(Kisah Rohani) Pesugihan Ular

Adlh kisah keluarga pak Karto (nama samaran) yg sangat miskin. Hdp dirasa bgt berat bg p. karto yg hrs menanggng 6 org anak dan 1 istri msh ditambah dg hrs merawat ibu kandungny yg sakit2 an. Sbg buruh bangunan dg penghsilan yg tdk sbrp mk ia hrs cari hsl tambahan sekenanya yg penting bisa utk mencukupi kebutuhan keluarganya. Krn kian hr beban hdp yg dipikul semkin berat akhirnya dia mencoba pergi ke rumah seorang dukun.
“apa yg bs sy bantu utk nak Karto?” tny sang dukun.
“saya kepingin kehidupan keluarga bisa berubah lbh baik, mbah. Sy sdh tdk kuat lg menanggung himpitan ekonomi yg kian hari semakin berat. Mohon mbah berikan jalan agar sy sekeluarga terlepas dari kemiskinan hdp.” tutur p. Karto.
Kmd oleh sang dukun ia disarankan utk pergi ke salah satu gua yg ditunjuk. Ia juga dipesan apabila ada seekor ular dengan ukuran besar menemui dirinya agar tdk usah takut.
Stlh mendpt petunjuk tsb kmd pd hari yg ditentukan pergilah ia ke gua yg dimaksud. P. Karto memasuki gua pd wkt stlh maghrib. Di dlm gua yg tampak angker itu mkin tambah seram ketika malam hr. Sbtlnya kalau tdk didasari tekad yg kuat utk mnjd org kaya, dia tdk akan berani memasuki gua tsb. Sdh hmpir 2 jam lbh dia duduk di salah satu batu yg menonjol di dlm gua tsb. Namun sdh selama itu blm ada tanda2 ia ditemui oleh penghuni gua yg katanya berbentuk ular besar dan bisa bicara. Sampai suatu ketika p. Karto mendengar suara mendesis mendebarkan bulu roma.
“sssssssstst..”
hampir saja p. Karto lari keluar gua kalau saja tdk teringat ingin hdp menjadi org kaya sudah ada di depan mata.
Tiba2 dg hilangnya suara desisan tsb munculah suara ngakak dg disertai kemunculan ular raksasa sebesar batang pohon kelapa.
Gua yg begitu gelap tiba2 jd samar2 terang dan tampak jelas ular besar tsb sdg melingkar membentuk semacam tumpukan bulat besar. Hny kepala ular itu yg melongok berdiri tegak seakan siap menerkam mangsa dg lidah menjulur.
Ngewel dan ngoplok kaki p. Karto mlht wujud mahluk tsb. Jika ia lari sdh terlambat. Maka ia pasrah jw raga apapun yg akn trjd biarlah trjd. Toh dia hdp miskin shg tdk merasa kehlangan apapun jika ia mati ditelan ular itu.
“kok kok kok kok hai Karto, ada tujuan apa kamu datang kemari, hah?”
kaget bercampur heran p. Karto melihat ular tsb bisa bicara. Kmd dg nada gemetar ia menjwb :
“sy ingin mnjd org kaya mbah.”
kok..kok..kok..kok..kamu pengin kaya he Karto?” tnya Ular itu yg disertai swara mirip kokok ayam tetapi menyeramkan.
“betul mbah, sy pengin kaya. Sy tdk betah lg jd org miskin.” jwb p. Karto yg sdh mulai berani setelah tahu ular itu tdk galak.
“kok..kok..kok..aku bisa bantu mewujudkan apa yg jadi keinginanmu tp dg syarat. Apa km sanggup penuhi syarat itu, he karto?”
“sy akan penuhi apapun syarat itu yg penting sy men jadi org kaya , mbah?”
“kok kok kok..betulkah apa yg kamu ucapkan? Coba kamu pikirkan lagi krn syarat itu adalah kamu hrs kurbankan salah satu dari anak2 mu?”
terdiam sejenak p. Karto tdk segera mnjwb. Pikirannya berputar utk memilih siapa kira2 anaknya yg akan dijadikan tumbal. Dari satu persatu semua wajah anak2 nya mulai nampak dipelupuk mata. Kmd dia memilìh si mbarep anak pertamanya yg akan ditumbalkan. Ia milì anak pertama itu karena anak tsb lah yg paling sering membangkang.
“he Karta, knp lama berpikirmu? Kalau kamu keberatan sebaiknya tdk usah saja.” teriak ular menyentak lamunan p. karto.
“say..say..saya sdg memilih anak saya utk ditumbalkan, mbah.” jwb P. Karto gemetaran.
“siapa dari ke 6 anakmu yg akan kau tumbalkan, Karta?”
“anak sy yg pertama, mbah.” sahut P. Karta sambil menahan pedih.
“kok kok kok..aku tdk butuh anakmu yg itu. Aku mau anakmu yg ragil, Karta.” kata ular itu dg nada setengah marah yg menyentak bathin p.Karta. Bahkan nada keras dr ular itu yg mengagetkan. Tp krn anak ragil yg dikehendaki oleh ular itulah yg mengagetkan bathinnya. Krn anak ragilnya itulah yg paling ia sayangi dan cintai. Memang p.Karto sangat menyayangi putra ragilnya itu, krn selain wajah dan karakternya persis dirinya, tp juga anak tsb sangat penurut. Kmd terbayang wajah putra ragilnya yg msh berusia 10 th. Apakah ia akan tega menjadikan tumbal anak ragilnya itu ? Disaat dia msh bingung memikirkan nasib putra ragilnya itu tiba2 :
“he Karta, kenapa lama jawabanmu, bagamana, sanggupkah kau kurbankan anak ragilmu?” bentak ular itu.
“tap..tap..tapi saya sangat menyayanginya, mbah?” sahut Karto tergagap.
“aku juga tdk bodoh, Karto. Justru krn dia anak yg kamu sayangi itulah maka yg aku minta. Dan kamu akan aku ganti dg kuberi harta yg melimpah yg juga bakal kamu sayangi. Kamu akn menjadi org kaya yg dihormati org. Dan bakal tdk ada lagi org yg menghina dirimu dan keluargmu. Tentang anak , kamu masih bisa punya lagi dg kehamilan istrimu nantinya.” bujuk ular tsb.
Nampaknya hati p. Karto sdh mulai goyah. Rasa cinta terhadap anak rgilnya mulai memudar. Yg terbayang sekarang betapa enaknya menjadi orang kaya, dihormati, disegani. Dan tdk ada lagi yg bakal menghina keluarganya.
“bgmn karta, akankah kamu ikhlaskan anak ragilmu itu?” tny ular itu agak melunak krn melht perubahan diri p. Karto yg dlm pikirannya sdh diliputi dg harta kekayaan.
“baiklah mbah, jika memang anak ragil saya yg mbah minta, akan sy serahkan.” jwb p. Karto sdh tdk ada kerguan lg dlm hatinya.
“sekali lagi aku tanya, apakah benar2 kamu sdh mengikhlaskn anak ragilmu?”
“ya mbah sy sdh ikhlas.” jwb p. Karto mantap. Krn di dlm benaknya sdh diliputi oleh perasaan nikmat bakal menjadi org kaya dan tdk perlu lagi kerja keras yg menguras tenaga. Itu pun dengan hasil yg tidak seberapa. Tetap saja kekurangan.
“baiklah, kalau begitu sekarang ikut petunjukku.” berkata dmk kmd ular itu menyuruh p. Karta utk melakukan ritual dg dibimbing oleh ular itu. Kalau bahasa hukumnya semacam kontrak kerja atau akte pengakuan tetapi dg cara magic. Seusai menjalani ritual yg dibimbing oleh ular tsb. Tiba terdengar suara lengkingan yg disertai suara spt kokok ayam yg keluar dr mulut ular itu.
“kok… kok… kok… sssst… kok… kok.”
diantara suara yg mirip kokok ayam itu, lamat2 p. Karto mendengas suara jerit tangis anak ragilnya yg teriak2 minta tolong.
Kaget bukan main hati p. Karto bgt mendengar suara jeritan anak ragilnya itu. Dan stlh dia mencari arah sumber suara anaknya trnyata dia melihat anaknya berada dimulut ular raksasa yg terbuka lebar. Dimana p. Karto melihat si anak sedang me lambai2 kan tangan tanda minta tolong ayahnya.
Melihat putra ragilnya berteriak minta tolong dr dlm mulut ular raksasa itu, hati p. Karto sontak teriak : “ya Allah..anakku oh..ampunkan bpkmu yg terkutuk ini.” berkata dmk kmd p. Karto krn naluri kecintaan pd putranya sdh dmk kuat, mk ia berlari menuju ke arah ular yg siap menelan anak ragilnya. Dia sdh tdk pedulikan keselamatan dirinya. Yg ada hny ingin Menyelamatkan anaknya dari terkaman ular raksasa tsb. Sambil berteriak : “Allahu Akbar.. Allohu Akbar.. Allohu Akbar !” dia menerjang ke arah ular itu. P. Karto sdh tdk pikirkan lg harta kekayaan yg bakal diperoleh. Masa bodoh entah akan menjadi apa nantinya. Entah dia juga akan mati diterkam ular raksasa itu bersama dg anaknya, dia ga peduli. Yg ada dlm benaknya adalah naluri seorang ayah yg akan selamatkan nyawa anaknya.
Pembaca yg budiman. Ketika p. karto teriak Allahu Akbar itu, pd saat itu pula terdengar suara melengking melolong seperti tanda kesakitan dari ular tsb.
“kwaaaaaaakkkk !!! Suara lengkingan yg membuat horeg bebatuan yg ada di dlm gua tsb. Bersamaan dg hilangnya suara lengkingan itu mk tiba2 ular tsb hilang tertelan asap dan ada bau terbakar dan gua yg semula tampak terang kini berubah menjadi gelap. Tinggalan p. karto yg berdiri dlm kegelapan. Bau daging terbakar melingkupi gua tsb.
Dengan berjalan ter tatih2 krn kondisi dlm gua gelap gulita, p. Karto mencoba mencari jalan utk keluar dari gua. Di sana sini terdengar suara2 yg aneh2 yg mendirikan bulu roma. Ada suara tawa ngakak, suara tawa ter kekeh2, jeritan yg melolong dan msh bnyk lg suara riuh yg mencekam. Namun bg p. Karto suasana saat itu tdk ia pedulikan. Dia hny ingin cepat segera sampai di rmh utk melihat keadaan anak ragilnya. “ya Allah, selamatkan anak2 dan istriku. Ampunilah hambamu yg telah silap ini. Yaa Alloh. Biarlah hamba ikhlas Engkau cabut nyawa hamba asal keluarga hamba selamat.” rintih p. Karto dlm perjalanan pulang. Memang utk bisa keluar dr gua saat itu meng alami kesulitan. Selain gelap gulita, medannya penuh bebatuan tajam dan semak belukar yg menutup pintu gua.
Ketika sampai diluar gua, wkt sdh menunjukkan jm 3 dini hari. Dg menggenjot spd ontel butut yg ia taruh di bwh pohon yg rindang dan tertutup gerumbulda tanpa menghiraukan rasa letih, haus dn lapar, p. karto mengayuh kencang sepada bututnya agar cepat sampai rumah. Setibanya di rumah waktu telah menunjukkan shubuh krn sdh ada suara adzan yg berkumandang.
Dari kejauhan dia melihat rmhnya tampak terang dan ramai dengan org2.
“oh ya Allah..oh, jangan.., jangan sampai hal itu terjadi oh ya Allah.” gumam p. Karto dg hati penuh cemas.
Hal itu bisa dimaklumi krn keadaan yg ada di rumahnya tentu ada hubungannya dg peristiwa yg baru saja ia alami. Perbuatan p. karto dlm mencari pesugihan itu memang sengaja tdk ia beritahukan kpd istrinya. Itu ia lakukan krn jangan sampai meniimbulkan kepanikan dan kecemasan keluarganya. Kpd istrinya mlm itu ia hny pamit utk jagong di rmh temannya yg punya hajat.
Setiba di rmh p. Karto langsung merebahkan sepedanya bgt sj yg membuat kaget org2 yg ada di dlm rmhnya. Bgt melihat ternyata yg baru datang adlh p. karto, org2 pd menyongsong kedatangannya seakan ingin memberitahu ada yg telah terajadi di rmhnya. Tp p. Karto tdk menghiraukan mereka. P. Karto langsung menuju ke ruangan dlm rmhnya dimana bnyk org2 seperti sdg mengkerubuti org yg sdg sakit. Melihat p. Karto masuk ke ruangan itu, org2 yg menggerombol pd menyingkir memberi kesempatan p. Karto utk lewat.
Di tmpt tdr di dalam ruangan yg dikerumuni org 2 itu p. Karto melihat istrinya sdg memeluk putra ragilnya yg juga memeluk ibunya spt ada perasaan takut yg luar bias. Kmd p. Karto menubruk istri dan ptra ragilnya ikut memeluk putranya.
“anakku..uhu..uhu..uhu.., maafkan ayahmu ya, nak? Uhu..uhu..uhu.” tangis p. Karto pecah seketika yg membuat org2 yg mengerumui di sisitu pd keheranan.
Yach..mereka pd heran knp dtg2 p. Karto meminta maaf kpd anaknya itu. Kesalahan apa yg tlh dilakukannya? Padahal dari penuturan bu Karto, suaminya sedang pergi jagong semalaman da n tdk tahu apa yg terjadi. Lantas kenapa p. Karto meminta maaf? Berbagai pertanyaan bergelut dlm pikiran para tetangga yg berkumpul disitu. Dengan menangis tersedu p. Karto masih memeluk erat putra ragilnya sambil menciumi bak org yg rindu setelah ber tahun2 tdk pernah ketemu.
Pak Karto mash memeluk erat putra ragilnya dengan tangisnya yg memilukan dan disaksikan oleh para tetangga yg berada disitu. Setelah beberpa lama berselang kmd satu demi satu org2 yg berkumpul di situ pada pulang ke rumahnya masing2. Yang tinggal hanya beberapa org tetangga dan 1 org ustadz yg terkenal pintar mengatasi hal2 ghoib.
Setelah dirasa agak tenang kmd p. Ustadz tsb mengajak bicara 4 mata dengan p. Karto.
“sebelumnya saya minta maaf, tolong bapak menjawab jujur. Kemana perginya bapak semalam?” tny p. Ustadz dg penuh wibawa.
“sebelum menjawab, tolong bpk beritahukan ada apa dengan klg saya khususnya dengan ragil saya, pak Ustadz?” sahut p. Karta balik bertanya.
“Saya rasa bapak bisa menjawab sendri pertanyaan bapak. Kenapa. Karto sdh tahu.” tangkis p. Ustadz.
Dipojokkan dmk oleh p. ustadz tsb p. karto kaget dan gelagapan. Dlm pikirannya berkata:
“hrskah aku jujur dg org yg terkenal pintar dlm hal ghoib ini? Aku malu jika berterus terang, tetapi kalau tdk jujur beliau pasti tdk mau membantu kesulitanku?” saat bergelut sendri dg bathinnya kmd :
“katakan dg jujur pak, percyalah rahasa ini cukup bpk, saya dan Alloh saja yg tahu.” desak p. ustadz yg membuat p. Karta merasa lega.
“ba..ba..baiklah pak.” jwb p. Karto gagap yg kmd menceritakan kisah nya yg diawali dengan kehidupannya yg sulit, kmd pergi ke dukun hingg akhirnya sampai pergi ke gua utk meminta kekayaan pada penunggu gua yg berbentuk ular itu. Tdk ada yg kelewatan sedikitpun cerita yang menyangkut peristiwa yg dialami.
“masya Allah.” Gumam ustady tsb begitu selesai mendengar penuturan pak Karta yg kmd geleng2 kan kepala sambil berdecak penuh heran.
Setelah mendengar penuturan p. Karta yg membuat hati sang ustadz tsb heran, kmd p. Ustadz menepuk nepuk pundak p. Karta sambil berkata:
“bersyukurlah bapak tdk jadi meneruskan niatnya. Dan bersyukur pula Allah Ta’ala masih berkenan menyelematkan nyawa ragil bpk. Seandainya bapak tidak ada rasa cinta kepada putra bpk dan lebih cinta pd harta, sy tdk bs menolong jiwa anak bpk. Dan mungkin bapak akan menjadi oragn kaya yang dihormati. Tapi ingat..di kelak kemudian hari nyawa bapak akan tdk diterima oleh Allah Ta’ala. Karena ruh bapak akan melekat dialam dunia sampai yaumil akhir karena kecintaan bapak kpd dunia melebihi kecintaan kpd Allah Ta’ala. Bpk akan mnjd pengikutnya syetan.” berhenti sejenak kata2 p. Ustadz tsb sambil menghela napas panjang.
Kmd ustadz tsb menceritakan kejadian samalam yg ada di rmh p. Karta yg kebetulan mlm jum’at kliwon. Oleh p. Ustadz diterangkaon bhw semalam pas tengah mlm kira2 jm 12 p. Ustadz di kagetkan oleh suara riuh oleh org2 kampung. Wkt itu p. Ustadz selesai sholat tahajjud. Kmd rmh p. Ustadz di ketuk2 keras oleh warga. Setelah ditanya kenapa malam2 mengagetkan dirinya, katanya di rumah p. Karto entah darimana datangnya tiba2 ada ular sebesar batang pohon kelapa melilit tubuh putra ragil p. Karta. Mendapat laporan itu, kmd p. Ustadz bergegas menuju rumah p. Karta. Setelah ia menyaksikan sendiri dengan apa yg dilhtnya maka p. Ustadz membca doa utk membuka mata bathinya. Dari situ tahulah bhw ular tsb bukan ular sembarangan melainkan ular jilmaan jin. Kmd dg kemampuan ilmunya p. Ustadz membaca doa2 dg maksud mengusir ular jilmaan tsb. Memang ular tsb akhirnya hilang entah pergi kemana, tetapi putra ragil bpk tdk sadarkan diri atau mati suri.
Sebenarny ketika p. Ustadz menceritakan kejadian di rmh p. Karto, smuanya bisa dipahami oleh p. karto. Krn memang jam sekitar itu ia melihat putra ragilnya berada di mulut ular itu. Namun p. Karto hny meng angguk2 saja merespon penuturan p. Ustadz.
“dari penuturan p. Karto ketika di gua, skrg sy paham. Bhw ketika putra bpk sdg mati suri sebetulnya ruhnya sdh dibawa oleh mahluk gua tsb. Wkt itu sy cuma bacakan surah yassin utk putra bpk. Dan alhmdl putra bpk akhirnya sadarkan diri. Dan itu semua terjadi krn akhirnya p. Karto lebih memilih putranya daripada harta.” tutur p. Ustadz.
“sekarang untuk selanjutnya apa yg hrs saya lakukan demi keselamatan sy sekeluarga, p. Ustadz?” tny p. Karto dg hati was2.
“itu nanti urusan sy, pak. Yang penting p. Karta mengikuti arahan sy dan bisa menerima dengan ikhlas keadaan ekonomi bpk yg diberikan oleh Allah Ta’ala.” jelas p. Ustadz.
“insya Allah, pak. Dan sekarang sdh terbuka mata hati sy yg selama ini tlh tertutup rasa kufur krn tdk mensyukuri apa yg Allah berikan kpd sy sekeluarga, pak.” kata p. Karta yg menyesali perbuatannya.
“syukurlah pak., semoga Allah Ta’ala mengampuni dosa yg pernh bapak lakukan. Dan lagi umumnya org tua bekerja kumpulkan harta utk anak lha kok p. Karta cari harta dengan menumbalkan anak.” nasihat p. Ustadz penuh makna.
Demikian perbincangan p. Ustadz dan p. Karto yg kini telah menyadari kekeliruannya. Dan pada hari2 selanjutnya p. Karto lebih rajin beribadah dan selalu mensyukuri setiap rizqi yg didapat sebagai buruh bangunan. Walau bagi pandangan org p. Karta dianggap miskin., namun bagi p. Karta sklg merasa diri mereka kaya. Karena yg dimaksud kaya bagi Allah bukan bertumpuknya harta akan tetapi bertumpuknya iman dengan diperkuat oleh rasa ikhlas dan bersyukur atas apapun yg diberikan oleh Allah Ta’ala.
T A M A T

Comments

comments

Tinggalkan Balasan