad setinggi derajadnya tikus buduk.”jw Joko Pidekso lagi yg semakin membuatku pusing dg ungkapan2 kalimat yg membingungkan. Bgmn tdk pusing, kakek itu bertanya sll memakai kata2 ketika msh hidup di dunia. Trs sekarang ini hidup dimana ?
“Aku kurang paham pembicaraanmu, Ki?” ganti Joko Pidekso yg bertanya.
“Ketahuilah hai Jok Pidekso, akibat perbuatanmu mempermainkan nasib seorang wnt yg bernama Mayang Sari, anak cicit yg tdk tahu menahu hrs mnjd sasaran balas dendam akibat ulah kakek buyutnya.” Sahut kakek tua itu dg nada tinggi.
Kata2 kakek tua itu membuat diriku terperanjat namun hrs tetap aku kendalikan krn aku ingin mengetahui cerita selanjutnya.
“jangan kau pojokkan diriku dg peristiwa yg sdh lama terjadi dan bhkn dirimu sj blm lahir, aplg stlh kejadian itu aku menyadari kesalahanku dan tlh meminta maaf pd Yang Maha Kuasa, Ki.” Jelas Joko Pidekso yg membuat diriku sedikit lega yg katanya sebagai keturunnya.
“Aku tahu itu, ttp kesalahanmu thd Mayang Sari blm kau tebus. Seharusnya yg kau lakukan adlh meminta maaf kpd Mayang Sari, baru kmd meminta ampunan atas segala kesalahanmu kpd Yang Diatas.” Jelas kakek tua itu.
Mendengar penuturan kakek tsb Joko Pidekso spt ada perasaan menyesal kmd :
“Aku sdh berusaha mencari di mana dia berada untuk meminta maaf atas perbuatan yg aku lakukan kepadanya dan bahkan aku berencana utk menikahinya sbg penebusan dosa yg pernh aku lakukan kpdnya, namun tdk aku temukan keberadaannya.”
Pengakuan leluhurku pd kakek tua itu semakin melunturkan rasa ketidak sukaanku padanya krn tlh menyakiti bu Mayang, berarti Joko Pidekso tlh prnh menyesali perbuatannya atau kesalahan yg tlh diperbuat.
“ya jelas tdk akan kau temukan krn stlh peristiwa itu dia bunuh diri karena tdk kuat menahan terpaan derita yg ber tubi-tubi.” Jelas kakek.
“Maksud Ki Tulus ?” tny Joko Pidekso terkejut.
“Ya, sepeninggal suaminya dia hrs menanggung beban hidup sendiri bersama anak semata wayangnya yg bernama Dewi Kelasih. Sampai akhirnya dia hrs membanting tulang sendiri utk menafkahi anaknya hg dirimu tahu sendiri hg ketemu dirimu lg stlh dulunya kamu sakiti. Semula msh tertanam kebencian terhadapmu tetapi saking pandainya kamu merayu shg dia luluh hatinya dan benih2 cinta yg tlh mati tlh kau tumbuhkan lagi..” diam sejenak Ki Tulus dan sebelum melanjutkan kata2 nya telah di dahului oleh Joko Pidekso.
“ya benar, Ki. Tp sayang aku tlh menghianati cintanya padaku yg tlh tumbuh lagi dan disaat keyaqinannya tlh tumbuh subur. Aku tlh memporak porandakan cintanya. Anak kesayangannya yg bernama Dewi Kelasih tlh aku culik dan aku jual ke saudagar kaya. Wkt itu aku ingin hubunganku dengannya tdk terhambat dg adanya anak dr hasil perkawinannya dg suami pertamanya yg jauh lbh tua itu.” Jelas Joko Pidekso yg sdh cukup menjawab teka teki atas mysteri pertemuanku dg bu Mayang selama ini. Kmd Jko Pidekso melanjutkan ceritanya :
“wkt anaknya aku jual, pd mulanya mayang tdk tahu, krn sandiwaraku yg pura2 ikut sedih atas hilangnya Dewi Kelasih. Dia tdk curiga kpdku, akan ttp krn kebusukan tdk dpt aku tutupi akhirnya ada yg cerita padanya bhw akulah yg tlh menculik anaknya dan aku jual pada saudagar kaya. Org yg memberitahu tsb adalah org suruhanku yg kecewa krn tdk aku beri bagian yg lbh dr hsl penjualan anak tsb. Ditambah dia merasa kasihan dan menyesal tlh ikut terlibat.” Berhenti sejenak cerita Joko Pidekso seperti ada menahan sesuatu penyesalan yg teramat dlm. Kmd :
“aku menyesal…aku menyesal sekali, Ki. Oh…ghk..ghk..ghk…aku menyesal, Kiiiiiii.” Kata2 Joko Pidekso disertai tangis yg suaranya terdengar aneh membuatku merinding.
Suasana kembali hening, diam dan mencekam dan yg ku dengar hanya isak tangis Joko Pidekso. Dengan tetap tenang kakek itu membiarkan org yg ada di depannya itu menangis hg kmd :
Stlh Mayang tahu bhw kaulah dalang penculikan anaknya, apa reaksinya ?” tny kakek itu seperti menginterogasi.
“awalnay setengah tdk percaya atas laporan yg diterima dan dianggap itu fitnah. Sampai kmd baru yaqin stlh ada bukti yg mendukung ditambah lg aku sempat menginggau dengan mengatakan tlh menjual anaknya disaat aku mabuk. Setelah tahu itu kmd dia pergi mencari keberadaan anaknya dg meninggalkan diriku yg msh dlm keadaan mabuk. Setelah aku sadar dia aku kejar dan kucari ke mana2 tp tetap tdk aku temukan.” Tutur Joko Pidekso.
“Joko, tahukah kamu, kemana dia pergi ?”
“Tidak tahu, Ki.”
“Aku beritahu hai ,Joko. Stlh meningkan dirimu sa’at kau sdg mabuk memang dia pergi mencari putrinya sampai kayak org gila, krn putus asa akhirnya dia bunuh diri di tempat dimana Sukma cucu buyutmu itu bertemu Ruhnya. Adapun cara bunuh dirinya dg memotong urat nadinya. Sblm bunuh diri ia bersumpah akan membalas dg menggoda kmd membunuh semua keturunanmu yg laki2 sbg balas dendamnya. Lalu 3 hr kmd mayatnya ditemukan oleh penduduk desa dan dimakamkan di bwh phn beringin dmn Sukma ditemukan oleh penduduk dlm keadaan pingsan. Dan pohon beingin itu diyaqini oleh penduduk di sini sbg cikal bakal penghuni desa yg wkt itu blm ada makam lain yg kmd tempat makam jasad Mayang menjadi tempat pemakaman umum.” Tutur kakek tua itu.
“Terus apa rencana ruhnya Mayang thd keturunanku yg bernama Sukma itu, Ki?”
“Dia ingin membawanya ke alam lain utk dijadikan pendampingnya atau pembantunya tergantung kekuatan bathin si Sukma sendiri.” Jawab kakek tua yg membuat rasa takutku mulai timul mendengar penuturan kakek itu. Ingin aku nimbrung (ikut bergabung) perbincangan mereka berdua ttp tdk mampu aku lakukan.
“Terus bgmn caranya agar keturunanku bs selamat dr gangguan Ruhnya si Mayang itu, Ki?”
“Itu nanti urusanku dan sekarang keperluanku dgmu sdh selesai maka aku ijinkan kau kembali ke asalmu.”
“Terima kasih,Ki. Jk bgt aku mohon pamit.” Selesai berkata dmk, Joko Pidekso kmd pergi meninggalkan kakek itu dg terlebh dhl ucapkan salam yg aku juga tdk tahu maknanya. Entah pergi kemana tempat yg dimksd kakek itu yg skrg ditinggali Joko Pidekso tsb. Entah bgmn kejadiannya yg semula aku merasa berdiri menyaksikan perbincangan kakek dg pemuda tampan itu, tahu2 aku kok seperti bangun dr tidur. Kulihat P. Waskito msh tetap tdr yg menggunakan kursi sbg sandaran. Tiba2 kakek tua itu memanggil diriku untuk diminta duduk dihadapannya, dan :
“Nak Sukma, kemarilah duduk di depanku.”
“ya kek.” Sahutku mengiyakan.
“Tadi kamu mendengar sendiri perbincanganku dg kakek buyutmu itu, dan hasil pembiacaraanku sdh bs kamu dengar sendiri dan kau simpulkan sndr. Dan bhkn sdh menjadi jawaban mysteri2 yg kamu alami selama ini.” Kata kakek itu menegaskan.
“Iya kek, tp sy msh penasaran dg bu Mayang.” Sahutku utk ingin tahu lbh jauh ttg bu Mayang.
“Maksdmu bgmn, nak ?”
‘saya ingin ketemu beliau sekalilg dan mngkn tiap haripun tdk apa2, kek.”jwbku.
“utk apa, nak.?”
“tdk tahu , kek. Yg jela mnrt saya beliau org baikm dan ramah. Kasihan nasibnya yg selalu bergelut dg penderitaan.” Kataku pd kakek tua itu.
“itulah nak, pertanda dirimu tlh terkena pengaruhnya, kau hrs hati”, jangan sampai kau MENJEMPUT MAUT, nak.” Kata kakek itu memberi peringatan.
“Menjemput maut bgmn mksd kakek?”
“ya, drmu msh keturunan Jok Pidekso, mk kau diincar utk dibujuk, shg timbul keinginanmu sendiri utk ikut dgnya, nak.”
“Beliau tdk prnh membujuk sy, kek.” tegasku dg nada jengkel.
“Inilah buktinya bhw kau tlh terkena pengaruhnya dan dia tlh menebar semacam jala sutra atau tabur seribu bunga.. Apa benar tekadmu sdh kuat utk ketemu dg Mayang sari ?”
“Benar, kek. Aku sadar se sadar2nya, bhkn kalau demu bu Mayang aku ikhlas mempertaruhkan nyawaku.” Tegasku utk meyakinkan kakek itu dan memang aku sdh tdk peduli dg drku sendiri,
“Astaghfirulloh,…nak Sukma, mungkn ini sdh menjd suratan takdirmu. Baiklah jk bgt.” Berkata dmk kakek itu lalu bersedakep dg memejamkan mata, dan beberapa saat kmd :
“Berbahagialah mns yg msh punya kesempatan sebab bgt kesempatan itu hilang yg tinggal hanya kesempitan dn penyesalan. Aku datang, Ki.” Suara wanita yg stlh aku lihat tahu2 sdh duduk disebelahku tnpa menghiraukan keadaanku.
“Trmks kau tlh memenuhi panggilanku.” Kata kakek itu menyapa wnt yg baru datang.
“Ada gawe apa sampi Aki memanggilku kemari ?” tanya wnt itu yg ternyata bu Mayang.
“Ya, ini nak Sukma kau apakan shg bersikeras ingin ikut dgmu, Myi ?”
“Aku tdk pernh mempengaruhinya, aplg mengajaknya utk ikut dgku, Ki.” Berkata dmk bu Mayang msh tetap tdk pedulikan diriku yg ada disampingnya. Kmd kakek itu berpaling ke wajahku.
“Sekali lg aku ingin bertanya, apa benar nak Sukma msh tetap ingin ikut nyi Mayang ?”
“Oh..eh..hmmm..eh..iiyyya, Kek !” jwbku tergagap.
“Jawab yg mantap, ingin ikut tidak !” bentak kakek itu membuat diriku kaget.
“Ya ! Ya! Ya!” bentakku juga utk meyakinkan tekadku.
“Nah, Nyi Mayang nak Sukma skrg sdh mnjd urusanmu.” kata kakek.
“Teima kasih, Ki.” Jwb bu Mayang sambil menengok ke diriqu dg wajah cantxnya kmd :
“Nak Sukma, benarkah km ingin ikut ibu ?” pertanyaan bu Mayang membuat jantungqu berdegup..oh ternyata aku tlh jatuh cinta kpdnya. Kmd aku menjawab :
“Iya bu, aku ingin menemani ibu kemanapun ibu pergi.” Tegasku lbh lanjut.
“Kamu akan menderita, nak. Apa kamu sanggup menerima semua itu ?”
“Apapun resikonya saya siap bhkn walau nyawakupun siap aku pertaruhkan demi Ibu.” Tekadku sdh bulat.
“Masya Allah.” Tiba2 ada suara kakek tua itu mengagetkan km bedua, namun aku tdk ambil pusing.
“Trmksh, nak. Kalau bgt skrg ikut ibu dan sesuai janjimu apa yg kau lakukan atas dasar ikhlas.” Kata bu Mayang penuh keteduhan.
“Ya bu, sy sdh siap.” Sahutku yg kmd aku digandeng bu Mayang utk diajak pergi dg terlebh dhl berpamitan kp kakek tua itu yg membuatku senang dan bangga krn digandeng oleh bu Mayang yg hari itu2 benar2 cantik sekali.
Dlm memegang erat tanganku seakan beliau tak mau melepaskan tanganku dr pegangannya. Aku melihat org2 kampung yg sdh pada tersadar berlarian masuk ke dalam tanpa pedulikan kami berdua yg sdg bergandeng tangan layaknya sepasang kekasih.. Kelihatannya seperti ada seseorang yg butuh ditolong. Dlm hatiku bertanya, siapa yg sakit ? Pak Waskito ataukah kakek itu ? Ingin rasanya aku ikut masuk ke dalam guna melihat keadaan akn ttp ditahan oleh Bu Mayang.
‘Tdk usah, nak, Sdh ada yg menangani.” Kata bu Mayang.
“Siapa kira2 yg sakit, bu?” tanyaku kpd wnt cantik itu.
“Itu tdk sakit, nak. Ttp ada yg meninggal dunia.” Jelas bu Mayang.
“Apa ? Meninggal dunia ? Trs siapa yg meninggal dunia, bu ?” tnyku penasaran.
“Perhatikan saja nanti kau juga akan tahu.” Jwb bu Mayang yg blm bs meredam rasa keinginan tahuku. Dlm hati aku bertanya : “’siapa yg wafat ? Di dlm ruangan td hanya ada aku, p. Waskito dan kakek tua itu. Mungkinkah p.Waskito atau kakek itu yg wafat ? Atau… , oh.. oh…gak mungkin, aku sekarang kan sdg bersama bu Mayang. Berarti tinggal mereka berdua. Bearti kakek itu ataukah p. Waskito. Biasanya jika aku sdg bingung begini sdr bathinku dtg membantu. Tp knp sekarang kok ngak datang ? Oh.. masa bodoh.”
Kulihat otg2 pd mengangkat sesosok tubuh. Dan..oh aku melihat p. Waskito ikut mengangkat tubuh itu. Berarti kakek tua itu yg wafat. Tetapi…lhoh, kok ada kakek tua itu kelihatan berjalan sambil membaca Allohu Akbar..Allohu Akbar.. Allohu Akbar. Aku msh bingung, terus siapa yg wafat ?
“kakek, P. Waskito ataukah .. oh .nggak mungkin…terus siapa ya yg wafat ?
Akukah ? Oh… tdk, aku kan sdg bersama bu Mayang. Melihat org2 itu aku berpikir keras untuk menerka nerka siapa yg wafat ? Siapa yg wafat ? Siapakah ?
“Siapa yg wafat tadi, bu ? Aku melihat P. Waskito dan kakek itu ternyata msh hidup.”karena penasaran akhirnya aku tanyakan ke bu Mayang.
“Tolong lepaskan tangan ibu, aku ingin melihat siapa yg wafat itu ? pintaku pd wanita cantik itu yg msh memegang erat tanganku. Tp anehnya aku tdk kuat untuk berontak melepaskan diri dr pegangannya.
“Nak Sukma, sekali lg ibu ingin bertanya, benarkah kamu ingin ikut ibu ?” kata bu Mayang msh menantin diriku.
“Sukma sdh bilang berulang kali mengatakan tetap ingin ikut bu Mayang, pantang bagi saya untuk menjilat ludah sendiri yg sdh keluar, bu. Hrs bgmn lg utk meyakinkan ibu.?”
“Walau kamu hrs mempertaruhkan nyawamu, nak ?” tanya bu Mayang lg.
“Benar, bu. Walau itu hrs mempertaruhkan nyawaku, aku siap menempuhnya.” Jwbku tegas.
“Ketahuilah, nak. Itu yg wafat adalah dirimu.” Tutur bu Mayang yg membuatku kaget setengah mati.
“Oh… apakah ibu sdg bercanda ? Aku kan sdg bersama ibu. Bgmn mungkin aku dibilang wafat ?”
“ kamu sekarang sdg berujud ruh, nak.”
“Hah..aku telah mati ?”
“ya benar, km tlh mati.” Jelas bu Mayang meyakinkanku.
“Tadi kamu tlh bilang bhw kamu rela mempertaruhkan nyawamu dan itu sdh kamu penuhi.” lanjut bu Mayang.
“Aku telah mati…aku telah MENJEMPUT MAUT…aku tlh mati//aku ma….ti.. a…ku..ah..aku mati.aku tlh MENJEMPUT MAUT. Lhoh..org2 tadi pada kemana kok serba gelap ? Lhoh..kok ada sinar ? Lho..cahaya apa itu ? Dimana bu Mayang ?
TAMAT.

Comments

comments

Tinggalkan Balasan