(Serba – Serbi) Tamu Agung

IKLANMatahari bersinar cerah menghangatkan lahan perkebunan milik  Pak Rohani yang luasnya tidak seberapa. Namun demikian setiap jengkal tanah yang ada diperkebunan hampir dikatakan tidak ada yang tersia. seperti y`ang terjadi saat ini, cerahnya sang mentari dimanfaatkan  olehnya untuk menanam yang sekiranya bisa dibutuhkan ketika musim paceklik nanti. dengan sabar dan telaten ia cabuti rumput2 yang tidak bermanfaat, dan ia tebasi semak belukar yang mengganggu tanamannya. Hatinya senang dan bibir berdendang mengalunkan lagu rembulan dipadang gersang dengan diiringi ilalang yang bergoyang karena ditiup angin ngarai, seolah panggung  kehidupan sedang berdendang. Sikap pak Rohani yang lain dari biasanya itu tidak luput dari perhatian pak Jasmani sahabat dekat pak Ruhani.

Memang persahabatan antara pak Rohani dan pak Jasmani dapat dibilang erat. Saking eratanya mereka berdua  telah berikrar mengangkat sebagai saudara kandung satu sama lain, dengan posisi pak Jasmani sebagai posisi yang lebih tua. Dan itu sudah berlangsung puluhan tahun yang lalu. Kemudian pak Jasmani mengenang bagaimana awal mula ketika mereka bertemu. Ketika itu  di kampung ARHAMUL UMAHAT, pak jasmani hidup sendiri tanpa teman, tanpa saudara. Karena sendirian itulah dia hampir saja putus asa dan berusaha mengakhiri hidupnya. Namun niat itu ia urungkan karena masih berharap barangkali ada teman yang mau diajak hidup bersama bahu membahu menghadapi tantangan dunia. Setelah ia sabar2kan menunggu datangnya  teman, kira-kira selama 120 hari atau 4 bulan, kemudian datanglah adik angkatanya yaitu pak Rohani. Dia masih ingat betul awal mula pertemuannya dengan adik angkatanya itu. Waktu itu  pak Jasmani sedang duduk santai di bawah pohon ENING. Lagi asyiknya menikmati kedamaian hatinya tiba-tiba ada suara org yang menyapa dirinya :

“maaf mengganggu, kalau boleh bertanya apa nama daerah ini, mas?” tanya pak Ruhani yang membuat kaget pak Jasmani yang lagi santai. dengan agak bengong kemudian pak Jasmani menjawab :

“di sini namanya kampung ARHAMUL UMAHAT. Anda siapa dan dari mana?” jawab pak Jasmani yang kemudian ganti bertanya.

“Perkenalkanlah nama saya Ruhani, berasal dari ALAM MULA.” jawab pak Ruhani sambil menyodorkan tangannya untuk bersalaman yang disambut ramah oleh pak Jasmani.

“Nama saya Jasmani dan saya tinggal di desa Arhamul Umahat ini sudah 4 bulan. Oh.. ya, adik ini , maaf aku panggil adik karena kelihatannya lebih tua saya, mau kemana?” kata pak Jasmani menuturkan jati dirinya yang kemudian menanyakan tujuan pak Ruhani. “Tidak apa2 mas, saya juga harus memanggil mas. Saya berencana pergi ke desa PANGURIPAN tapi tidak tahu arahnya, dan secara tidak sengaja ketemu mas di Arhamul Umahat sini.” jawab pak Ruhani.

“Wah.. ya kebetulan sekali dik, saya juga mau ke desa Panguripan, kalau begitu nanti kita bisa berangkat bersama.” sahut pak Jasmani.

“Bagaimana kalau kita berangkat sekarang, mas?” ajak pak Ruhani tidak sabar.

“Tidak bisa sekarang, dik.” kata pak Ruhani menolak.

“Kenapa tidak bisa, mas?” tanya pak Ruhani penasaran.

“Karena selain diriku belum siap dengan kondisi tubuhku yang masih lemah begini, juga pintu gerbang desa Panguripan belum buka, dan bukanya kira-kira masih 5 bulanan lagi, dik.” jelas pak Jasmani.

“Ya sudahlah mas, kalau begitu kita bisa sama-sama isitirahat di desa Arhamul Umahat sini dulu, sebab saya juga tidak bisa ke desa Panguripan tanpa bantuan mas Jasmani.” kata pak Ruhani menguatkan tekadnya.

Akhirnya kedua orang itu cepat menjadi akrab walaupun masih canggung. Setelah 5 bulan kemudian sejak pertemuan mereka berdua, akhirnya pintu gerbang desa Panguripan saatanya dibuka, maka mereka berdua segera bergegas menuju ke desa Panguripan, dan ketika pertama kali  mereka berdua  menjejakkan kaki di desa Panguripan itu, mereka masih merasa asing. Hal itu dapat dimaklumi mengingat baru pertama kali menginjakkan kakinya di desa Panguripan, aplagi belum paham dengan suasana yang ada di desa tersebut yang penuh hiruk pikuk, penuh dengan gemerlapnya kemewahan. Untuk sementara pasangan kakak beradik butuh bimbingan orang-orang yang telah lama tinggal di desa Panguripan yang sudah barang tentu banyak dengan pengalaman. Dan sungguh beruntung nasib mereka berdua karena ketika pertama kali tiba di desa Panguripan itu, mereka berdua disambut oleh seorang wanita muda yang berwajah keibuan. Bahkan tidak hanya itu saja mereka juga dipersilahkan tinggal di rumah wanit tersebut. Benar-benar kebaikan wanita muda yang berwajah keibuan itu selain ramah dan penuh welas asih, mereka dilayani segala keperluannya tanpa pamrih. bagaimana tidak, belum kenal dengan keduanya sudah diterima dengan tulus, kemudian dipersilahkan istirahat dan disuguhi minuman susu murni. Sungguh beruntung nasib mereka berdua. Sampai disitu lamunan pak Jasmani tersentak oleh suara teguran dari adiknya :

“hey mas, sedang ngapain kok diam seperti ada yang dipikirkan?” sapa pak Rohani. “Inna lillahi wa inna Ilaihi roji’uun, kamu ini lho dik , kok bikin masmu yang sudah tua ini kaget, nanti kalau terkena serangan jantung terus tewas kamu akan menyesal.” kata pak Jasmani dengan wajah pucat karena kaget.

“ha,, ha.. ha…, kangmasku yang kupundi pundi, tidak mungkin kau akan mati selama adikmu ini ada disampingmu. tentang umur, saya rasa ya sama2 tuanya tahuno mas.” hibur pak Ruhani pada kakak angkatanya itu.

“benar juga apa yang kau katakan dik, tapi kenyataannya tubuhku tambah layu, rambut beruban dan kulitku kisut. Sedangkan kau , saya lihat masih tampak seperti dulu ketika mula pertama kali kita bertemu. hanya bedanya kini kau tambah matang, tambah dewasa dalam berpikir. Entah punya ilmu apa kau ini, dik?” keluh pak Jasmani.

“Ilmu apa tahuno mas, saya hanya menggunakan ilmu pasrah sama yang di atas saja.” jawab pak Ruhani.

Memang ada perbedaan yang menyolok antara satu dengan yang lain, kalau tubuh pak Jasmani tampak lapuk dimakan umur, sedangankan pak Ruhani seperti tidak pernah tua. itu memang diakui oleh pak Ruhani sendiri. Maka  dia tidak heran kalau kakak angkatanya mengangap dia punya ilmu awet muda. dalam hati dia merasa kasihan dan sayang kepada pak Jasmani. Ingin dia berbuat sesuatu untuk kakaknya dan memang itu pernah ia lakukan ketika masih sama-sama muda. Kemudia ingatan pak Ruhani melayang jauh ke masa silam. Masa-masa dimana dimulai sejak awal mula diterima dalam penghidupan wanita yang berwajah keibuan yang akhirnya mereka berdua diakui sebagai anaknya. Dia masih ingat, setiap idhul fitahunri, setiap ada peringata hari lahir dan perayaan-perayaan lain, wanita berwajah keibuan itu lebih memperhatikan kakaknya daripada dirinya.

“Lho dik, sekarang kok gantian dirimu yang melamun tho?” tegur pak Jasmani yang melihat adiknya bengong persis dirinya tadi.

“oh… oh.. oh.. apa mas ?” tanya pak Ruhani gagap karena kaget.

“Kamu itu bilang saya, kok malah juga melamun sendiri.” sindir pak Jasmani.

“Saya tidak melamun kok, mas.” elak pak Ruhani.

“Lha itu tadi apa namanya?” desak pak Jasmani.

“Saya mengenang masa lalu kita yang indah, mas.” aku pak Ruhani.

“Masa lalu kita yang mana tho dik?” tanya pak Jasmani penuh welas asih.

Memang di hari-hari tua ini, pak Jasmani sering menyesali perbuatannya yang sejak bertemu kemudian dipelihara oleh wanita berwajah  keibuan itu sampai dengan usia hampir berkepala enam, pak Jasmani sering melukai hati adiknya. Dia sering memfitnah dan mencari muka dihadapan wanita yang memelihara dirinya itu. Sehingga tidak heran wanita tersebut lebih memperhatikan dirinya daripada  pak Ruhani yang sebagai adiknya. Dlm segala hal dia ingin selalu didahulukan dan dipenuhi keinginannya tanpa memikirkan adiknya itu. Dan tidak pernah walau hanya sekalipun adiknya itu protes atas perlakuannya. Pernah pada suatu ketika adiknya itu minta diantar  ke guru ngaji untuk belajar keagamaan, namun ia tolak dan malah diajak ke tempat maksiat dan sang adik terpaksa manut-manut saja dijerumuskan kakaknya. Karena memang sifat si adik yang penurut dan selalu mengalah itu. Dan itu berlangsung lama namun tidak juga membuat pak Jasmani sadar. Dia lupa ketika awal mula bertemu di kampung arhamul umahat dimana tempat mereka berdua bersumpah menjadi saudara angkat dan saling bahu membahu menapaki hidup susah sama ditanggung dan senang sama dirasa. Andaikata saja tidak ada peristiwa itu yakni ketika pak Jasmani mengalami kelumpuhan tubuh akibat kecelakaan dan sang adik selalu setia mendampinginya serta berdo’a setiap saat demi kesembuhan dirinya dan Alhamdulillah do’anya diijabahi oleh Allah Ta’ala shg sakit lumpuh pak Jasmani sembuh total. Sejak saat itulah pak Jasmani sadar dan berjanji akan membahagiakan adiknya, akan mendahulukan kepentingan sang adik yang selama ini ia zalimi. Maka sebagaimn kita saksikan saat ini, sikap pak Jasmani penuh kasih pada adiknya. Kembali kepada pak Jasmani yang sdengan meggoda adiknya :

“Lha iya dik, kamu punya kakak seperti diriku ini apa tidak menyesal?” tanya pak Jasmani.

“Kenapa musti menyesal, mas?” sahut pak Ruhani balik bertanya.

“Ber tahun2 kamu aku sakiti, aku zalimi, aku hasut, dan perbuatan2 burukku yang lain kepada dirimu, namun sedikitpun kamu tidak pernah dendam kepadaku, hingga aku sakit lumpuh kala itu kalau engkau mau bisa saja aku kau tinggalkan, namun itu tidak kau lakukan, ya kan?” ungkapan hati pak Jasmani penuh kejujuran.

“Aku hanya ingin menepati janji kita itu saja mas, lain tidak. Dan mas tidak usah merasa berhutang budi pada adikmu ini.” Jelas pak Ruhani.

“Ketulusanmu itulah yang melebur hatiku yang membatu, yang merobek tebalnya keangkuhanku dan yang menggergaji alotanya jalan pikirku dan.. dan… mudah2an yang menjadikan rontoknya dosa2ku.” tutur pak Jasmani penuh puitis.

“Amin mas. Oh iya, bagaimana dengan kebun mas, apa rencana jadi diganti tanamannya?”  tanya pak Ruhani mengalihkan persoalan.

“Saya serahkan sepenuhnya kepadamu saja, dik. Terserah mau kau tanami apa. Aku mau melepaskan segala urusan keduniawiaan.” pasrah pak Jasmani.

“Jika begitu, nanti tanaman KHOBITSAH yang ada dikebun mas saya babati semua dan akan saya ganti dengan jenis tanaman THOYYIBAH kira-kira setuju nggak, mas?” usul pak Ruhani.

“Terserah kamu saja dik, kalau menurutmu itu baik, ya kerjakanlah.” jawab pak Jasmani pasrah.

“Terima kasih mas, tapi untuk sementara aku belum bisa menangani perkebunanmu lho.” kata pak Ruhani.

“Ya tidak apa2 dik, tapi kenapa begitu?” tanya pak Jasmani heran.

“Saya ingin menebasi dulu pohon khobitsah yang masih ada dikebun milik mas Jas, setelah bersih nanti baru akan saya tanami pohon Sakho dan tanaman jenis hoyyibah mas.” Jelas pak Ruhani.

“Ya terserah apa rencanamu, masmu ini sudah tua, sekarang segala urusan perkebunan/penanaman pohon atau tanaman apapun terserah  kamu, dik.” tegas pak Jasmani.

“Terima kasih mas, oh ya, apa mas sudah dengar kala sebentar lagi di daerah ini akan ada tamu penting?” kata pak Ruhani bersemangat.

“Siapa ya, dik?” tanya pak Jasmani penasaran.

“Pak Romadhon.” jawab pak Ruhani singkat.

“Romadhon?” sahut pak Jasmani agak kaget.

Hal ini tidak mengherankan karena selama ini pak Jasmani memang tidak suka dengan kehadliran pak Romadhon, yang setiap setahun sekali datang berkunjung ke daerahnya. Bagi pak Jasmani setiap kedatangan pak Romadhon di daerahnya pasti menimbulkan masalah yaitu setiap malam suasana jadi ramai dan pagi harinya banyak orang yang pada malas bekerja, serta setiap datang ke daerahnya, pak Romadhon pasti menetap kurang lebih 1 bulan, dan kedatangan pak Romadhon bagi pak Jasmani dirasa cukup membatasi kiprahnya. Orang2 pasti dibujuk agar jangan makan dan minum disiang hari dan kalau malam disuruh kumpul di masjid serta masih banyak lagi arahan2 pak Romadhon yang hampir semuanya ditentang oleh pak Jasmani. Berbeda dengan pak Ruhani, dia sangat senang dengan pak Romadhon. Setiap pak Romadhon datang berkunjung ke desanya, ingin rasanya menemui beliau, akan tetapi niatanya tidak pernah kesampaian karena dicegah oleh pak Jasmani kakak angkatanya itu. Maka ketika diberitahu kalau beberapa hari mendatang akan ada kunjungan dari pak Romadhon, kakaknya tampak kaget. Namun saat ini perangai kakaknya itu telah melunak, oleh sebab itu dia sudah tidak segan lagi membicarakan perihal kedatangan pak Romadhon.

“Tapi mas Jasmani keberatan tidak, apabila nanti saya ajak menemui pak Romadhon?” tanya pak Ruhani menjajaki jalan pikiran kakaknya.

“Ehm.. bagaimana ya? Sebenarnya kakakmu ini malu untuk bertemu dengannya mengingat selama ini aku telah membencinya, terus nanti aku harus bagaimana bila bertemu dengannya.” keluh pak Jasmani.

“Nanti mas Jas ngikut saja apa yang aku lakukan, dan disana nanti juga ada bapak2 lainnya yang mengurusi dan menyambut pak Romadhon, pokoknya mas cukup ngikut saja.” jelas pak Ruhani antusias karena kakaknya sudah mulai mencair hatinya.

“Siapa saja bapak2 yang menyambut pak Romadhon nanti?” tanya pak Jasmani masih sungkan.

“Banyak mas. Diantaranya yaitu pak Ikhlas sebagai ketua panitia penyambutan, dan anggauta panitia yaitu pak Syukur, pak Tobat, pak Tawaduk, pak Iman, pak Dermawan dan masih banyak lagi.” jawab pak Ruhani bersemangat.

“Lha kamu nanti sebagai apa dik , dalam penyambutan pak Romadhon?” tanya pak Jasmani polos.

“Kebetulan oleh P. Iman sebagai panitia penyambutan dia menjabat sebagai panitia penyambutan dia menjabat sebagai  Penasihat penyambutan, saya ditunjuk sebagai pelaksana harian selama kedatangan P. Romadhon.” Jawab P. Ruhani.

“Oh begitu. Trs kakakmu ini kamu libatkan dlm penyambutan itu berperan sebagai apa?”  Tanya P. Jasmani bengong.

“Nanti cukup mengikuti arahan2 saya ya. Selain itu nanti mas dibantu oleh P. Sabar, P. Trimo, P. Megeng dll. Pokoknya saya yakin mas bisa,” tutur P. Ruhani meyakinkan.

”Lha iya dik, situ bilang kalau saya bs – saya bs, trs yang saya kerjakan itu apa?” tanya P. Jasmani penasaran.

“Nanti selama P. Romadhon berada di desa kita, kalau siang mas Jasmani membantu saya mengerjakan arahan dan petunjuk program kerja P. Romadhon.” jelas P. Ruhani.

“Ya sudah dik, saya manut apa yang menjadi langkahmu, terlepas ada dan tidaknya P. Romadhon.” Tegas P. Jasmani.

”Alhamdulillah mas, niat mas akan mempermudah langkah saya.” sahut P. Ruhani puas.

“Saya lihat dirimu akhir2 ini kelihatan juga sibuk, memangnya ada kegiatan ap?” tanya P. Jasmani lebih lanjut.

“Oh itu, 1 bln yll saya ada tamu, namanya P. Rojab” jawab P. Ruhani.

“Siapa lagi itu P. Rojab, dik?” tanya P. Jasmani penasaran.

“P. Rojab itu msh pernah adik dr P. Romadhon. Dia datang ke desa kita ini sekama 1 bulan juga, dan bertugas membantu P. Romadhon mendidik masayaarakat ds kita khusus yang mau, utk menjadi mns yang taqwalloh.” Jelas P. Ruhani.

”Oh… orgnya yang kemarin jalan bareng sama situ itu tho?” sahut P. Jasmani sudah paham.

” Bukan, klu yang kemarin itu P. Sayaa’ban. P. Rojabnya sudah pulang, mas.” jelas P. Ruhani.

”Lho siapa lagi P. Sayaa’ban itu dik?” tanya P. Jasmani penasaran lagi.

“P. Sayaa’ban itu juga adik P. Romadhon. Dia datang ke desa kita menggantikan tugas P. Rojab.” jawab P. Ruhani bersemangat.

“Berarti P. Rojabnya pulang kemudian digantikan P. Sayaa’ban apa betul begitu?” desak P. Jasmani.

“Benar mas, bahkan nanti malam ada acara tamu bareng dengan P. Sayaa’ban dlm rangka berdo’a bersama memohon kp Allah Swt agar kita diberi panjang umur utk beribadah.” kata P. Ruhani dengan harapan sang kakak mau mengikuti dirinya.

Mendapat penjelasan dr adiknya, P. Jasmani agak ragu utk memutuskan apakah akan ikut acara pengajian apa tk. Kalau mau ikut trs apa yang hrs dilakukan, kalau tidak ikut akan mengecewakan hati adiknya. Keraguan kakaknya dpt dibaca oleh adiknya, maka kemudian :

“Nanti mas Jas tinggal ngikuti saja. Utk komunikasi dengan para jama’ah biar saya saja.” kata P. Ruhani menenangkan hati kakaknya.

“Baiklah kalau begitu terserah kamu saja dik.” janji P. Jasmani yang membuat lega P. Ruhani. Malam harinya P. Jasmani jadi menepati janji.

Sudah selepas Isayaa’ sudah memakai baju koko, sarung gloyor dan pecis baru. Di depan kaca ia melihat bayangan dirinya yang kelihatan perubahannya sambil sesekali membetulkan posisi pecisnya.

“Alhamdulillah kangmasku memang pantas jadi kyai.” suara P. Ruhani yang tiba2 mengagetkan P. Jasmani.

”Ah.. kamu itu lho sukanya memuji yang tidak pantas aku sandang tho dik.” bantah P. Jasmani.

“Tidak pantas bgmn? Org yang aku sampaikan itu benar kok, mas.” sanjung P. Ruhani tnp basa-basi.

Karena P. Jasmani kini sudah siap menuju sifat mengalah, maka tidak meu berdebat lama2 dengan adiknya. Akhirnya mlm itu P. Jasmani mengikuti pengajian yang diadakan desa dlm rangka menghormati kedatangan P. Sayaa’ban.

“Assalamu’alaikum wr. wb.” kalimat yang diucapkan oleh seseorang yang berwibawa dengan wajah seolah mencorong, kemudian ucapan jawaban salam tsb gemuruh oleh yang hadlir disitu. “Itu siapa dik?” tanya P. Jasmani pd adiknya.

“Itu namanya P. Iman, beliau adlh org yg memimpin dan menyelenggarakan pengakian ini. Dan yg duduk di atas ituluah, mas, org yg kita sambut namanya P. Sya’ban.” Jelas P. Rohani kpd kakaknya. “O.. itu tho priyayinya, kalau melihat orgnya kelihatannya biasa2 sj gitu kok.” Kata P. Jasmani meremehkan. “Ya wajar kalau mas Jasmani berfikir demikian, krn selama ini mas tdk pernah menyambut beliau. Tp nanti kalau mas Jas sdh mengenal beliau, pasti mas Jas akan merasakan manfaat darinya.” Kata P. Rohani yg disimak serius oleh P. Jasmani. “Dan yg duduk dibangku deretan depan itu siapa sj, dik ?” tny P. Jasmani ingin tahu lebih jauh. “Nah, itu yg sy ceritakan. Dari kanan ke kiri, itu namanya P. Syukur terus P. Shobar, kmd P. Trimo, P. Dermawan, P. Tawadlu’ dan bpk2 lain yg membantu kepanitiaan ini.” Tutur P. Rohani. “Lha itu kok ada perempuan cantik, itu siapa dik ?” tny P. Jasmani lebih lanjut dg diiringi rasa kagum. “Oooh yg itu, kalau itu namanya ibu Istiqomah. Beliau juga punya peran penting dlm acara ini. Sekarang mas diam dulu dan pertanyaannya dilanjut nanti sj.” Kata P. Rohani yg kmd mengajak kakaknya untuk menyimak ceramah yg disampaikan P. Imam.

“Ma’asyirol muslimin wal muslimat rohimakhumulloh. Seperti biasanya  bhw malam ini  kita tlh kedatangan tamu yg sudh kita kenal yi P. Sya’ban yg barusan tadi kita  telah berdo’a be sama2 dg beliau utk memohon kpd Alloh Ta’ala agar supaya kita diberi umur yg panjang  yg mana dg panjangnya umur kita itu akan kita pergunakan utk beribadah kpd Alloh Ta’ala. Dan P. Sya’ban berada di desa kita ini  sdh 14 hari. Beliau disini menggantikan P. Rojab yg sekarang sdh pulang. Oleh sebab itu bagi bapak2  atau ibu2 yg ingin bertanya seputar kedatangan P. Romadhon di desa kita tdk berapa lama lagi dan kegiatan2 yang ada selama kehadliran P. Romadhon di desa kita nanti, kami persilahkan mengajukan pertanyaannya kepada P. Sya’ban. Insya Alloh beliau akan menjawab semua pertanyaan yg diajukan.” Kata P. Imam memberikan informasi dan arahan kpd para peserta yg hadlir disitu. Kemudian P. Imam mengarahkan pandangannya ke seluruh ruangan utk melihat brgkl ada yg mau mengajukan usul atau pertanyaan. Akhirnya ada salah seorang yg mengangkat tangannya sbg tanda ada sesuatu yg akan disampaikan. “Silahkan, pak. Tolong jangan lupa sebutkan nama.” Tunjuk P. Imam kpd org tsb. “Terima kasih, nama saya Thobat, sblm sy mengajukan pertanyaan kepada P. Sya’ban, mlm ini kita tlh menyaksikan bhw ada P. Jasmani yg berkenan hadlir disini, mk marilah kita sambut beliau dg suka cita .” kata P. Thobat yg kmd disambut riuh dg tepukan tangan org2 yg ada diruangan itu. Ada yg sui2, ada yg lonjak2 saking semangatnya, ada juga yg Cuma manggut2 sj, yg pd intinya  senang dengan kedatangan P. Jasmani disitu yg juga membuat P. Jasmani salah tingkah sekaligus terharu.

“Benar2  berhati mulia teman2 pengajianmu itu dik.” Sanjung P. Jasmani dg linangan air mata. Terlebih terhadap  P. Thobat. Padahal selama ini dia selalu mencaci, mencela setiap bertemu dgnya. Tapi malam ini P. Jasmani tlh membuktikan sendiri kemuliaan hati P. Thobat yg menganggap seperti tdk pernah terjadi apa2. Setelah berkata dmk, kmd P. Thobat baru mengajukan pertanyaan kpd P. Sya’ban : “ Kepada P. Sya’ban yg sy muliakan, sy ingin bertanya kira2 kapan pastinya P. Romadhon datang ke desa ini.” Tny P. Thobat kpd P. Sya’ban. “Terima kasih atas perhatian org2 spt sdr inilah yg paling disukai oleh kakaku Romadhon. Jd menjawab pertanyaan kapan pastinya P. Romadhon datang ke desa ini, nanti kita menunggu proyek rukiyah selesai. Makanya saat ini sedang dikebut pengerjaannya agar supaya cepat sempurna proyek rukiyahnya. Jika sdh selesai, maka saat itulah kakakku P. Romadhon datang ke desa ini, diperkirakan ya sekitar 15 hari lagi.” Jawab P. Sya’ban secara rinci. “Bgmn P. Thobat, apa sdh jelas penjelasan dr P. Sya’ban tadi ?” sela P. Imam selaku pemimpin acara. “Alhamdulillah sdh jelas, pak.” Jwb P. Thobat. “Baiklah jika begitu, ada lagi yg ingin bertanya ?”kata P. Imam memberi kesempatan kpd yg lainnya, dan ternyata ada org yg mengangkat tangannya : “Silahkan, pak.” Kata P. Imam mempersilahkan. “Terima kasih, nama sy Suka Ganjaran, ingin bertanya kpd P. Sya’ban, kira2 nanti kegiatan apa sj yg akan dilakukan P. Romadhon di desa ini, dan keuntungan apa yg sy dapat kalau mengikuti program2 yg diarahkan oleh P. Romadhon ? Sementara itu dulu pertanyaan sy dan terima kasih.” Kata P. Suka Ganjaran yg lebih memikirkan imbalan. “Terima kasih atas perhatian P. Suka Ganjaran. Disini sy akan menjelaskan pertanyaan P. Suka Ganjaran dan jawabannya juga sy tujukan kpd semua yg hadlir. Begini bpk2 dan ibu2, kakak sy Romadhon kebetulan dipercaya oleh pemilik perusahaan PT. Jagad Raya utk membantu masyarakat desa sini. Itupun bagi mereka yg mau dibantu. Tapi kalau tdk mau dibantu ya tdk apa2. Adapun bantuan yg ditawarkan  kakak sy itu adlh dari segi hikmah dan manfaat dibagi 2 tahap, yaitu :

Tahap I.

Dalam melaksanakan program kakak sy itu, mk masyarakat desa sini dididik agar memperoleh jatah separo dari sabar, spt yg bapak2 dan ibu2 punyai saat ini yi keyaqinan atau yg dinamakan “iman”. Iman itu ibarat benda yg bulat , yg dibagi menjadi 2 bagian , yaitu : 1. Ash Shobru (separo), 2. Asy Syukru (separo).

AL IMAANU NISHFAANI NISHFU FISHSHOBRI WANISHFU FISYSYUKRI.

Jd dg adanya proyek kakak sy P. Romadhon, kalau bpk2 dan ibu2 mau melaksanakan proyek tsb maka bpk2 dan ibu2 akan mendapat separonya shobar atau seperempat dari iman. Krn Iman itu dibagi 2 yi : Separo Shobar dan separonya lagi Syukur. Dan Yg separonya dari iman tadi yi shobar, shobar itu dibagi menjadi 3 bagian , yi :

1. Sabar menerima musibah, 2. sabar utk tho’at, 3. Sabar menjauhi maksiyat. Dan ketiga macam inilah yg merupakan separo dari iman. Sedangkan proyek kakak sy P. Romadhon itu jika bpk2 dan ibu2 kerjakan mk bpk2 dan ibu2 sdh mendapat separonya dari sabar tadi. Atau istilahnya : ASH SHIYAAMU NISHFUSH – SOBRI. Kalau diibaratkan tubuh manusia, sabar itu menduduki kepala.                       ASH SHOBRU MINAL IMAN BIMAN ZILATIR RO’SI  artinya “Sabar itu menduduki kepala”. Adapun iman yg utuh, yg penuh itu dinamakan YAQIEN. WAL YAQIENU AL IMAANU RULLUHU yg artinya : “yaqin itu ialah iman penuh atau keseluruhan”. Jd iman penuh, iman sempurna ialah AL YAQIEN, separoh iman yi sabar dan separuhnya lagi dari iman ialah syukur. Dan sabar itu terbagi menjadi 2 yg terdiri dari ASHSHIYAAM atau puasa. Jd dg menjalankan proyek P. Romadhon yi puasa itu dapat dikatakan sdh menempuh seperempat dari iman atau sdh mendapatkan separuhnya sifat sabar.

Bersambung………..

Comments

comments

Tinggalkan Balasan