(Kisah Rohani) Wejangan Dari Sang Ayah

bapak PENGANTAR
Cerita yg diberi judul : WEJANGAN DARI SANG AYAH ini penuh berisi dengan pelajaran bathin       dan ditulis dan dikemas dlm bentuk cerita shg pembaca tdk bosan dan mudah mencerna. Dmk atas    perhatiannya diucapkan banyak terima kasih.

WEJANGAN DARI SANG AYAH :

Mlm itu hujan rintik2 dan hembusan udara dingin mendorong org utk sgr tdr. Tapi tdk dg anak dan bpk yg duduk di ruang klg.
“pak, tolong dijelaskan tentang macam2 omongan yg kemarin sempat putus saat bapak menerangkan itu.” Pinta sang anak memecah keheningan.
“ya..ya..ya..kemarin mmg bpk menerangkan ttg omongan yg lbh luas dibanding jagad, lbh dlm dibanding samudera, lbh panas dibanding api, lebih tajam dibanding duri dsb. Dan Kamu hrs tahu bhw bentuk omongan itu ada ber macam2 seperti halnya wayang yg bentuknya juga ber macam2. Sebagai contoh :
– Klo omomongan itu ditampilkan dlm bntuk suara namanya Kalamul Ibarat.
– Klo ditampilkan dlm bntuk tulisan namanya Kalamul Maktabat
– Klo ditampilkan dlm bentuk isyarat namanya kalamul Isyaroh ( spt omongannya org bisu). Dan mah banyak lg macam2 bentuk omongan.
Jd omongan itu banyak macam bentuknya spt halnya wayang yg juga banyak macamnya sbgmn yg bpk sebutkan diatas.” Jelas sang Bpk yg sebenarnya bernama P. Syukur sdgkan si anak bernama Sadar.
“kalau bgt wayang yg ber macam2 itu dpt dikatakan juga mewakili macam2 bentuk omongan, pak ? “ tny Sadar memotong penjelasan bpknya.
“Betul, bentuk wayang itu dpt dikatakan perwujudan omongan. Sekarang bpk tanya, wayang rambut geni dan buto terong itu di pajang di kelir apa tdk, nang ?”
“hmmm.. kalau saya perhatikan koq tdk ya pak .”
“kalau memang tdk terus ditaruh dimana ?” msh tny sang bpk.
“kelihatannya msh tetap di dlm kotak, pak.”
“nah, bgt juga dg omongan yg tdk baik, hendaklah disimpan di dalam kotak kita yg namanya hati, jangan dikeluarkan dalam bibir atau kalau dlm bentuk tulisan ya jangan dikeluarkan dlm bentuk tulisan. Krn omongan yg tdk baik itu kalau dikeluarkan dlm bentuk lesan atau tulisan mk akan menyakiti perasaan org lain. Ini diterangkan dlm Al Qur’an Surat Albaqoroh ayat 83 yg artinya : “dan hendaklah kamu berbicara kpd mns dg pembicaraan yg baik.”
Dari ayat itu mk jk ada org yg mengaku iman dan taqwa kpd Allah, mk dia juga hrs menjalani perintah Allah sbgmn ayat tsb, yi setiap omongan atau tulisannya jangan sampai menyakiti perasaan org lain. Kalau sampai itu tdk dilakukan dan setiap omongannya menyakiti perasaan org lain mk dia tlh mengingkar perintah Allah spt yg diterangkan dlm ayat tadi. Dmk juga omongan yg dlm bentuk sikap, klo mengacu pd ayat tsb kita juga hrs bersikap baik thd sesama mns. Krn sikap itu juga bentuk dari omongan. Paham ya, nang ? “
“jika bgt omongan itu mesti hrs lesan ya, pak ?”
“betul, sbg contoh dirimu punya bathin yg ingin menguasai org lain yg jelas” itu tdk benar dan ternyata keinginanmu itu tdk terwujud, mk bathinmu tdk akan ngomong kalau lewat bibir ya dg suara atau tulisan atau sikap. Kalau lewat suara bibirmu akan mengeluh atau mengumpat (bg yg suka mengumpat) atau berkata lainnya. Kalau lewat tulisan kamu akan menulis yg bernada kekesalan atau kekecewaan. Kalau lewat sikap km akan cemberut dsb.” Jelas P. Syukur.
“oh…iya ..sekarang aku paham, pak.”
“tetap terkadang di dalam wayang si Butho Rambut Geni dan Butho Terong itu juga di keluarkan kalau pas ceritanya nyampai gara”. Lanjut p. Syukur.
“terus kaitannya dg mns itu apa ya, pak ?”
“begini, terkadang ada org yg sampai memaki krn gara” org yg ditaksir tdk merespon hasratnya, akhirnya menghasut, memfitnah thd org yg gagal ditaksir itu. Makanya kita boleh dengki ttp jangan dikeluarkan entah dlm bentuk lesan, tulisan atau sikap. Boleh marah ttp jangan dikeluarkan dsb. Nah, sekarang bpk tanya lg. Butho Cakil itu mulutnya panjang apa tidak ?” tutur P. Syukur yg kmd bertanya pd anaknya.
“iya, memang mulutnya Butho Cakil itu panjang. Knp pak ?”
“itu lambang omongan yg tdk terkendali. Org yg tdk bs mengendalikan mongan atau tulisan yg seemua itu perwujudan dr bathinnya itu digambarkan dg bentuk Butho Cakil yg mulutnya panjang tadi. Krn omongan atau tulisan trmsk tulisan dlm dumay ini adalh perwujudan bathin seseorang. Siakap juga perwujudan bathin seseorang. Org yg tdk bs mengontrol mongan itu td dilambangkan dengan butho Cakil. Terus kamu tahu tidak lambang Butho Terong yg berhidung besar itu ?”
“tdk tahu, pak.” Sahut Sadar singkat.
“Butho Terong itu lambang org yg suka nyah nyoh atau dlm bhs Indonesianya mudah jatuh kepada pelukan org yg bukan muhrimnya dan ber ganti”. Selain itu ada juga wayang yg suaranya besar tp kecil pengaruhnya.” Jelas P. Syukur.
“siapa itu, pak ?”
“Lha itu butho. Coba kalau kamu nonton wayang, Butho itu suaranya besar tp kecil pengaruhnya. Dia kalau perang melawan Harjuna dan sesumbar tp akhirnya mati juga ditangan Harjuna. Sebagai cntoh ini :
“Heh Harjuna ! Besarmu hanya sekepal aku untal berikut selendangmu kamu bisa apa ?” jelas P. Syukur sambil menirukan gerakan dalang.
“ha..ha..ha..ha.ha..ha !” anaak dan bapaak pada tertawa bersama.
Akhirnya stlh mejang bathin panjang lebar perihal lambang wayang dan bentuk omongankmd si bpk berpesanpada anaknya.
“mknya km jngn bicara dn bersikap yg tdk baik kpd sesama mns,khususnya kpd org yg lbh tua. Berpikirlah utk kebaikan yg lbh besar dan jangan km campur adukkan kepentingan pribadimu dg kebaikan yg lbh luas jk kamu tdk ingin ketutup. Paham tdk, nang ?”
“paham pak..Oh iya td bpk bilang org yg suka nyah nyoh itu apa ya ?” tny Sadar msh penasaran dg istlah itu.
“ di atas td tlh bpk terangkan kan. Dan utk lbh detailnya km blm saatnya mengingat usiamu blm cukup. Besok km akan tahu sendiri.” Jwb P. Syukur kmd mengalihkan perhatian dg memberi pertanyaan lagi
“kamu tahu tdk, yg dinamakan ratu dlm jajaran kehidupan mns itu, nang ?”
“tdk tahu, pak.”
“yg disebut ratu dlm jajaran hdp mns itu adalah hati,. Coba km perhatikan Dawuh Rosululloh SAW dlm sebuah Hadits yg bunyinya dmk :
Qoola Rosululloh SAW : Alqolbu malikun fadzaa sholahal malku sholahat ro’iyyatuhu wa idzaa fasadal maliku fasadat r’iyyatuhu. Yg artinya bersabda Rosululloh SAW : “hati itu adalah ratu, tatkala bagus ratunya mk baguslah rakyatnya tatkala rusak ratunya maka rusaklah rakyatny.” Jelas si bpk yg kmd berhenti sejenak untuk menyruput secankir kopi yg ada di depannya.
“Berarti tubuh kita ini diibaratkan kerajaan ya, pak ?”
“betul nang. Dn nanti bpk terangkan tentang akal.” Sahut sibpk yg sambil tetap memegangi secangkir kopi.
“kalau hati tlh bpk terangkan ibarat ratu, mk disini bpk akan terangkan ttg akal. Akal itu diibaratkan perdana menteri. Dab berbicara mslh akal atau aqal atau aqli ada suatu kisah :
Pada suatu hr ada Sohabat sowan menghadap Rosululloh SAW yg ketika dtg mengendarai unta. Stlh bertemu beliau, untanya disuruh diikat dn tawakal. Dawuhnya Rosul : A QILHAA WATAWAKKAL yg artinya : ikatlah dab pasrahlah. Masalah tawakal (pasrah) itu bnyk org yg salah mengartikan. Yi yg pd umumnya diartikan bila sdh pasrah tdk usah bekerja. Pdhl arti hadits ini diterangkan bhw utk tawakal (pasrah) itu tdk boleh meninggalkan kerja. AQILHAA WATAWAKKAL artinya ikatlah dn pasrahlah menunjukkan perintah bekerja dan pasrahlah menunjukkan perintah tawakkal itu juga hrs bekerja (tdk boleh meninggalkan kerja). Jd aqal/aqlun/aqli bhs Arab itu artinya mengikat.” Jelas P. Syukur.
“jika akal itu arinya mengikat, trs apa yg diikat itu, pak ?”
“pertanyaan yg bagus. Yg diikat adlh satu kesatuan dari karsa priksa dan rasa yaitu “kersaning bathin” dan “rasaning bathin”. Kalau dlm Alqur’an diistilahkan dengan pendengaran bathin, lessan bathin, dan mata bathin. Ini diterangkan dalam Surat Albaqoroh ayat 171 yg artinya : “tuli, bisu, buta, mk dia tdk berakal” Jd jk mns itu tdk berakal disebut tuli, bisu dan buta. Adapun yg dimaksd dg tdk berakal itu bukan berarti tdk punya akal, melainkan tdk menggunakan akal atau akalnya tdk bs mengikat (tdk bs menggunakan 3 alat bathin seperti : 1. Bathin pendengaran, 2. Bthin penglihatan, 3 kalam bathin (lessan bathin)
Sampai disini kamu sdh paham belum, nang ?”
“paham, pak. Trs sj dilanjutkan, dn kalau gak paham aku akan tanya, pak ?”
“baik jk bgt. Trs akal itu sndr merupakan :
– Cahaya dlm hati
– Tiang bg mns
– Sifat dasar /sifat pokok.
Dan yg membedakan mns dg hewan.” Berhenti sejenak P. Syukur dlm wejangannya dan mata org tua itu menatap tajam ke arah anaknya seolah ingin mengetahui apa anaknya benar2 paham . Kmd melanjutkan lg dg pertanyaan :
“seperti wayang yg ada kaitannya dg masalah2 yg bpk wejangkan, apakah kamu benar2 sdh paham, nang ?” tanya si bapak.
“hmmmm…..apa..ya..oh iya , tolong dijelaskan lg lambang blencong (lampu wayang) dlm hubungannya dg mns, pak ?”
“Baik, sebelum bpk terangkan cb kamu jawab pertanyaan bapak. Blencong itu ketika wayang dimainkan, itu dinyalakan apa dimatikan ?” tny P. Syukur.
“ya dinyalakan, pak.”
“terang apa tdk nyalanya ?” tny P. Syukur lg.
“terang.” Jwb Sadar singkat.
“Nah perlu kamu ketahui bhw lampu atau blencong itu td lambang cahaya hidup. Jd kayon atau gunungan itu ibarat hidupnya. Dan blencongnya diibaratkan cahaya /penerang hidup (nurul hayat). Meskipun ada blencong tp kalau tdk dinyalakan mk sama sj spt tdk ada blencong dan tetap sj tdk ada cahaya. Dan bila tdk ada cahaya ya tdk bs melihat apa2 sebab gelap gulita. Jd blencongnya hrs dihidupkan spy terang dn mns yg hidupnya mendpt cahaya hidup mk hidupnya menjd terang benderang . Dan krn terang benderang itulah shg tahu apa yg ada di depannya, belakangnya, kanannya, kirinya, atasnya dan bawahnya. Tahu mana yg benar dan mana yg salah.. Dan sebaliknya, jk mns tdk mndpt cahaya hidup mk hidupnya akan gelap gulita shg tdk tahu apa yg ada di depan, belakang, kanan, kiri, atas dan bawahnya. Sbgmn diterangkan dlm Alqur’an surat Albaqoroh ayat 17 yg artinya :
“menghilangkan Allah atas cahanya orang2 kafir, cahayanya org2 kafir itu dlm kegelapan. Dan org2 kafir itu sama tdk mengetahui”. Jelas P. Syukur.
“Gelap gulitanya itu seperti apa, pak ?”
‘Kamu tdk kisah cerita tentang Raden Geseng ?” tny P. Syukur balik bertanya.
“Pernah dengar saja tp tdk tahu persisnya.” Jawab sadar.
“Raden Geseng itu salah seorang murid Sunan Bonang. Dan dinamakan Geseng krn tubuhnya gosong. Knp kok gosong ? Itu hanya bhs isyaroh sj. R. Geseng sblm ketemu dg Sunan Bonang, dia adlh org yg suka mengumbar hawa. Membiarkan api nafsunya menyala besar tnp diimbangi dg unsur air shg lupa akan jati dirinya.. Lupa segalanya. Kalau di FB dia lupa bhw omongannya atau yg ia tulis itu bakal dibaca org sejagad. Krn lupa mk dia menulis kalimat2 seenaknya sendiri tnp berpikir bhw ucapan atau tulisannya itu menyakiti perasaan org lain dsb. Dmk juga dg R. Geseng, dia lupa akan segalanya dan akalnya telah terbakar shg menjd hilang akal. Krn hilang akal mk kebagusannya juga hilang. Walau dia ganteng atau cantik setumpuk gunung mahameru kalau hilang akal mk yg tampak ya hanya lubang tikusnya. Kebagusan/kecantikan mns akan hilang. Jd jangan km kira yg bs terbakar itu hanya bagian luar mns sj. Bagian dlm mns pun bs terbakar seperti yg sering diucapkan org : “panas hatiku !” ada juga yg mengatakan :” hatiku terbakar melihat tingkahnya !” ada lagi : “dadaku panas mendengar tantangannya !” dsb. Jd panas itu ada panasnya kulit dan panasnya hati. Dan R. Geseng sblm ktmu S. Bonang, dia blm mendapat sinarnya hidup shg msh dlm kegelapan. Mknya kamu hrs mencri cahaya hidup..” tutur P.Syukur yg kmd berhenti utk minum kopinya.
“ apa sejatinya cahaya hidup itu, pak ?”
“sesungguhnya cahaya hidup itu ada 2 macam, yaitu :
– Cahaya hidup yg asalnya dr dlm
– Cahaya hidup yg asalnya dr luar.
Cahaya hdp yg dr dlm namanya AQAL dan cahaya hidup yg dr luar namanya WAHYU.
Jd aqal sama wahyu itu sama2 cahayanya, bedanya kalau aqal itu cahaya dr dlm dan wahyu itu cahaya dr luar. Dan pertemuan cahaya itu namanya NUR CAHAYA (Sang Hyang Nur Cahyo). Nur itu bhs Arab yg istilah Jawanya Cahyo. Jd Nur Cahyo kalau di Arabkan Nur – Nur dan kalau di Jawakan Cahyo-cahyo. Dan Nur yg banyak itu kalau disalin dlm bhs Arab mnjd ANWAAR yg artinya kumpulan cahaya atau cahaya2. Kalau hny satu cahaya bhs Arabnya Nur. Nur Cahyo = Nur-nur = cahyo-cahyo. Dan diistilahkan dlm Alqur’an dlm surat Nur ayat 35 : NUURUN ALAA NUURIN yg artinya : “cahaya itu di atas cahaya”.
Dan istilah cahayanya hidup , kalau dlm pewayangan digambarkan dengan :
– Sang Hyang Nur Cahyo —— > menimbulkan
– Sang Hyang Nur Roso ——– > menimbulkan
– Sang Hyang wenang, Sang Hyang Wening —— > lalu
– Sang Hyang Tunggal.
Jd dlm pewayangan itu dilambangkan dg kisahnya calon suami istri (calon pasangan hidup) yi yg diawali dg pertemuan 2 cahaya mata yakni cahaya mata dari pengantin kakung (pria) dan cahaya mata dari pengantin putri , lalu cocok.” Tutur P. Syukur berhenti sejenaak krn disela pertanyaan anaknya.
“lho, mata itu apa ada cahayanya, pak ?”
“betul, mata mns itu ada cahaynya. Tp jangan kamu pahami seperti cahaya lampu batre, nang. Stlh pertemuan 2 cahaya mata itu kmd timbul Nur Cahyo, lalu Nur Roso lalu Sang Hyang Wenang, Sang Hyang Wening (kang Nang, Yu Ning) kmd sampailah pd Sang Hyang Tunggal Kaneko Putro..” jelas P. Syukur.
“Lho, kok ada Kaneko Putro ?” tny sadar kembali memotong penjelasan bpknya.
“Benar, krn memang Sang Hyang Tunggal yi Tunggal Kroso lalu punya anak namanya Bethoro Guru (bhkn juga Bethoro Murid). Akan ttp Betoro Guru itu tangannya 4, krn 2 tangannya laki-laki dan 2 tangannya perempuan (isterinya). Kaalau di kehidupan manusia itu adalah serang pejabat kantor tp sang isteri yg tdk jd pegawai ikut mengatur anak buah suaminya, ikut mengatur urusan kantor.” Kata P. Syukur yg dipahami anaknya dg anggukan kepala.
“kok disebut Bethoro Gruru, pak ?” tanya Sadar.
“krn senua pada jd Guru, tdk ada yg mengajar. Coba km lihat lelaki yg jatuh cinta itu hinga menginjak ke perkawinan, kan tdk ada yg mengajari, betul tdk ?”
“ah..bpk itu lho.” Sahut Sadar.
“ kenapa dg bapak, nang ?”
“kok bs saja menjawab.”
“ya harus bisa, org namanya sdh mejang kok tdk mudeng , ya lucu.” Gurau si bapak yg kmd melanjutkan wejangannya.
“kembali kpd persoalan pokok, jd cahaya hidup itu ada 2 macam, cahaya hidup yg dr dalam namanya akal. Dan dr luar namanya wahyu. Dan thd 2 cahaya ini km hrs bs mendapatkannya agar hidupmu bs terang benderang tdk menjd hidup yg gelap gulita. Itulah maknanya blencong (lampu wayang) dlm diri mns. “ tutur P. Syukur.
Malam itu diluar maih terdengar rintikan air hujan. Dan Sadar tlh mendpt wejangan dr bapaknya. Sadar merasakan hatinya seakan berada di gedung megah, dg lampu cahaya yg terang benderang.
“terima kasih, pak.” Kata si anak dalam hati.

TAMAT.

Comments

comments

Tinggalkan Balasan