(Tausiyah) Ruh Kita

Bismillahirrohmanirrohimm

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Pada  tausiyah kali ini, akan disampaikan tentang  “ruh” kita. Kita perlu  tahun bahwa ruh kita ini ini punya sifat abadi yang artinya tidak bisa mati. Dan yang bisa mati itu adalah jasad kita. Waktu manusia itu mati, artinya ruhnya lepas dari jasmani. Dan ruh tadi melanjutkan perjalannya ke alam selanjutnya. Kalau di dunia namanya alam dunia. Oleh karena ruh kita ini abadi maka dia akan kembali ke alam abadi pula yi alam akhirat. Makanya tidak ada orang yang betah lama2 di bumi ini. Karena  bumi  atau alam dunia ini mempunyai sifat yang fana atai tdk kekal. Sehingga dunia oleh sang ruh tadi hanya dijadikan singgahan sementara. Lha, selama singgah di dunia itu, ruh butuh kendaraan yang namanya “jasmani”. Jadi jasmani itu adalah kendaraannya ruh yg dinaiki dari pintu lahir menuju kepintu kematian. Setelah sampai di pintu kematian kmd ruh melanjutkan lagi ke alam sana (alam lanjutan) Jadi dunia ini bukan tempat tinggalnya ruh. Dunia ini tempat tinggalnya  kehidupan yang berjasad. Kalau ada orang yg bilang ketemu ruh nya si A, ruhnya si B, itu tdk benar. Yg benar dunia ini tempatnya kehidupan jasad. Jasad itu hidup karena ada ruhnya. Dan jasad itu ada yang bermateri (tampak) yi jasadnya mahluk2 kasar. Sedang jasad yang tidk tampak itu adalah jasadnya  golongan jin. Jadi jin juga bisa mati. Karena jin juga punya jasad dan punya ruh. Kalau ada orang bilang telah ketemu ruh atau arwah (jmlh ruh yang lbh dari satu), itu sebetulnya ya ketemu golongan jin atau mahluk jalus. Jin umurnya panjang, bisa sampai puluhan ribu tahun. Kalau manusia umurnya pendek, terlebih umatnya nabi Muhammad SAW. Rata2 ya 60 – 70 tahun.

Sekarang kembali kepada ruh kita yang mempunya sifat abadi dan harus kembali ke tempat yang abadi yaitu alam akhirat. Selama di dunia ini ruh kita diibaratkan ounya tugas bertani atau berkebun.

Dan panennya nanti ketika kita ada di alam akhirat. Kalau waktu di dunia bibit tanaman yang kita tanam berkwalitas dan bagus di akhirat nanti akan memetik kebagusan. Sebaliknya, kalau ketika di dunia ini bibit yang kita tanam adalah bibit yang jelek, maka ketika panen nanti ya akan mendapatkan hasil yang jelek pula. Jangan salah paham, yang dimaksud bibit yang bagus itu bukan berarti seorang professor kemudian anaknya juga seorang doktor kemd punya jabatan, punya kekayaaan dsb kmd dikatakan menjadi manusia yang berkwalitas. Kalau ukuran ruh kwalitasnya hidup itu untuk masa depannya ruh yaitu ketika di akhirat. Kalau masa depannya jasad itu ya dunia. Karena pangkat, drajat, harta dsb itu tdk akan dibawa oleh sang ruh. Orang mati itu membawa kain mori sepotong sj tdk mampu, apalagi membawa mobilnya. Oleh sebab itu orang yang mau mengunakan akal bathin (bukan akal pikir), kalau akal pikir itu untuk memanage dunia. Tetapi kalau akal bathin itu untuk memanage akhiratnya. Kalau orang berkeyainan terhadap Tuhan itu menggunakan akal pikir maka menghadapi  kesulitan. Maka orang yang beriman terhadap Tuhannya  mustinya menggunakan akal batin (Nur Aqli). Dan perlu dipahami bhw tak mungkin org akan mengenal atau mengetahui Tuhannya apbl dg jati dirinya sj tdk tahu. Kalau manusia itu sdh tahu jadi dirinya maka dia akan paham dg kalimat yg bunyinya dmk : MAN AROFA NAFSAH FAQOD AROFA ROBAH yg mksdnya bhw tdk mungkin manusia itu dapat mengenal/ tahu Tuhannya apbl dg jati dirinya sj tdk tahu. Sebagai contoh org yg tekun  ibadah dhohirnya spt sholat, puasa , zakat dan bahkan sdh haji. Akan tetapi di dalam hatinya msh ada sifat rakus, thomak, iri dengki, setiap kalimat yg diucapkan selalu menusuk perasaan org lain, itu sj dia tdk tahu kok berherap mengenal atau tahu Tuhannya. Kalau ingin tahu tentang Tuhannya ya seharusnya tahu akan jati dirinya sendiri. Apakah aku ini msh pny sifat dengki, iri, sombong dll. Kalau sdh tahu tentu dia akan berusaha mensucikan dirinya, barulah ketemu SUBHANALLOH (Maha Sucinya Alloh).

Bersambung.

Comments

comments

Tinggalkan Balasan